[Tahap Revisi] jadi mohon maaf kalo masih ada typo ya guys🙏
SEBELUM BACA TOLONG VOTE DULUUU‼️
HAPPY READING🖤💗
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Kalo kebahagiaan ini cuma mimpi, tolong jangan bangunin gue, karena gue cuma mau bahagia bareng dia." -Rezvan Fahreza Raveenzy
Siang itu suasana lorong sekolah terasa lebih lengang dari biasanya. Langkah kaki Althar terdengar santai, kontras dengan wajah Rezvan yang masih menyiratkan kebingungan. Ada sesuatu di mata Althar yang jarang ia tunjukkan.
"Ikutin kata-kata gue. Gue bakal urus semuanya" ucap Althar dengan yakin.
Rezvan menaikkan sebelah alisnya, jelas tak sepenuhnya percaya. Selama ini, Althar bukan tipe yang suka ikut campur urusan orang lain, apalagi sampai sejauh ini.
"Sejak kapan lo mau ngurusin hidup orang?" Nada datar Rezvan terdengar seperti menyindir, namun Althar sama sekali tidak tersinggung.
"Gausah banyak tanya bisa?"
"Gue baru nanya"
Althar terkekeh pelan, langkahnya terhenti sesaat. Ia menoleh, menatap sahabatnya dengan sorot mata serius. "Nurut, ini satu-satunya cara biar lo bisa berdua sama Liona"
Kalimat itu sukses membuat Rezvan terdiam. Semua kecemasannya, semua tekanan dari sang ayah, seakan berhenti di titik itu. "Oke" cowok itu mengangguk paham. Sepertinya sementara ini Rezvan harus bertukar posisi, dia sebagai wakil dan Althar sebagai ketuanya. Haha.
Apa yang sebenarnya mereka rencanakan? Mereka berniat menciptakan momen dimana Rezvan dan Liona tak punya pilihan selain menghabiskan waktu berdua, dan siapa dalang di balik semua ini? Tidak lain adalah sang wakil Alvagoz sendiri-Althar.
Cowok itu paham betul kondisi Rezvan. Sahabatnya itu hidup dalam bayang-bayang aturan ayahnya, diawasi hampir setiap detik. Kebebasan hanyalah kata asing bagi Rezvan.
Althar memutar otak, menyusun rencana kecil yang tampak sepele, namun cukup untuk memberi celah. Satu ruangan, dua orang, tanpa pengawasan, itu saja sudah lebih dari cukup. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel, lalu membuka room chat dengan nama Liona. Tanpa ragu, jarinya menekan tombol telepon.
"Na, bisa temui gue di rooftop?"
Di seberang sana terdengar suara Liona yang sedikit heran. "Ngapain? Lio lagi kerjain tugas"
"Bawa aja tugasnya ke rooftop, gue bantu kerjain"
"Okee"
Panggilan berakhir. Althar menghembuskan napasnya puas, senyum kecil terukir di wajahnya. Ia menoleh ke arah Rezvan yang sejak tadi memperhatikan dengan kikuk, "berhasil" ujarnya.