Ay, lolos!!!
Pesan itu dikirim Sagan dengan jantung berdentam-dentam. Senyumnya terukir. Matanya berkilat penuh harapan. Jarinya gemetar kegirangan.
"Sagan, congratulations!"
"Si paling males ini justru curi start duluan."
"Traktiran bisa, nih."
Sagan tersenyum ketika beberapa teman sekelasnya datang dari ujung koridor. Sebelum berbaur dengan mereka, dilihatnya dulu pesan tadi. Ketika jawaban Arletta tidak kunjung muncul, ia menghampiri teman-temannya. Mungkin Arletta masih repot di depan laptop. Mungkin sinyal transmisi lagi-lagi susah menembus kamar kontrakan.
Salah satu temannya merangkul dan berkata, "Perlu ada perayaan, Gan. Mau dugem di mana? Lo sebut, nanti Kayas yang bayar."
"Jidat bapak lu gua sleding," sahut Kayas.
"Durhaka lo, Kay. Gue yatim."
"Lah, gua yatim piatu."
Mereka terbahak. Sagan masih enggan membuka suara. Matanya bergerak lagi ke ponsel.
"Gan, jangan dugem. Nongkrong saja, yuk."
"Setuju. Dugem mah bosen."
"Cari-cari kesempatan saja lo, Meg, Yu. Itu tangan nggak usah nakal."
"Mumpung pawangnya lagi sibuk jadi pewaris."
Sagan punya beberapa teman. Bukan cuma di kelas, tapi juga dari unit kegiatan mahasiswa. Pamornya sebagai anak band membuatnya mulus dalam bersosialisasi. Tapi meski begitu, tetap Kayas yang paling dekat. Cuma dia yang tahu alasan Arletta cuti. Orang lain tahunya teman mereka yang kaku itu sedang ditatar untuk meneruskan perusahaan orang tua.
"Sorry, Guys. Gue mesti balik."
Teman-temannya berseru kecewa ketika Sagan bicara. Terhadap Kayas, ia memberi isyarat. Si gondrong mengangguk takzim. Hapal sekali sahabatnya mau cepat-cepat ketemu Ayang.
"Sagan ditungguin bokapnya. Kalau kelamaan bisa berubah jadi mermaid, loh." Kayas merangkul Sagan sok asyik. Ia juga menariknya dari kerumunan.
Sagan berjalan sambil dadah-dadah. Keluar dari gedung, ia langsung menambah kecepatan. Tidak lupa ia berterima kasih pada Kayas sambil membalas acungan jari tengah sahabatnya.
"Ay." Sagan memanggil-manggil Arletta setelah sampai di kontrakan. Karena tidak ada jawaban, ia bergegas ke kamar. Tidak nampak juga kekasihnya di tempat tidur.
"Ay?" panggil Sagan lagi. Kali ini sambil memasuki dapur.
Sagan tertegun. Jantungnya seperti berhenti berdetak. Hanya sekian detik, dunianya terbalik tiba-tiba. Arletta tidak sadarkan diri. Tergeletak di sebelah pintu kamar mandi.
*
*
*
"Aku cuma kecapekan, Ay. Nggak ada yang perlu dikhawatirin."
Tidak. Keadaannya tidak sesimpel itu. Sagan menatap Arletta dengan merana. Hatinya berdenyut nyeri. Kalau bisa melampiaskan rasa sakit, ingin sekali ia menumbuk kepalanya sendiri.
"Astaga, Ay. Jangan tatap aku kayak gitu!"
Arletta memang nampak lebih baik dari siang tadi. Meski begitu, pucat dan memar di jidat tetap membekas di wajahnya. Dokter bilang Arletta kecapean, persis seperti yang dikatakan perempuan itu. Tapi masalahnya bukan cuma kelelahan. Dia dan bayinya kekurangan gizi.
"Mulai sekarang, kamu istirahat saja, ya," kata Sagan. Rasa bersalah terlukis di matanya. "Aku nggak akan bisa maafin diriku sendiri kalau kejadian ini terulang," sambungnya. Masih ngeri kalau ingat pemandangan beberapa jam lalu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kaus Kaki yang Hilang
RomansaBagi Malvi, menjalani hubungan dengan Sagan bukanlah sesuatu yang mudah. Lelaki itu bukan cuma sudah punya anak, Malvi pun merasa kekasihnya itu belum menyelesaikan masa lalunya. Setiap hari dirinya mengumpulkan alasan untuk mempertahankan hubungan...
