Prasangka

1.5K 264 54
                                        

"Kalau memang butuh waktu, bilang. Jangan cuma ngehindar."

Sagan bergeming ketika Kayas bicara. Ini bukan pembicaraan yang direncanakan. Sagan yang selalu datang paling pagi terkejut karena Kayas muncul dengan wajah serius.

Nyaris seminggu Sagan dan Malvi tidak bicara. Dalam hal pekerjaan, mereka memakai orang lain untuk dijadikan media komunikasi. Chelsea bahkan sudah mengoceh karena merasa jadi Hedwig ——burung hantunya Harry Potter—— saat harus menyampaikan pesan. Para pegawai awalnya tidak menyadari. Tapi saat ada satu mulut ember yang berbicara, barulah mereka saling mengiakan bahwa dua sejoli itu sedang punya masalah.

"Masalah kalian nggak akan selesai kalau cuma diam-diaman."

Sagan tetap mengatupkan rahang.

"Kalau lo kesal sama dia, coba lo ingat-ingat lagi kebaikan dia sama ortunya selama ini."

Sagan mengembus napas. Ia yakin Kayas baru bisa berhenti setelah ucapannya diiyakan.

"Noh, anaknya datang." Kayas menyambung. "Hari ini mesti baikan, ya."

Kayas beringsut dari kursi. Sagan diam sambil menyaksikan Malvi yang baru tiba di pintu depan. Gadis itu terlihat repot dengan beberapa barang di tangan. Setelah mengatur napas sedemikian rupa, Sagan berdiri dari kursi kemudian menghampirinya.

*
*
*

"Mas nggak seharusnya bersikap kotor, Na," kata Sagan. "Maaf, ya."

Malvi diam menyimak. Kejadian beberapa saat lalu benar-benar di luar prediksi. Ia sedang repot membawa bawaan yang diminta Kayas (bilangnya untuk video promosi), tahu-tahu Sagan muncul di depan pintu. Tanpa bicara ia langsung meraih tumpukan di tangan Malvi dan bertanya mau dibawa ke mana. Malvi menjawab sesuai perintah Kayas, bahwa barang-barang tersebut harus ditaruh di podium tempat manggung The Kevik.

Setelah bawaannya ditaruh, Malvi memberanikan diri untuk mengajaknya sarapan, kebetulan ia membuat roti lapis. Rasa khawatir sempat menguasai hati, takut Sagan menolak seperti yang lalu-lalu. Tapi tidak disangka, justru ajakan itu disetujui.

"Yang kita lakuin hari itu belum terlalu jauh. Mas. Jangan diratapi lagi."

Sagan menggeleng.

Malvi mengembus napas kemudian mengusap-usap punggung tangan. Benaknya bertanya-tanya, sebesar apa penyesalan Mas Sagan? Kenapa dia merasa begitu berdosa? Hari itu mereka tidak sampai melakukannya. Cuma bercumbu dan remas sana-sini. Malvi memang terkejut, tidak menyangka seberingas itu Sagan berperan, tapi rasanya penyesalan sang kekasih agak berlebihan.

"Kalau Mas ngerasa bersalah karena perbuatan itu kotor, gimana kalau kita nikah?"

Sagan mematung sepersekian detik sebelum akhirnya mendongak.

"Tapi sampai Mas siap saja. Aku paham Mas perlu waktu."

Sagan menjilat bibir bawah.

"Sekarang yang ada di depan mata adalah roti lapis. Nggak bisa ditunda, Mas harus habisin."

Malvi mencomot satu potong. Didekatkan roti lapis itu ke mulut Sagan.

"Pesawatnya mau masuk, Mas Sayang. Buka mulutnya. Aaa."

Sagan tersenyum singkat, kemudian mengambil roti di tangan Malvi. Seperti biasa, begitu racikan kekasihnya masuk mulut, ia akan langsung memuji dalam hati. Paling enak sejagat raya!

"Mumpung kita sudah baikan, aku mau nyampein sesuatu."

Sagan menjawab dengan pipi gembul sebelah, "Apa?"

Malvi bangkit dari kursi, bergegas ke ruangan di sudut. Tidak sampai satu menit ia kembali dengan secarik undangan.

"Trisha nikah minggu ini. Mas harus temenin aku."

Kaus Kaki yang HilangCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang