Si Panah Runcing

1.5K 242 61
                                        

"Baru masuk sudah bikin pusing. Revisi ini, revisi itu. Ngajak meeting malam pula."

"Lah, lu masih mending. Lihat Pak Budi sama Koh Agung. Diminta rekap data selama dia nggak masuk. Harus beres besok pagi."

"Habis kecelakaan bukannya tobat, malah makin gila si Panah Runcing."

Aturan pertama menjadi budak korporat: jangan bergosip di toilet! Walau sudah menggunakan panggilan rahasia, jangan sekali-sekali mengeluhkan pekerjaan di toilet, apalagi jika ada satu bilik tertutup. Bisa jadi tempat tersebut didiami "ember bocor" bahkan subjek gosip.

"Kalau meeting nanti kena lagi, fix bakalan resign, sih. Capek banget ngadepin bos gila kayak Bu Lett-- si Panah Runcing."

Arletta bisa saja keluar dari bilik toilet lalu menemui para karyawati yang makin gencar mengeluhkan kehadirannya. Tapi demi menjaga harga diri, ia memilih diam untuk beberapa menit.

Ndoro, Nona Muda, Malaikat Maut, dan masih banyak lagi panggilan yang disematkan untuk Arletta. Yang terbaru adalah si Panah Runcing. Merujuk pada namanya, Arbaletta, senjata perang yang bentuknya perpaduan antara senapan (di bagian bidik) dan panah (di bagian peluru).

Arletta dibenci hampir semua bawahan. Sebagai bos, sekaligus calon pewaris Kanara Grup, banyak yang tidak suka padanya. Kalau bukan karena kebutuhan, rasanya mereka tidak sudi bekerja dengannya. Tiap hari ada saja tingkahnya.

"Sebelum ngirim dicek dulu nggak, sih? Ini lebar tabelnya nggak sama. Nggak enak dibaca. Kenapa juga font tulisannya beda?"

...

"Profesional dikit kalau kerja. Kamu itu dibayar bukan untuk jadi operator, yang cuma nerusin e-mail. Dianalisis dulu, dong."

...

"Pokoknya nggak boleh ada yang pulang sampai ini selesai!"

...

"Bisa selesai jam berapa? Sudah satu jam saya nunggu."

...

Kurang lebih seperti itu.

Dan seperti bos pada umumnya, Arletta berpredikat gemilang di mata para petinggi. Datanya lengkap, laporannya rapi, pekerjaannya sempurna. Dia tidak cuma jago showing, tapi juga tahu seluk beluk kerjaan sampai hal detail. Tidak heran kalau sang direktur utama, alias ayahnya, amat memercayakan segalanya pada Arletta. Hanya soal waktu dia bisa menempati tahta tertinggi.

"Anak dirut mah bisanya cuma merintah."

...

"Pasti pulangnya on time terus. Pewaris, kan, bebas."

...

"Bukan cuma pulang, tapi datang juga bakal seenaknya."

...

Awal bergabung dengan Kanara Grup, hampir semua karyawan meragukan Arletta. Si pewaris, si penikmat privilage, si ini, si itu. Tidak ada gunanya Arletta melabrak. Sampai akhirnya mereka lihat sendiri hasil kerjanya, gunjingan itupun berubah.

Karirnya dalam lima tahun ini memang terhitung bombastis. Dua tahun masih staff biasa. Tahun berikutnya naik menjadi asisten manajer. Tahun selanjutnya menjadi manajer. Sekarang posisinya adalah manajer umum, salah satu pilar tertinggi sebelum direktur utama.

Tidak ada lagi yang menyangsikan kemampuannya. Yang ada malah keirian --dari para senior yang karirnya mandek-- dan kekesalan --dari bawahan. Arletta selalu menuntut karyawannya untuk bekerja cepat dan tepat. Tidak ada kata besok. Semua harus sesuai. Karena hal tersebut juga ia dinilai kaku. Working like boss, not leader.

Arletta keluar dari bilik toilet setelah para penggosip lenyap. Ia merapikan rambut dan riasannya, barulah menuju ruangan. Beberapa pegawai masih berseliweran meski jam menunjukkan pukul setengah delapan malam. Satu-dua menyapa sebagai formalitas, tapi Arletta tidak membalas sama sekali.

Arletta memeriksa ponsel setelah tiba di ruangan. Masih ada sepuluh menit sebelum meeting. Ia lantas menyambungkan panggilan video call pada nomor ibunya. Hanya butuh dua dering jaringan sudah tersambung.

"Mommy!"

"Hei, Qwin."

Begitu melihat putrinya di layar ponsel, beban di pundaknya sedikit terlepas. Queenzy Sitra Kanara memang satu-satunya kekuatan yang dimiliki. Kalau bukan karena anak itu, entah jadi apa dirinya sekarang. Mungkin cuma ibu-ibu berdaster, tidak berpendidikan, pengangguran, biang gosip, dan tukang meratapi nasib.

Delapan tahun lalu adalah masa tersulit. Setelah dicampakkan oleh orang yang tidak tahu diri, Arletta harus menata kembali rencananya. Di tahun baru, ia mulai mengejar ketertinggalan kuliah. Ia datang ke kampus cuma untuk menghadiri kelas, selebihnya pulang ke rumah untuk mengurus Qwin. Memasuki ujian dan penyusunan skripsi adalah paling repot. Waktunya tersita banyak, sehingga mau tidak mau ia harus pintar-pintar mengaturnya. Tidak jarang ia harus merevisi skripsi sambil menyusui.

Gosip juga selalu menyertainya di manapun. Saat kembali ke kampus, mulut jahanam yang mengunjingnya merebak bagai jamur di musim hujan. Sayang tidak ada air bekas cucian pel seperti di kontrakan. Arletta ingin sekali menyiramkannya pada mereka.

"Bilangnya cuti kuliah karena ngurusin bisnis keluarga, tahunya bunting."

"Gosip doang, loh."

"Coba lihat baik-baik, posturnya beda banget. Toketnya jadi gede gitu."

Karena Arletta cuma punya dua tangan sementara mulut jahanamnya banyak, ia gunakan dua tangan itu untuk tutup kuping. Sebenarnya sakit sekali menerima kalimat-kalimat itu. Terlebih ia benar-benar tidak punya teman di kampus. Selama ini cuma si keparat --dan Kayas --yang ditempelinya. Begitu putus, hilang sudah satu-satunya relasi yang ia punya.

Keberuntungan yang ia punya adalah orang tua tajir. Nadin dan Sulthan mendukung sepenuhnya. Mereka juga terus membesarkan hati, bahwa Arletta tidak pernah kehilangan, si keparat itulah yang akan menyesal. Karena hal itu pula ia bisa meraih gelar sarjana, bahkan magister sekalian. Ibarat pelari, dia sprint tanpa henti dengan modal suntikan dana orang tuanya. Sampai akhirnya semua makin terkendali, Arletta benar-benar bisa menerima takdir.

Dia memang telah melakukan kesalahan dengan hamil di luar nikah. Hidupnya jadi berantakan. Harga dirinya tercerabut. Kepercayaan pada lawan jenis juga musnah. Tapi dunia belum berakhir. Dia masih punya Qwin, juga orang tua yang menjadi alasannya terus bertahan.

"Mommy pulang jam berapa?" Suara Qwin menyadarkan Arletta. Anak itu menguap sambil menggesek matanya.

"Masih lama. Tidur duluan, ya."

"By the way, when we go to akuarium besar?"

Arletta melirik kalender barulah menjawab. "Next month, okay? Mommy promise."

"Can we go earlier?"

"Please be patient, ya, Sayang."

Qwin terlihat cemberut di antara rasa kantuk yang melanda. "May I go with Papa? I miss him so much."

"No, you can't."

Qwin tidak bicara lagi setelah itu, Arletta ingin sekali mengusap kepalanya. Apalagi wajahnya kelihatan sendu. Garis bibirnya lurus tanpa senyuman. Oh, anak itu memang merindukan ayahnya. Sudah lama sekali mereka tidak bertemu.

"I'm so sleepy. Bye, Mommy."

Sambungan diputus sepihak. Arletta mengembus napas kemudian menyandarkan punggung di kursi. Kalender di meja diliriknya lagi.

Satu bulan nggak terlalu lama, ucapnya dalam hati. Semoga Qwin mau bersabar sedikit lagi. Sebab bagaimanapun, segalanya harus sesuai rencana.

-bersambung

20 November 2023

Kaus Kaki yang HilangCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang