Jemari Victor menggeser agenda dari layar iPad yang berada dalam genggamannya. Ia bersama supir pribadinya Jaxon, Jaxon bukanlah sekedar supir pribadi bagi Victor. Pria ini juga merangkap sebagai sekretaris pribadinya di perusahaan.
"Menurutmu, apa Ruby merasa senang di sana?" kata Victor sedikit mengangkat kepalanya menatap lurus ke depan. Dapat ia lihat dengan jelas ekspresi wajah Jaxon dari pantulan kaca.
Jaxon terlihat mengambil napas lalu sedikit jeda terlihat sedikit berpikir. Ia hanya menebak ekspresi terakhir Nona Ruby, di mana Jaxon yang mengantarnya menuju bandara, ia merasa Ruby tidak ingin pergi meninggalkan kota ini.
"Saya tidak tau pasti apa Nona merasa bahagia. Kapan Tuan bersiap menghubungi Nona?" jawab Jaxon dengan berani menatap mata Victor dari pantulan kaca.
"Tidak, tidak, tidak sekarang Jaxon masih banyak hal yang harus aku selesaikan. Tidak ingin aku membuatnya terbenani dengan memikirkan semuanya, ia harus bahagia dengan lingkungannya saat ini," sahut Victor. Kembali memusatkan perhatiannya pada iPad.
"Apa Tuan berniat menikahi Nona Ruby suatu hari nanti?"
"Tentu! Aku akan menikahinya."
"Lalu bagaimana dengan Nona Charlotte? Bukankah kemarin anda kembali mengatakan akan memberi ia kepastian juga," imbuh Jaxon yang tidak mengerti dengan jalan pikir Victor.
"Aku juga akan menikahinya."
Wanita itu sudah sejak lama ingin menikah dengannya, ia tau bahwa Carly mulai mencoba menghalalkan segala cara agar dirinya kembali. Tidak ada gunanya terus menolak dan memutuskan hubungan, Carly akan semakin gila dan terus menggila. Bayangkan saja, bagaimana Carly tidak gila saat tau ia kehilangan umpan besarnya. Carly memberikannya umpan lalu Victor akan menggigitnya.
"Apa anda masih mencintai Nona Carly? Jaxon kembali mengajukan pertanyaan yang membuat Victor bungkam.
"Lalu di antara keduanya mana yang akan anda pilih Tuan?"
"Keduanya. Aku memilih keduanya, anggap saja aku gila ingin mendapatkan keduanya," sahut Victor dengan cepat. Ia berharap Jaxon tidak lagi menanyakan pertanyaan yang semakin membuat Victor ingin meledak dalam emosi.
****
"Sungguh aku lega Lea. Aku berhasil membuat Victor kembali kepadaku, tidak sia- sia aku melakukan sedikit pengorbanan. Aku tau Victor hanya di butakan nafsu sesaat kepada wanita murahan itu, pada akhirnya ia tetap memilih wanita dewasa, berkelas serta berpendidikan menjalin hubungan setara itu penting," kata Carly menatap pantulan wajahnya di kaca meja rias. Rambutnya berganti warna menjadi sedikit coklat, ia sengaja membuat sentuhan baru agar terlihat lebih baik menyambut kehidupan baru baginya.
"Nona, kau memang yang terbaik," puji pelayan sembari menyisir rambut Carly.
"Menurutmu apa yang harus aku lakukan untuk saat ini? Apa aku harus mendatangi perusahan Victor atau tetap menunggunya mansion?"
"Pilihan berada pada anda Nona," balas pelayan yang tidak berani untuk memberikan saran kepada Carly.
Setelah kepergian pelayan, Carly menyentuh ponsel miliknya ia berharap Victor meninggalkan pesan seperti ucapan selamat pagi atau sapaan apa pun. Tetapi sungguh Victor tidak melakukan hal itu kepadanya lagi, meskipun Victor berjanji kepadanya bahwa pria itu akan menikahinya.
"Tidak, tidak, tidak. Aku tidak boleh berpikir terlalu berlebihan, Victor mungkin saja sedang sibuk dengan pekerjaannya." monolog Carly kembali mengurungkan niatnya untuk menghubungi Victor.
***
"Kau yakin akan pergi dalam keadaan seperti ini?" tanya Elisa. Sebab ia khawatir melihat keadaan Ruby yang terus saja memuntahkan makanan, terlebih lagi wajahnya begitu pucat.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐒𝐄𝐂𝐑𝐄𝐓 𝐁𝐀𝐁𝐘 𝐌𝐑. 𝐁𝐈𝐋𝐋𝐈𝐎𝐍𝐀𝐈𝐑𝐄
Romance⚠️ Konten mengandung hal yang dewasa, brutal dan banyak bahasa yang kasar! CERITA AKAN DI PRIVATE SECARA ACAK JIKA INGIN BACA PART LENGKAP DI HARAPKAN FOLLOW DULU. BALAS BUDI! Begitulah yang terjadi Ruby tak menyangka. Victor Anthony meminta kemba...
