CHAPTER 44

3.8K 113 12
                                        

Carly mendatangi klinik kecil yang tepatnya di Brookline, Massachusetts. Klinik yang ia datangi bukan untuk yang pertama kali. Carly melakukan aborsi di sini juga, ia perlu memastikan sekali lagi jika dirinya benar-benar hamil kendati terlintas untuk mengaborsinya lagi di klinik ini.

Ia tutup wajahnya dengan syal hitam rajut. Diam- diam dirinya melarikan dari Hiro, saat pria itu sedang menelpon di ruang kerjanya. Dengan hanya bermodalkan tekat dan beberapa lembar uang yang Carly ambil dari dompet Hiro, akhirnya ia tiba dengan keberanian melewati pintu putih tulang yang terlihat usang. Ada wanita muda sedikit judes di antara meja putih yang membuatnya mengambil langkah mendekat.

"Apa yang anda butuhkan, Nona?"

"Bisakah aku bertemu dengan dokter?"

"Have you made an appointment before?"

"Not yet. But this is very urgent! Bisakah kau membantuku? Aku akan membayarmu mahal," ucap Carly sedikit berbisik menekan meja sebatas perut yang menjadi pembatas antara dirinya dengan perawat itu.

"Sorry, Miss. You must make an appointment at least a week before seeing the doctor."

Mendidih darah Carly menahan kesal dengan pelayanan yang diberikan klinik kecil ini. Ia bisa saja mendatangi rumah sakit ternama, tapi untuk menyingkirkan bayi yang tak ia inginkan ini tak mungkin dirinya melempar malu dengan mengatakan akan mengaborsi saat berapa orang di luar sana mengenali dirinya putri siapa dan istri pengusaha properti.

Tidak ada cara lain selain melepaskan jam Cartier dan cincin diamonds Bulgari yang ia kenakan memberikan kedua benda itu demi membuat janji temu secepat mungkin tanpa membuka mulut.
"You can take both. Let me meet the doctor now!" cetusnya berbisik intens. Mengatup kedua tangannya di atas satu tangan wanita yang terkejut melihat perhiasan mahal yang tak pernah ia sentuh sepanjang hidupnya.

"Miss, I can't. Ini telah menjadi prosedur kami bahwa semua pasien harus membuat appointment," tolak perawat yang dengan berat hati menolak semua benda yang berada ditangannya.

Carly hanya mengangguk dan merampas kembali semua benda itu dari tangan perawat sialan yang taat pada peraturan. Saat ia memutar badannya dan akan melangkah pergi, kakinya segera berbalik kembali lalu berlari masuk menyerobot masuk pasien yang baru di panggil namanya.

"I'm pregnant! Argh perutku sakit biarkan aku masuk menemui dokter," ucapannya sedikit berteriak meremas perutnya.

Akhirnya ia mendapatkan persetujuan dari wanita hamil yang perutnya telah membesar. Carly mengulum bibirnya, ia merasa puas setelah berhasil menipu orang lain, kepalanya terangkat tinggi suara heelsnya kembali berjalan dengan elegan lalu ia duduk tepat di salah tu kursi yang berhadapan dengan meja Dokter.

"Dokter, apa kau mengingatku?" ucapannya pertama kali kepada Dokter yang membantunya melakukan aborsi waktu itu.

"Of course. Apa yang membuat anda kembali kesini, Miss?"

"To do the same thing," balas Carly dengan lantang. Tatapannya terlihat kosong, hanya lurus ke depan tepatnya pada foto bayi prempuan yang digendong oleh dokter.

"Kenapa harus melakukannya lagi? Bukankah sudah aku sampaikan sebelumnya kepadamu, bahwa jika kau melakukan aborsi lagi akan membahayakan dirimu. Kau bisa saja mati karena pendarahan atau selamanya kau tidak akan bisa memiliki keturunan," jelas dokter masih dengan raut wajah yang tenang.

Perasaan Carly saat ini benar- benar campur aduk. Ia bukan takut karena pendarahan, sebelumnya ia juga mengalami pendarahan tapi keinginan merawat bayinya terlintas begitu saja. Jiwa serasa terpanggil untuk ingin tau, apakah bayi yang ia kandung telah memiliki nyawa?

𝐒𝐄𝐂𝐑𝐄𝐓 𝐁𝐀𝐁𝐘 𝐌𝐑. 𝐁𝐈𝐋𝐋𝐈𝐎𝐍𝐀𝐈𝐑𝐄Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang