Tuduhan

4.9K 497 153
                                        

Plakkk!

Hal pertama yang menyambut kedatangan mereka adalah tamparan di pipi Sagan. Pertemuan antar kulit itu begitu nyaring, sampai-sampai semua orang hanya bisa tertegun.

"Kamu——" Tangan si penampar terangkat. Kali ini Malvi dan beberapa orang lebih gesit. Mereka menjeda serangan berikutnya dengan memegangi pihak masing-masing

"Pi, sabar! Ini masih di rumah sakit," kata wanita paruh baya.

"Biar kubunuh sekalian si sampah ini. Lepas, Mi!"

"Om." Pemuda berseragam polisi menekan pergerakan. "Kita bisa diusir kalau ribut begini."

Alih-alih berhenti, pria yang marah itu makin memelotot. Bola matanya siap loncat dari rongga. Alisnya bergerak ke pusat. Napasnya memburu.

Bagi Sulthan, pria yang sedang marah itu, Sagan hanyalah sampah. Lelaki rendahan tidak tahu diri. Berandalan tanpa masa depan. Parasit pembawa penyakit. Perusak masa depan!

Kebenciannya tertanam sejak si sampah ini menghamili putri semata wayangnya. Meski Sagan mempersembahkan tujuh bumi dan seisinya, kebenciannya tidak akan luntur. Kalau membunuh adalah sesuatu yang legal, kepala Sagan pasti dipajangnya di kamar sebagai bentuk kepuasan.

Firasatnya sebagai ayah memang tidak meleset. Ketika putrinya mengenalkan pemuda serampangan itu, ia tahu kesuraman ada di belakangnya. Sudah tidak punya otak, kerjanya cuma jadi benalu. Lihat nasibnya sekarang! Di saat pria seusianya berada di puncak karir, dia masih luntang-lantung dan menempeli inang.

"Nggak akan kuampuni!" desis Sulthan. "Kamu akan dipenjara lagi, dasar sampah! Cuih."

Malvi terkejut ketika Sulthan meludahi muka Sagan. Karena Malvi berada di sebelahnya, cipratan saliva itu mengenai pipinya juga. Refleks ia memekik, siap merangsek tapi Sagan menahan pergerakannya.

"Gan, sebaiknya lo pergi." Pemuda berseragam polisi angkat suara.

"Tapi Qwin ——"

Pria berseragam polisi menggeleng. Ia melirik Malvi, mengisyaratkan agar gadis itu menyeret Sagan. Seakan paham, Malvi akhirnya menarik sang kekasih. Menjauhkan mereka dari koridor berisi jutaan harapan untuk keselamatan pasien.

*
*
*

"Qwin baik-baik saja, cuma luka ringan di wajah kiri."

Malvi dan Sagan tidak langsung menjawab. Mereka sedang membersihkan wajah atas cipratan ludah beberapa saat lalu. Marshal, pemuda berseragam polisi, kini mendatangi Malvi dan Sagan di pelataran parkir.

"Arba gimana?" tanya Sagan seraya mengusapkan tisu ke hidungnya.

"Luka parah, sekarang masih ditangani secara darurat."

Sagan menekan lipatan tisu dengan jengkel. "Apa penyebab kecelakaannya, Shal? Kenapa si Sulthan bilang gue akan dipenjara lagi?"

"Sebaiknya lo siapin diri untuk dimintai keterangan."

"Kenapa?" Malvi mewakili keheranan Sagan.

Malvi mendapat dongakan wajah dari Marshal. Mereka tidak saling kenal, tapi untuk suatu alasan, ia tidak nyaman ditatap begini. Rasanya seperti diberi tanda bahwa hal buruk akan datang.

"Anda Malvina?"

Malvi mengangguk kaku.

"Itu artinya bukan cuma Sagan, tapi Anda juga," kata Marshal. "Om Sulthan naikin kasus ini, langsung minta dibikin laporan."

"Laporan?" Nada suara Sagan naik. "Atas dasar apa dia nuduh gue sama Malvi?"

Pemuda berseragam polisi itu tidak langsung menjawab. Malvi bisa menerka dirinya sedang mengatur tata bahasa.

"Gan, lo yang terakhir pakai mobilnya Letta. Dan Mbak Malvina, ada catatan bahwa Anda menghubungi sepupu saya lima menit sebelum kecelakaan."

Malvi merasa resah, terutama saat Sagan menoleh, seolah menagih penjelasan soal telepon terakhir. Malvi mengangguk sebagai jawaban. Nanti kujelaskan, begitu maksudnya.

"Besok tim saya akan menghubungi kalian. Mohonkerjasamanya. Selamat malam."

-bersambung

21 Agustus 2023

Weekly updatenya hari Senin, ya. Biar kalian yang Monday Haters senang sikit. Nanti kalau lancar, moga-moga bisa update 2-3 kali seminggu.

Btw, kalian lebih suka update sering tapi partnya pendek-pendek?

Atau part panjang tapi cuma update seminggu sekali?

Yang jawab terserah semoga kalendermu hitam semua.

Kaus Kaki yang HilangCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang