Ini masih 9 Desember, tapi badan Arletta sudah minta istirahat.
Entah masuk angin, salah makan, atau terlalu lelah, badannya kurang enak seharian ini. Awalnya cuma pusing, lama-lama mual. Ia sempat minum obat, namun redanya cuma sebentar. Daripada makin parah, ia memutuskan pulang dijemput supir meski kerjaan masih menumpuk.
Besok anterin Qwin sekolah!
Arletta mengirim pesan itu sambil menyelimuti badan. Sial, sekarang agak menggigil juga kakinya. Semoga saja rasa perih di mata bukan indikasi dirinya demam.
Lima menit berlalu. Tidak ada balasan. Arletta langsung menyambungkan panggilan.
"Hallo, Mbak."
Kening Arletta benar-benar panas. Darahnya menggelegak saat mendengar suara Malvi.
"Kasih hapenya ke yang punya!" titah Arletta sambil duduk di kasur.
"Mas Sagan lagi nggak bisa angkat telepon. Mau tunggu atau titip pesan?"
"Suruh dia telepon balik secepatnya!"
Panggilan diputus sepihak. Walau masih menggigil, entah kenapa ada rasa panas yang kian mendidih. Dada Arletta bertalu keras. Ia ingin membanting sesuatu kalau bisa.
Pintu kamarnya diketuk dari luar. Ada juga panggilan dengan suara pelan.
"Masuk, Sayang."
Kepala Qwin muncul terlebih dahulu. "Mommy, Oma bilang Mommy sakit."
"Cuma pusing." Arletta menarik senyum. "Sini, Sayang."
Qwin menghampiri dengan semangat. Rambutnya yang malam itu dikuncir satu tampak bergoyang mengikuti hentakan kaki. Ia langsung melompat ke kasur begitu tiba.
Qwin berjengit saat kulitnya bersentuhan dengan milik Arletta.
"Badan Mommy panas banget. Fever, ya?"
Arletta menyentuh kening.
"Wait, ya. Aku ambil termometer dulu."
Qwin berlari keluar kamar. Suara semangatnya terdengar meski sudah di lantai bawah. Qwin memang suka memainkan pengukur suhu. Bentuknya yang seperti pistol sering dianggap sebagai senjata. Kalau ada yang sakit ia jadi punya alasan untuk memainkannya lebih lama.
Dering ponsel membuat Arletta terkejut. Ia menyetujui panggilan begitu melihat kontak.
"Hallo, Arba. Ada masalah apa?" Suara Sagan terdengar kering.
"Coba cek chat yang aku kirim."
Lelaki di seberang telepon bergumam tidak jelas. Ketika waktu merangkak tiga detik, suaranya kembali. "Kayaknya nggak bisa. Ada urusan."
"Urusannya lebih penting ketimbang pendidikan anak?"
"Jangan mulai lagi."
"Terus kenapa nggak bisa? Cuma minta anterin, bukan biayain."
Arletta bisa merasakan bentuk usaha Sagan untuk meredam emosi. Ia akui kata-katanya agak kasar. Tapi peduli setan. Kalau bicara dengan si keparat memang tidak bisa lemah lembut.
"Oke, aku antar. Apa lagi?"
"Jemput dari sekolah, anterin les matematika, tungguin sampai selesai, baru pulang."
Langkah Qwin terdengar dari tangga. Tanpa mengetuk pintu, anak itu langsung melompat ke kasur. Termometer diarahkannya ke jidat Arletta.
"Tiga sembilan, Mommy," Qwin menyahut.
Dari telepon genggam terdengar pertanyaan, "Kamu sakit?"
"Mau aku pijat, Mommy? Atau take some medicine?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Kaus Kaki yang Hilang
RomanceBagi Malvi, menjalani hubungan dengan Sagan bukanlah sesuatu yang mudah. Lelaki itu bukan cuma sudah punya anak, Malvi pun merasa kekasihnya itu belum menyelesaikan masa lalunya. Setiap hari dirinya mengumpulkan alasan untuk mempertahankan hubungan...
