CHAPTER 45

4.4K 107 6
                                        

"Buka pintunya! Sialan argh lepaskan aku dari sini!! I really hate you." Ruby menggedor pintu berkali-kali. Suara keras yang keluar dari tenggorokannya perlahan mulai habis, tapi tak satu pun pelayan datang menyahut. Tubuhnya terduduk jatuh di balik pintu kamar yang luas itu, gemetar hebat. Otaknya masih terus berputar dipenuhi pikiran wajah koki yang tewas— kendati karena sebuah makanan yang tidak ia sukai.

"Kau benar-benar gila," gumamnya lirih.

Sementara itu, di balik pintu, Noah masih berdiri mematung. Ia mendengarkan semua teriakan dan umpatan yang dilontarkan Ruby kepadanya. Kepalanya sedikit menunduk, dengan satu tangan yang menekan dinding. Pikirannya kacau, ia tidak bermaksud memperlihatkan kegilaannya dihadapan wanitanya. Tapi sialnya ia mudah tersulut emosi malam ini, matanya menyala tajam kemudian ia meninju dinding dengan keras—membuat pelayan yang lewat menjauh ketakutan.

Noah menghela napasnya ia frustasi dengan Ruby. "Kenapa kau masih belum mencintaiku, Ruby?" bisiknya penuh rasa kesal.

"Kau milikku. Apa salahnya aku ingin kau kembali seperti dulu, kau yang selalu bersikap manis bahkan tak ragu untuk tertawa didepanku."

Ia memutar tubuhnya, berjalan menjauh dengan langkah berat, namun sebelum benar-benar meninggalkan pintu, Noah berkata pelan namun penuh tekanan. "Besok pagi, kau akan sarapan bersamaku lagi. Aku harap kau tidak bertingkah, dan membuat ulah lagi seperti hari ini. Jangan buat aku melakukan hal yang tak ingin kau lihat lagi."

Malam itu Ruby tidak tidur. Ia hanya duduk di atas ranjang, memeluk lututnya, menatap kosong ke arah jendela yang terkunci rapat. Dalam benaknya, satu-satunya cara keluar dari rumah ini adalah dengan memainkan peran.

Kalau Noah suka saat dia tampak lembut, maka Ruby akan menjadi lembut. Kalau Noah ingin dirinya tersenyum, maka Ruby akan melakukannya—sementara pikirannya bekerja diam-diam mencari celah.

Sedangkan disisi lain Noah juga melakukan hal yang sama. Ia tidak tidur, terus memantau Ruby dari CCTV yang ia tempatkan di kamar wanita itu untuk mengawasinya, sejak Ruby bersikap berani dan melawan dirinya. Noah sangat takut Ruby melakukan hal yang nekat juga, sangat tidak mungkin untuk wanita itu kabur tapi tidak menutup kemungkinan wanita itu melakukan aksi bunuh diri.

"Jika tidak bisa mengunakan cara halus untuk mendapatkan mu. Terpaksa aku harus mengunakan cara kasar, dan setelah itu kau akan membenciku seumur hidupmu. Dan aku juga akan berakhir mati untukmu, sungguh romantis sekali," gumamnya tertawa sumbang.

Tak tahan untuk melihat wajah Ruby yang terlihat ketakutan tapi tidak sedikitpun menangis. Membuat Noah menutup layar laptopnya, ia meneguk berulang kali alkohol yang terus mengisi gelas kaca yang berada pada tangannya. Bibir membentuk garis tipis, tatapannya begitu dalam hingga menimbulkan kerutan tipis. Ia mencoba berpikir keras, agar wanita itu tak ketakutan melihat dirinya. Mungkin besok Ruby akan tetap melihatnya seperti psikopat, monster, bajingan, iblis atau apa pun itu ia tak perduli.

***

07:00 am

Pagi menyambut dengan langit yang mendung, seolah ikut mencerminkan suasana hati Ruby. Di dalam kamar yang luas dan sunyi, ia duduk di depan cermin, menyisir rambutnya perlahan. Wajahnya terlihat tenang, terlalu tenang—seperti topeng yang sengaja dipasang untuk menutupi badai di balik matanya. Pelayan kembali memberitahunya untuk sarapan bersama, entahlah siapa lagi yang akan dikorbankan.

Ia memilih gaun sederhana berwarna pastel, sesuai dengan selera Noah. Tanpa riasan, wajah begitu pucat mata sendunya tidak bisa membohongi bahwa ia tak tidur semalaman tersisa senyum kecil yang dipaksakan.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 16, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

𝐒𝐄𝐂𝐑𝐄𝐓 𝐁𝐀𝐁𝐘 𝐌𝐑. 𝐁𝐈𝐋𝐋𝐈𝐎𝐍𝐀𝐈𝐑𝐄Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang