Netra magenta itu mengerjap berkali-kali,matanya tak bisa beralih dari sebuah danau yang menurutnya sangat asing,dan juga menenangkan.
Dia mendekati danau itu,dan melihat dirinya sendiri,sangat berantakan.mata yang sembab,bibirnya yang terluka karna ulahnya sendiri.dia merenung-memikirkan sesuatu yang kurang menurutnya,tangan satunya beralih merogoh kantongnya.
Tidak ada smartphone,padahal dia ingin menghubungi sesuatu yang penting baginya.
"Apa aku sudah mati?.."semuanya begitu tenang,tapi membuatnya merasa gelisah.sesuatu yang berharga untuknya tidak ada disini,Ness ingin mengambilnya dan tidak mau menanggung.sampai ada seseorang yang berbicara dibelakangnya.
"Untuk apa kesini,Ness?.."suara menginterupsi,dia segera berbalik dan bertanya kepada netra biru yang sangat ness kenali. "Aku masih ingin denganmu!."sedikit menaikannya tetapi kaiser paham apa yang dirasakan oleh ness.
"Dasar keras kepala. Tentu saja aku masih denganmu?" Kaiser tersenyum,mendekati ness yang masih terduduk didekat danau,dia melakukan posisi yang sama dan mengusap pipi lembut,berisi milik ness.
Ness sudah tidak bisa menahannya lagi,air matanya sudah keluar banyak, kaiser begitu lembut untuknya,dia sangat merindukan usapan ini. Disaat dirinya keras kepala, kaiser masih bisa tersenyum lembut untuknya,dan tutur katanya yang tidak pernah membuatnya tertekan, tidak lupa, dia membenarkan beberapa helai surai magenta yang berantakan.
"Jangan berpikir untuk menyusul." Ucap kaiser sekali lagi,sebagai peringatan. Perasaan ness campur aduk, tidak ingin jauh dengan kaiser..atau membuatnya benci sampai kapanpun.
"Aku tidak bisa.."lirih ness.
"Itu sulit kaiser, hidupku sudah berantakan."
"Jadi?,kamu ingin aku membencimu?..",ness terdiam. Tidak akan membantah untuk kali ini,kaisernya benar.dia tidak akan kembali lagi untuknya dan ness tidak akan menyusulnya.
"Kembalilah,ness."
"Tidak..aku tidak mau.."suara yang parau,ness takut untuk hidup sendirian,dia ingin terus bersama kaiser,selamanya.
Tidak,Ness harus kembali.
Tangan dingin itu terus mengelus pipi lembut ness yang basah,ness menangis begitu kaiser masih bisa tersenyum untuknya. "Kenapa kamu,masih bisa senyum?.."
"Padahal sudah jelas aku akan pergi."ness terisak,terasa sesak dan tidak rela setelah mengucap kata pergi.
"Karna aku mencintaimu,Ness."tangan itu bergerak ke surai magenta miliknya,semakin dingin,dan tentu ness tau apa yang akan terjadi dengannya.
Bunga berharganya.
Akan menghilang berterbangan.
Hingga tangan yang awalnya bergenggaman itu terlepas,ness tau,dia tidak akan bisa menggapainya lagi.
Dia ingat semuanya.
Semua bermula ketika mereka kecelakaan,dan hanya ada dirinya yang hidup,ness memutar kepalanya perlahan.
Disebelahnya,ada pasien yang terbungkus selimut,pasien itu sudah meninggal.
Ness sudah mengetahui dibalik selimut itu,air matanya sudah tidak tertahan.
Kenapa?
Kenapa dia tidak ikut mati?
Tidak bisa berkata apapun,selain menangis.
begitu pula sakit karena luka ditubuhnya. takdir memang begitu kejam untuknya, dia tidak akan bisa berkutik apapun.
Lampu yang meneranginya,begitu memburam,menangis dalam diam. Itulah yang terjadi padanya.
Ness berusaha mengejar tangan bertato mawar yang akan menjauhinya,melepas miliknya. Semakin menjauh hingga ness tidak akan pernah bisa menggapainya lagi.
Berulang kali nama itu diteriakkan, tidak ada jawaban lain,selain kata selamat tinggal untuknya.
"Selamat tinggal, nessie."
Ness semakin sesak karna sensasi berat menimpa dadanya, suaranya menghilang ketika dia ingin meneriakkan namanya sekali lagi. Apa itu—kenapa dia tidak bisa mengucap nama yang berharga di hidupnya?, berakhirlah dia menyalahkan dirinya sendiri.
Itu semua karnanya.
Karna dirinya sendiri dia menghilangkan sesuatu yang berharga,hanya untuk kepentingannya sendiri.
"Maaf..maafkan aku,"
Hening, merenungi apa saja yang terjadi, tiba-tiba ada sesuatu yang menusuk dirinya. Seperti sebuah tombak yang ingin menariknya dari sana, dan darah miliknya yang berceceran keluar.
Membuatnya tersadar.
"MAMA!.."
"MAMA!!"
Mata magenta itu terbuka,ness merasakan sesuatu menetes diwajahnya,oh. Dia lupa anaknya sedang menangis.
"Arlen?.."
"Mama udah bangun..."anak kecil itu tersenyum sesaat setelah dia tersadar.
Tunggu,sejak kapan dia memiliki seorang anak?..
Tidak lama, ada seseorang yang menyahut arlen. Mata magenta yang awalnya sayu itu terbuka lebar ketika mendapati orang yang dimimpinya,berdiri didepannya,dengan sekantong plastik berisi makanan.
Dia menatapnya bingung, dan berusaha menyadari,ada yang salah dengannya?..
"Papa,mama tadi tidur sambil nangis."ucap arlen,yang membuat ness semakin bingung.
"Papa?.."potong ness.
"Mama lagi mimpi buruk,arlen."ucap sang ayah dengan senyuman merekah,seolah tidak ada apa-apa. ness yang sudah sadar itu meraba wajah dan lengan milik kaiser.
"Kamu kenapa?"
"Ga ada luka.."gumam ness yang dapat didengar.
"Aku gapapa, kamu aneh banget ness.." ness bisa melihat wajah segar yang dia pandang sekarang,membuatnya bahagia dan memeluknya sekali lagi.
"Aku tau,kamu pasti kembali."ucapnya dengan perasaan terharu.kaiser sendiri hanya bisa diam dan ikut memeluk.
Mimpi buruknya seperti apa?
"Tentu saja,"
KAMU SEDANG MEMBACA
CHILDHOOD! [kainess]
Short Storykode dari seorang alexis ness buat dapetin michael kaiser. Mengandung gula dari dua ekor barudak bastard. Anw,ini cerita acak ya (◠‿・)-☆ Sekali lagi ini ACAK.
![CHILDHOOD! [kainess]](https://img.wattpad.com/cover/336896840-64-k570977.jpg)