Prolog

9.3K 706 154
                                        

Sagan sedang tidak bisa diajak bicara. Terhitung dua kali lelaki itu menerobos lampu merah. Tangannya cekatan memutar setir. Gas diinjak makin dalam.

Malvi, gadis yang duduk di kursi penumpang, mencengkeram handler ketika mobil yang ditumpanginya meluncur kian dahsyat. Jalanan memang tidak seramai siang hari. Namun, sisa hujan masih membekas. Rintik terjun ria di balik kaca. Embun menjejak di jendela. Genangan air tercecer di beberapa ruas. Kalau begini terus bisa-bisa mereka tiba di rumah sakit sebagai pasien baru, bukan pembesuk.

"Mas, tenang." Malvi akhirnya bersuara. "Semua akan baik-baik saja."

Sagan mendengus. Meski pelan, hati Malvi cukup tercubit. Pikiram buruk yang ditahannya mencuat di benak. Kalau aku yang kenapa-napa, apakah Mas Sagan akan sepanik ini? Pasti tidak. Dia mungkin panik, tapi nggak sampai kehilangan akal. Berbeda jika "dia" yang jadi subjek.

Semesta seperti memvalidasi pikiran buruk Malvi. Begitu roda empat yang mereka tumpangi tiba di tujuan, Sagan langsung keluar dari mobil. Tidak menoleh, apalagi menunggu Malvi. Kaki panjangnya merangsek cepat ke unit gawat darurat. Caranya bertanya pada pihak rumah sakit, kemudian bergeegas di koridor, membuat Malvi sadar. Mereka terpisah terlalu jauh.

"Malvina, ayo, kita nikah."

Ironi. Baru beberapa jam lalu Malvi merasa menjadi pemenang. Sagan mendeklarasikan keseriusan hubungan mereka. Tangannya meremas jemari. Iris hitamnya menyorot lekat-lekat. Benar-benar sempurna! Tapi, lihatlah sekarang, siapa yang disisihkan lagi, lagi, dan lagi?

"Na." Malvi terenyak saat Sagan tegak di hadapannya. "Kenapa nangis?" Ia bahkan baru sadar air matanya merebak.

Sagan kembali ke mobil, meraih tisu di dasbor, kemudian mendongakkan muka Malvi ke arahnya. Caranya menyeka wajah hingga merapikan rambut, membuat perasaan gadis itu jauh lebih tenang. Rasa malu menyeruak, penyesalan menertawakan. Pikiran buruk Malvi tidak sepenuhnya benar. Sagan masih menganggapnya ada. Tidak meninggalkannya demi "dia".

"Gimana keadaan Mbak Letta dan Qwin, Mas?"

Sagan menggeleng, bilang bahwa dia belum sempatmemastikan karena tersadar Malvi ketinggalan. Sekali lagi Malvi merasa malukarena terbuai racun racikannya sendiri. Menurutnya, wajar jika Sagan sepaniktadi. Anak dan mantannya mengalami kecelakaan. Lagipula ia sudah berulang kali dinomorduakan, kenapa yang tadi itu sampai harus menangis?

-bersambung

18 Agustus 2023

Kemarin akun ini ultah yang kedelapan, Bor. Mintol doain yang baik-baik, ya. Hehe

Btw, apa kabar?

Kaus Kaki yang HilangCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang