Berbeda

1.5K 255 72
                                        

"Sudah Chelsea bilang dari kapan hari, putusin saja cewek kayak gitu!"

"Gua diam, ah. Kagak ikut-ikutan."

"Nasihatin dulu, Bang Kay. Biar si susu mikir. Bucin sih bucin, tapi jangan tolol."

Obrolan malam itu berlangsung seru. One Way ——tanpa Sagan—— sedang berbincang di salah satu meja. Ketiganya membahas masalah romansa sang bassist yang di ujung tanduk. Berbeda dari dua personil yang nyap-nyap tanpa henti, pihak yang jadi bulan-bulanan hanya cemberut sambil memangku dagu.

Malvi duduk di meja sebelah, sibuk memeriksa jumlah pesanan hari ini. Meski kelihatannya fokus, kupingnya tetap bisa menerima informasi dengan baik. Saat Chelsea bilang soal putus, Malvi tergoda untuk menyimak lebih dalam.

"Gue sayang sama dia."

Malvi cukup mengerti perasaan Mylo. Orang mungkin hanya bisa menghakimi, bahwa buciners adalah manusia tolol selain oknum DPR. Bagi pelaku budak cinta, lepas dari orang yang disayangi sama sulitnya dengan berenang di lumpur isap.

Malvi juga begitu terhadap Sagan. Dengan segala aiueo-nya, ia tidak bisa berpisah begitu saja. Teman-temannya bilang ia pantas mendapat yang lebih baik. Tapi ia merasa tidak mungkin.

Hati Malvi berdenyut, teringat ini hari ketiga sejak kejadian nonton film. Setelah meminta maaf berkali-kali, Sagan izin pulang. Malvi mencoba membesarkan hatinya dengan bilang ini salahnya juga. Tapi kekasihnya itu tetap menggeleng frustrasi.

Lebih buruk lagi, setelah itu Sagan seperti menghindar. Tidak membalas pesan maupun panggilan. Di kafe juga sama. Sagan menghindari kontak mata, juga mencari cara agar mereka tidak ngobrol langsung. Orang tua Malvi belum sadar bahwa anak mereka galau karena romansa. Mereka tahunya Sagan sibuk makanya tidak pernah antar-jempu.

Malvi berpikir jauh soal kejadian hari itu. Jangan-jangan Sagan jadi jijik padanya, menganggap dirinya terlalu agresif. Oh, sial! Harusnya Malvi tetap di zona nyaman. Bukan malah memancing-mancing hanya karena penasaran. Malvi malu sendiri atas tindakannya. Ia semakin terperosok dalam penyesalan karena Sagan yang meminta maaf duluan.

"Iya nggak, Mbak?"

Malvi mengangkat wajah dari tab ketika tiba-tiba ditanya. "Hah?"

"Ini, Mbak. Si susu bodoh banget. Ceweknya selingkuh tapi dia nggak mau putus." Chelsea mengusap wajah frustrasi. Gadis paling muda itu geleng-geleng kepala kemudian melanjutkan, "Pertama, beda agama. Kedua, selingkuh. Entah apa yang dia pikirin."

"Chel, bisa direm dulu ngocehnya?" Kayas bersuara. "Kasihan si susu. Sudah diselingkuhi, sekarang mesti dengar omelan lu."

"Bodo, ah. Chelsea gini karena sayang." Sadar ada satu kata yang memancing kernyitan dahi, cewek sipit itu langsung menambahkan. "Sayang sebagai rekan satu band. Eh, Bang Kay nggak usah mikir macam-macam, ya!"

Kayas menaikturunkan alis. "Kayaknya ada yang salah tingkah."

"Apa, sih? Chelsea nggak salah tingkah. Eh, Mylo! Nggak usah gitu mukanya."

Kekusutan di wajah Mylo berkurang. Terlebih tampang Chelsea agak memerah. Walau sekuat tenaga menukas tuduhan, Malvi merasa yang dibilang Kayas ada benarnya. Dua sejoli itu memang ribut terus sejak pertama kenal, tapi di balik itu kelihatan saling peduli.

"Sudah jam segini, Chelsea balik duluan, ya." Belia itu beringsut.

"Gue juga cabut, deh," sela Mylo yang ikut berdiri.

"Cie cie mau pulang bareng."

"Bang Kay, bisa diam nggak?" Chelsea menyahut. "Sudah, ah. Bye semuaaa."

Kaus Kaki yang HilangCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang