⚠️𝙳𝚊𝚛𝚔 𝚁𝚘𝚖𝚊𝚗𝚌𝚎⚠️
𝑾𝒊𝒕𝒉 𝒐𝒓 𝒘𝒊𝒕𝒉𝒐𝒖𝒕 𝒚𝒐𝒖, 𝒕𝒉𝒊𝒔 𝒊𝒔 𝒐𝒖𝒓 𝒃𝒂𝒅 𝒇𝒂𝒕𝒆.
Rezvan Fahreza Raveenzy harus mengkhianati Liona Gisella karena sebuah alasan. Ia mengorbankan perasaannya agar gadis itu tetap hidup dalam cahaya...
Utamakan untuk pencet vote, karena itu sangat berarti buat aku.
Happy Reading‼️💗
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Tanpanya adalah awal kehancuran buat gue" -Rezvan Fahreza Raveenzy
Rumah minimalis ber-cat putih yang isinya hanya memiliki ruang tamu, dapur kecil, dua kamar, satu kamar mandi, dan halaman depan yang lumayan kecil, menjadi tempat tinggal Liona dan Bundanya.
Rumah sederhana namun sangat nyaman di tempati, dan banyak kehangatan di dalamnya. Sudah sepuluh tahun mereka berdua menempati rumah ini sejak mendiang Ayah Liona tiada, selama itu Liona tinggal bersama sang Bunda tercinta.
Gadis itu baru saja diantar pulang oleh Rezvan, ia berjalan memasuki halaman rumah setelah berpamitan dengan cowok itu.
Liona mendorong pelan knop pintu kayu berwarna coklat yang sudah usang itu, "Lio pulaaang" sahutnya.
"Jam segini baru pulang, habis darimana?" Tanya Lia-bunda Liona, yang sedang duduk di kursi kayu ruang tamu.
Saat ini jam menunjukkan pukul enam sore, membuat Lia khawatir kenapa anak gadisnya itu baru pulang, padahal sekolah pulang pada pukul tiga sore.
"Barusan Eza ajak main Bunda" jawab Liona, ia berjalan menghampiri dan mendudukkan dirinya disamping sang Bunda.
Liona memang tidak pernah menyembunyikan soal Rezvan pada Lia, dari awal berpacaran dengan cowok itu, Liona selalu terbuka pada Bundanya. Lia juga mempercayai Rezvan untuk menjaga putrinya. Selama itu aman, Lia tidak pernah melarang putrinya berpergian dengan Rezvan. Asalkan tidak melewati batas, ia sudah mempercayai cowok itu dan bahkan menganggapnya seperti anak sendiri.
"Dianter Rezvan juga pulangnya?"
Liona mengangguk sebagai jawaban.
Wanita paruh baya itu tersenyum simpul. Ia mengalihkan wajahnya kearah lain, sebenarnya ada sesuatu yang ingin ia bicarakan pada putrinya, tapi apa sekarang waktunya tepat?
"Sayang, Bunda ingin bicara" ujar Lia pada akhirnya, kini ia menatap putrinya dengan serius.
"Tentang apa Bun?"
"Bunda dipecat dari perusahaan" ujar wanita paruh baya itu dengan lirih. "Bunda dituduh mencuri uang perusahaan, Bunda sudah membantah itu, tapi bawahan Bunda terus menuduh. Bos besar mempercayainya dan langsung memecat bunda" Lia berusaha menghalau air matanya.
Liona twrkejut, ia ikut sedih mendengarnya, sejak awal Bunda bekerja di perusahaan, semua baik-baik saja, bahkan atasannya sampai mempercayai dan mengandalkan bundanya. Namun sekarang? Hanya karena tuduhan yang belum pasti, mengapa atasannya langsung percaya?