Arletta menelan obatnya dengan cepat. Saking tergesa-gesanya, beberapa mili air sempat jatuh mengenai dagu dan pakaian.
Sambil memejamkan mata, ia mengatur napasnya yang memburu. Empat-tujuh-delapan. Tarik napas 4 detik, hitung sampai 7, lalu embuskan dalam 8 satuan. Empat-tujuh-delapan. Empat-tujuh-delapan. Terus ulangi sampai tubuh terasa rileks.
Dadanya yang bergemuruh mulai tenang. Darahnya berhenti menggelegak. Saraf di sekujur badannya tidak lagi tegang. Ia mengerjapkan mata kemudian beringsut dari kasur. Dilihatnya toples obatnya sekilas, dimasukkannya benda itu ke dalam tas.
Arletta merapikan rambut dan riasan di depan cermin. Sebelum kembali ke pesta anaknya, ia melatih ototnya supaya tidak kaku. Jangan sampai siapapun tahu dirinya hampir runtuh. Aku berharga. Aku cantik. Aku punya karir yang bagus. Omogan Sagan bukan apa-apa! Dia memang sama bodohnya dengan si cewek tolol.
Setelah merasa lebih kuat, Arletta keluar dari kamar. Alisnya terangkat sedikit ketika dilihatnya si cewek tolol celingukan di lantai dua ini. Ngapain? Tanyanya penuh selidik.
Mata mereka bertemu. Ada kelegaan yang memancar di tatapan Malvi. Arletta tidak ambil pusing. Pasti si cewek tolol cuma kesasar.
"Habis dari mana?" Arletta bertanya sambil menginjaki anak tangga.
"Toilet," jawab Malvi kaku. "Yang di lantai satu lagi dipakai orang."
Arletta tidak berkomentar. Kakinya terus melangkah anggun, tapi matanya beberapa kali mengarah pada cewek di sebelahnya. Apa lebihnya dia? Ia berbatin. Mukanya pas-pasan. Penampilannya biasa saja. Otaknya kosong. Pendidikannya cuma di dunia masak. Apa yang dicari Sagan darinya? Astaga, benar-benar downgrade!
Lalu, apa katanya tadi? Menarik di masa-masa terpuruk? Omong kosong! Sagan pasti hanya merasa tidak enak. Dia punya utang budi pada si cewek tolol!
"Mbak," Malvi memanggilnya. Arletta menghentikan langkah di anak tangga kelima. "Gimana rasanya ngejilat ludah sendiri?"
Arletta mengarahkan tubuh supaya bisa saling tatap dengan Malvi.
"Kamu mau ngomong apa?" tanya Arletta tenang.
"Dulu seingatku ada yang bilang Mas Sagan nggak sebaik itu. Lantas kenapa sekarang justru kelihatan nggak mau lepas?"
Arletta tidak menjawab. Tatapan matanya menusuk tapi Malvi tidak terpengaruh. Dua perempuan itu belum bersuara lagi. Mereka cuma diam saling pandang. Suara di antara mereka hanya sayup-sayup hadirin di lantai satu. Perpaduan tawa anak-anak dan obrolan orang dewasa.
"Selama ini saya salah sangka," Arletta memecah kebisuan di antara mereka. "Dia nggak pernah benar-benar ninggalin kami."
"Apa maksudnya?"
"Dulu dia ninggalin saya dan Qwin karena terpaksa. Sekarang saya sudah tahu kebenarannya. Jadi, nggak ada salahnya ngulangin semuanya dari awal."
Kalimat terakhir itu tentu saja bohong. Sagan sudah menolak tawaran Arletta. Tapi apa salahnya mengelabui rival?
"Dia bilang kalian sudah putus," sambung Arletta. "Itu pasti bagian dari rencananya."
Arletta bisa melihat wajah Malvi dijalari marah. Hidungnya mendengus sementara tangannya mulai mengepal. Kilatan benci berkobar di matanya. Kalau bukan karena menjaga sikap, Arletta yakin akan ditendangnya.
Ia meninggalkan Malvi dengan senyum terurai. Haha, satu kosong.
*
*
*
Sagan hendak menghampiri Marshal ketika orang itu sedang berbincang dengan salah satu orang tua murid. Seingat Sagan, itu ayahnya Arsakha. Ia tidak tertarik mengulik alasan Marshal bisa akrab dengan pria itu. Yang diperlukannya adalah berbincang empat mata.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kaus Kaki yang Hilang
RomansaBagi Malvi, menjalani hubungan dengan Sagan bukanlah sesuatu yang mudah. Lelaki itu bukan cuma sudah punya anak, Malvi pun merasa kekasihnya itu belum menyelesaikan masa lalunya. Setiap hari dirinya mengumpulkan alasan untuk mempertahankan hubungan...
