"Jadi, kapan Mommy wake up? Aku mau hug Mommy, Pa."
Sagan tidak tahu jawabannya tapi bibirnya tetap berkata, "Sebentar lagi. Qwin sama Papa dulu, ya."
Anak kecil berambut sebahu itu cemberut. Wajah kirinya masih menyisakan luka, terutama di bawah mata. Bercak merah berbaur dengan lebam keunguan. Sagan meringis saat melihat luka itu pertama kali. Walau kata dokter lukanya sudah lebih kempes, ia tetap tidak tega. Queenzy, putri yang disayanginya, tidak boleh terluka sedikitpun.
Saat ini 62 jam sejak kecelakaan. Sagan kegirangan ketika Sulthan menitahnya datang ke rumah sakit. Rupanya Qwin yang meminta. Anak itu merengek ingin ketemu Papa. Ketika keinginannya tidak kunjung dipenuhi, dia tidak mau makan, tidur, minum obat, bahkan mandi.
"Apa Mommy okay?" Qwin bertanya dengan nada senewen. Matanya memencarkan kesedihan mendalam, yang membuat Sagan berani mempertaruhkan segalanya untuk menghilangkan gelora kesenduan itu.
"Mommy oke, Bayik. Kit——"
"Don't call me Bayik. I'm Qwin. Queenzy Sitra Kanara. Not Bayik."
Biasanya Sagan kesal kalau anaknya bilang begitu. Tapi sekarang ia justru terhibur. Saat mendengar berita kecelakaan dari Marshal, Sagan benar-benar hilang kendali. Takut kehilangan putri tercintanya. Ia merasa tidak bisa memaafkan dirinya jika hari itu merupakan perjumpaan terakhir mereka. Terlalu banyak yang Sagan lewati di masa pertumbuhan anaknya, penebusan dosanya masih belum cukup.
"Oke, Papa revisi," kata Sagan sambil tersenyum. Bibir merah tipisnya tertarik ke sudut. "Mommy oke, Bayik, eh, Qwin."
Walau mereka sudah bertemu sejak tiga tahun lalu, Sagan masih belum terbiasa ——bahkan menerima——jika nama anaknya adalah Qwin. Queenzy Sitra Kanara. Dibilang benci sepertinya terlalu kasar, tapi dikatakan suka juga tidak. Qwin? Nama apa itu? Kenapa Arletta menamainya Queenzy? Terdengar terlalu tinggi, sulit digapai, tersohor yang berlebihan. Tapi sekali lagi, Sagan tidak punya hak untuk protes.
Sejak menjadikan Arletta single mother, Sagan cukup tahu diri. Boleh bertemu saja sudah untung. Walau dengan batasan ketat, waktu yang terbatas, seribu ocehan, bahkan tatapan benci, Sagan bisa menerima. Baginya, ia memang pantas mendapatkan itu.
"Qwin, it's time to lunch. Say goodbye to him."
Ucapan itu membuat Qwin dan Sagan menoleh ke daun pintu. Nadin, neneknya Qwin muncul bersama tiga wanita. Satu berseragam perawat, sementara dua lainnya memakai pakaian pengasuh. Troli berisi makanan, obat, dan boneka my little pony ikut menyemarakkan kehadiran.
"No, Oma. Papa stay sampai Mommy wake up."
"This hospital has limited access for stranger."
"Papa is not stranger!"
"Only family can be here."
"Pokoknya Papa must stay sampai Mommy wake up!"
Qwin cemberut, tangannya terlipat di dada. Nadin mengembus napas berat, tatapannya jengkel. Sagan beserta satu perawat dan dua pengasuh cuma diam menyaksikan casciscus barusan.
"Papa," kata Qwin sambil memegang tangan Sagan. "Papa will stay, kan?"
Sagan menelan ludah sehingga jakunnya bergerak pelan. Tentu ia ingin selalu bersama Qwin. Ini seperti kesempatan emas! Selama ini Arletta selalu membatasi perjumpaan mereka. Tapi Sagan merasa jahat jika merasa bahagia ketika keadaan Arletta masih tidak baik.
"Papa, jawab my question!"
"Ya," Sagan mengangguk. Sikap Qwin yang seperti ini duplikat Arletta. Tidak mau dibantah. "Papa akan temani Qwin sampai Mommy bangun."
KAMU SEDANG MEMBACA
Kaus Kaki yang Hilang
RomanceBagi Malvi, menjalani hubungan dengan Sagan bukanlah sesuatu yang mudah. Lelaki itu bukan cuma sudah punya anak, Malvi pun merasa kekasihnya itu belum menyelesaikan masa lalunya. Setiap hari dirinya mengumpulkan alasan untuk mempertahankan hubungan...
