Investor

1.4K 262 117
                                        

"Dadah, Papaaa. I love you too. Mmmuah."

Interaksi mereka terpisah saat Sagan melajukan motornya. Sudut bibir lelaki itu terukir sepanjang jalan. Meski ada sedikit masalah dengan Arletta, hari ini masuk kategori baik.

Sagan terus melajukan roda dua. Kebetulan jalanan sudah lebih lengang ketimbang siang. Namun meski begitu, orang-orang dungu tetap ada. Baru 0.0001 detik lampu berubah hijau, mereka sudah menekan klakson.

Di persimpangan berikutnya, Sagan membelokkan motor ke kiri. Ia berencana menemui Malvi. Komunikasi mereka belum berlanjut sejak Qwin memutus jaringan. Rasanya agak sedikit mengganjal kalau langsung pulang. Apalagi status pesan yang dikirim Sagan centang satu terus.

Sagan tiba setengah jam kemudian. Rumah kekasihnya sudah sepi. Cuma petugas keamanan yang menyambut, juga ibu pacarnya yang memeluk hangat.

"Sudah makan belum?" tanya Vika sambil menuntun Sagan ke ruang tamu.

"Masih kenyang, Tante."

"Dibungkus saja kalau gitu. Tante masak kebanyakan."

Sagan menolak tapi tidak digubris. Vika meminta tolong pada ART untuk mewadahi menu makan malam. Juga menyiapkan air minum dan kudapan ringan untuk dihidangkan.

"Malvi sudah tidur dari tadi."

Sagan sebenarnya agak kecewa. Tapi demi menjaga perasaan, ia tetap mempertahankan sunggingan bibir. Ia lanjut berterima kasih pada ART yang muncul dengan air dan beberapa kue.

"Habis dari nikahan Trisha, main seharian sama temen. Pulang-pulang langsung tidur."

Gerakan Sagan yang hendak meraih cangkir terhenti. Nikahan Trisha. Nikahan. Trisha. Ia mematung, mengingat-ingat perkara ini. Seingatnya acara tersebut masih minggu dep—— tidak, hari ini! Hari ini, Bodoh! Sagan menelan ludah dengan susah payah. Tiba-tiba saja ia merasa jantungnya berdebar lebih cepat.

"Tante, saya baru ingat soal nikahan Trisha," ucap Sagan penuh sesal. Niatnya untuk melepas dahaga benar-benar hilang. Rasa bersalah membumbung makin tinggi. Ia mendongak ke lantai dua. Napasnya agak memburu saat membayangkan sekesal apa Malvi ketika tidur.

"Kok, bisa?" Walau nada suaranya biasa saja, Sagan merasa dikuliti hidup-hidup. "Pantesan pas pulang nggak banyak ngomong."

"Maafin saya, Tante."

"Minta maafnya ke Malvi saja." Wanita di hadapan Sagan menghela napas. "Kamu ini ada-ada saja. Pasti ngambek itu Malvi-nya."

Sagan termangu, kepalanya menunduk dalam. Baru kali ini ibu pacarnya menegur. Hatinya berdenyut ditikam sembilu rasa bersalah. Sikap Vika cukup menjelaskan bahwa selama ini Malvi tidak pernah mengadu. Hari ini panas hatinya sudah melampaui ubun-ubun.

*
*
*

Malvi sedang tidak mau menemui Sagan. Skala 1 sampai 10 dalam meteran gue udah muak, posisinya ada di nomor 200.

Ia memasuki The Kevik setelah pamit pada supirnya. Kafe itu gelap dan tidak berpenghuni. Setelah menaruh tas di ruangan, gadis itu bergegas ke dapur dan mempersiapkan bahan pokok untuk diolah. Walau sedang bad mood, Malvi harap racikannya masih bisa diterima.

Malvi sedang mendidihkan saus ketika Sagan muncul. Lelaki itu mendekat, jantung Malvi berdentam-dentam. Tidak dapat dipungkiri, semakin jelas sudut matanya menangkap sosok jangkung itu, semakin bernafsu dia mengaduk isi panci.

"Sayang."

Malvi menyetop ucapan Sagan dengan tangan terangkat. Ia tahu hal ini bakal terjadi. Dan karena tidak mau terjerumus di lubang yang sama, ia sudah mengambil langkah antisipasi.

Kaus Kaki yang HilangCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang