Angin Segar

1.5K 231 25
                                        

"Kebalik, Mas. Bukan mereka yang follow, tapi kita."

Sagan menaikkan satu alis saat mendengar ucapan Malvi. Gadis berpiama Sinchan itu mengisyaratkan kekasihnya untuk mendekat supaya bisa melihat layar pipih di tangannya. Begitu jarak mereka makin sempit, Sagan sedikit salah fokus. Aroma sabun di kulit Malvi lebih dahsyat dari perkiraan.

"Na, Mas ke kamar mandi bentar, ya."

"Kebiasaan, deh. Aku lagi ngomong, loh."

Tanpa persetujuan, Sagan langsung keluar kamar. Malvi menunggunya hingga sepuluh menit. Seperti yang pernah terjadi beberapa kali, bagian ketiak Sagan kelihatan basah, beberapa helai rambutnya juga lembap. Kalau Malvi tanya habis ngapain pasti jawabannya push up. Membingungkan.

Malvi meneruskan diskusi mereka yang tertunda.

"Orang-orang biasanya suka update status, kan? Kalau kita follow mereka, kita bakal tahu apa yang terjadi di kehidupan mereka."

"Oke, terus?"

"Misal pelanggan kita lagi ulang tahun, atau bahkan mungkin berduka karena ditinggal orang terkasih. Kita bisa kirim mereka bunga dan ucapan. Kasih tanda bahwa itu dari The Kevik."

Setelah dijabarkan begitu barulah Sagan mengangguk paham.

"Nggak usah semua pelanggan, sampel saja. Intinya adalah, ambil hatinya dulu. Dengan sendirinya mereka akan loyal. Sekalipun kompetitor harganya lebih murah, tapi kalau hatinya sudah di The Kevik, mereka nggak akan ke mana-mana."

Anggukan Sagan makin cepat. "Memang hebat pacar Mas ini. Gimana ceritanya kamu bisa mikir sampai ke sana, Na?"

"Selama di rumah, aku cari beberapa seminar online. Terus dapat, deh, soal cara narik kembali pelanggan."

"Bukannya istirahat malah mikirin The Kevik. Pantesan kakinya nggak sembuh-sembuh."

Malvi nyengir sedangkan Sagan cemberut.

"Anaknya siapa, sih, kamu? Kok, pintar banget?"

"Anaknya Bapak Kemal dan Ibu Vika!"

Sagan terkekeh kemudian mengacak pelan rambut Malvi. Gadis itu menyahut protes ketika jumputan hitamnya berantakan. Balas dendam, ia mencubit kedua pipi Sagan. Melebarkan tarikan sampai kekasihnya nyengir maksimal bersama gigi rapi-putih-sehatnya. Tidak ada yang memisahkan acak rambut dan cubit-cubitan itu. Cuma mereka yang ada di kamar. Ayah ibunya Malvi di bawah. Asisten rumah tangga juga sibuk di sana.

"Cukup-cukup, Mas nyerah." Sagan mengangkat kedua tangan. Pipinya merah karena dicubit kuat-kuat. "Eh, ada yang harus pulang, nih."

"Makan dulu, ya."

"Mas Makan di kos saja, Na."

Sagan beringsut dari kasur, gadis berpiama Sinchan ikut beringsut. Kaki Malvi sudah jauh membaik. Ia bisa bergerak lebih leluasa. Rencananya besok bisa kembali ke kafe.

Sebelum Sagan tiba di pintu, orang tua Malvi muncul. Keduanya menghampiri mereka.

"Makan dulu, ya. Itu makanan yang Tante bikin kebanyakan."

"Iya, Gan. Sayang kalau nggak dihabisin malam ini."

Sagan melirik Malvi, gadis itu mengangkat bahu. Kan?

Sagan akhirnya menuruti ucapan sepasang manusia di hadapannya. Walau niat awalnya hanya menjenguk sang kekasih, tapi kalau sudah diajak begini apa boleh buat. Jujur saja Sagan masih malu untuk menghadap orang tua Malvi. Pembahasan lamaran belum dilanjutkan karena satu-dua alasan, tapi mereka tetap bersikap baik.

Kaus Kaki yang HilangCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang