Perubahan

2.2K 288 210
                                        

Qwin sedang mengamati "benda ajaib" di tangannya ketika Arletta duduk. Wanita yang memakai kaos kebesaran itu menaikkan alis. Bertanya dalam hati apa yang dilakukan sang anak.

"Mommy, is it okay if we eat this?"

"Bagian luarnya saja yang gosong, dalamnya masih bisa dimakan."

Qwin mendekatkan benda Ajaib itu ke hadapan pria yang kepalanya masih diperban. "Papa, look! Tempe ini overcooked, kan?"

Sagan tersenyum canggung. Ia sudah tahu apa yang akan terjadi jika Arletta masuk dapur, tapi Qwin terlalu blak-blakan. Arletta sudah berusaha menyajikan sesuatu. Telur mata sapi yang terlalu berminyak. Tempe gosong setipis kartu ATM. Sayur bayam yang tangkai dan serabutnya belum dipisahkan. Sagan bersyukur nasi yang dibuatnya kemarin masih cukup. Kalau tidak, menu ajaib mereka akan ditambah dengan nasi kerikil.

"Qwin, kita bisa telat." Sagan mengusap tangan Qwin di bawah meja. "Jadi, ayo, makan!"

Qwin mulai makan. Walau tidak berselera, anak itu tahu ada hal menakjubkan yang harus disyukuri. Tadi, ketika membuka mata, secara mengejutkan Mommy ada di sebelahnya. Dia mengenakan kaos Papa. Memeluk hangat sambil tertidur. Saat menyadari mereka ada di kamar ayahnya, makin giranglah anak itu. Yeay, pergi sekolah bareng Papa dan Mommy!

"Habiskan yang sudah kamu ambil," ucap Arletta ketika Qwin menaruh sendok dan garpu.

"I'm full."

"Nggak, habiskan!"

Qwin mendongak ke samping. Sagan jadi ragu sebab Arletta juga melihat ke arahnya.

"Habisin, ya," Sagan memutuskan. "Papa tungguin."

"Kenyang."

Tidak ada yang menyambut perkataan anak itu. Yang artinya, makanan ajaib di piringnya harus habis. Bahu Qwin merosot. Dengan sangat terpaksa dia memegang kembali sendoknya.

"Mommy, can I ask something?" Qwin bertanya sambil mengunyah. "About the birthday party."

Arletta baru ingat soal pesta. Situasinya belum mendukung. Duh, bisakah Qwin dinego? Ia merasa tidak mungkin merayakan pesta dalam waktu dekat. Kemarin ia ribut besar dengan ayahnya. Sehingga banyak daftar kegiatan yang masuk prioritas daripada perayaan ulang tahun.

"Kita party di sini saja boleh, nggak?"

Arletta tidak langsung menjawab. Ia berencana mengepak barangnya hari ini, supaya besok bisa angkat kaki dari rumah. Kalau harus mengatur acara, ia harus menunda rencana kepindahan.

"Kalau acaranya ditunda ke minggu depan oke nggak?"

Air muka Qwin berubah kaget. "Ulang tahunku kan lusa, not next week!"

"Banyak yang harus Mommy kerjakan, nggak akan sempat, Qwin."

"Tapi Mommy sudah janji!"

Qwin sudah benar-benar tidak berselera. Ia tidak peduli lagi kalau harus dimarahi sang ibu soal makanan. Anak itu bergegas ke kamar dengan langkah dihentak-hentakkan.

Arletta hendak mengejarnya tapi Sagan memberi isyarat bahwa Qwin perlu waktu untuk menenangakan diri.

"Aku berencana pergi dari rumah," kata Arletta dengan bahu merosot. "Secepat mungkin."

"Gara-gara masalah kemarin?"

Arletta mengangguk.

"Papi Mami kamu kasih izin?"

"Aku bukan lagi ABG yang takut diusir!"

Sagan mengatupkan rahang sambil mengangguk. Bisa ia bayangkan, barangkali kemarin terjadi keributan sebelum Arletta menemuinya.

Kaus Kaki yang HilangCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang