CHAPTER 42

4.1K 223 73
                                        

Belum lama, ketika kedua insan itu saling melebur dalam gairah yang tak cukup sekali. Berkali- kali bergulat dengan keringat dan desahan yang menggema seisi ruangan, sekarang satu di antara mereka telah menarik napas perlahan. Akan tetapi irisan mata Ruby masih belum pudar menatap raut wajah suaminya yang tertidur lelap, dengan satu tangan pria itu memeluk erat pinggangnya dan satu tangan lagi kini menjadi bantal kepalanya.

Masih mencoba menghapal dan memahami isi kepala Victor. Tapi sungguh tidak ada yang benar- benar bisa mengerti apa yang berada dalam isi kepala pria, dan juga ada yang benar  memahami apa isi hati wanita. Saat menjadi pasangan kita hanya perlu saling menerima dan percaya—meskipun terkadang sulit menyuarakan perasaan masing- masing.

Hingga detik ini, Ruby masih tidak bisa meletakan kepercayaan secara penuh kepada Victor. Sampai kapanpun tidak akan ia gantungkan kepercayaannya kepada pria, Ruby hanya mempersiapkan dirinya akan kemungkinan yang bisa saja terjadi. Ia singkirkan tangan Victor dengan perlahan, sangat teramat bersyukur pria itu tetap tertidur pulas ketika kakinya melangkah dengan suara yang meringis menahan rasa sakit, selangkangannya sangat nyeri seperti kehilangan keperawanan untuk kedua kalinya. 

Bersembunyi tubuh kecil itu di dalam kamar mandi. Menekan pinggiran wastafel, menggeser kaca wastafel untuk mengambil satu botol kaca dengan label vitamin. Satu butir pil putih itu ia telan tanpa meminum air, dokter mengatakan ia bisa mencegah kehamilan dengan meminum pil setidaknya kurang dari 24 jam setelah bercinta. Dan Ruby merahasiakan hal itu dari Victor, setiap malam setelah percintaan yang terjadi antara keduanya. Ruby selalu rutin meminum pil tersebut, dan menyembunyikannya di dalam botol kaca dengan label Vitamin. Ia hanya tak ingin berdebat, dan tak ingin memiliki bayi dengan perasaan yang masih belum siap.

Tidak untuk yang kedua kali ia mengalami hal bodoh yang terjadi dalam hidupnya. Mengandung Rune dengan pikiran kacau, serta stress hampir merenggut nyawanya di ranjang dingin rumah sakit dengan pendarahan hampir delapan jam. Kendati meskipun statusnya saat ini telah berubah menjadi seorang istri tetap saja mengandung dan melahirkan ada pilihan dirinya.

Suara ketukan terdengar, Ruby mengumpat dan buru- buru menghidupkan wastafel membasuh wajahnya. Membuka pintu, matanya menemukan wajah Victor sayu dengan satu tangan yang terangkat menekan dinding.

"Ada apa?" tanyanya dengan khawatir meraup dagu Ruby.

"Apa aku membangunkanmu, umm? Aku lupa memakai skincare," balas Ruby tersenyum kecil mencium telapak tangan Victor yang membelai pipinya.

Victor menggeleng kecil. Ia terbangun karena mimpi buruk, banyak darah di sekitarnya dan ia menemukan Ruby dan Rune berlumuran darah. Sampai saat ini dadanya bergemuruh, ia tersadar dirinya segera bergegas mencari keberadaan Ruby yang meninggalkan ranjang. Sampai ini rasanya tak cukup puas kendati meskipun ia telah melihat wajah istrinya yang dalam keadaan baik- baik saja.

"Apa yang mengganggu pikiranmu?" sambung Ruby menilik dalam mata suaminya yang terlihat aneh—bulir- bulir keringat membanjiri pelipisnya.

"Tidak ada. Ayo kembali ke ranjang, besok akan kita jemput Rune. Kurasa sudah lama kita membiarkan dirinya  bersama paman," balas Victor meraih tangan Ruby lalu membawa kedua tangan itu ke arah pinggangnya. Ia peluk erat tubuh kecil Ruby ke dalam dekapannya, memberi kecupan dalam pada pucuk kepala istrinya.

"Umh, aku rindu Rune. Rasanya gagal menjadi ibu, masih banyak hal yang aku lewatkan," gumam Ruby dalam pelukan erat Victor.

"Tidak... Kau tidak gagal menjadi ibu, buktinya sejak kembalinya dirimu Rune banyak mengalami perkembangan."

***

Pagi ini Carly sudah diperbolehkan untuk pulang. Ia bergegas pergi terburu- buru saat Hiro sedang menyelesaikan berkas rumah sakit, dengan pergelangan tangan yang diperban sangat tebal. Wajah tanpa riasan, bibir pucat mencoba menghentikan taksi.

𝐒𝐄𝐂𝐑𝐄𝐓 𝐁𝐀𝐁𝐘 𝐌𝐑. 𝐁𝐈𝐋𝐋𝐈𝐎𝐍𝐀𝐈𝐑𝐄Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang