Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Jika tahu akan seperti ini, harusnya aku membuat kenangan yang lebih banyak saat masih bersamamu."
Sejak pagi, Liona berdiam di parkiran Highstar seorang diri—menunggu kedatangan Rezvan, sudah sekitar setengah jam gadis itu berdiam disana, namun belum ada tanda-tanda akan kehadiran cowok itu.
Ia membawa kotak bekal kecil berisi roti kacang favorit Rezvan, dulu, Liona sering membuatkan sarapan roti itu untuknya, dan cowok itu sangat menyukainya.
Lima menit berlalu, bibir Liona terangkat membentuk sebuah senyum manis—melihat kedatangan Rezvan seorang, ia sempat mengerutkan dahinya tak mendapati inti Alvagoz yang lain, kemana mereka?
Rezvan turun dari motor dan melepas helm full facenya, ia mengacak rambutnya menggunakan tangan, membuat beberapa siswi yang melihatnya memekik girang.
Dengan senyum yang menghiasi wajah cantiknya, gadis itu melangkahkan kakinya menghampiri Rezvan. "Pagi, Eza! aku bawa roti kacang kesukaan kamu," ucapnya, menunjukkan kotak bekal itu pada Rezvan.
Karena tak kunjung mendapat balasan, Liona hendak meraih lengan cowok itu, namun Rezvan lebih dulu menepis tangannya. "Za? ini roti favorit kamu loh" gadis itu hendak meraih kembali lengan Rezvan, namun cowok itu menghindar.
Rezvan melirik kotak bekal yang dipegang Liona, "buang" ucapnya.
"Huh? Tapi aku udah buat-"
"Emang gue suruh lo untuk buat?" Sarkas Rezvan tanpa mau menatap wajah gadis di sampingnya itu.
"Biasanya-"
"Lo bukan siapa-siapa gue! Udah gue bilang berapa kali, lo itu cuma mainan! Jauhi gue, Liona!"
Liona menggeleng dengan air matanya yang sudah luruh, "kita belum putus Za, aku ini masih pacar kamu"
Rezvan terkekeh sinis, "lo mau jadi murahan dengan ngejar gue kayak gini, hm?
"Za? Kamu tega ngomong gitu sama aku?"
Rezvan mengeraskan rahangnya, "jauhi gue, Liona." Dengan itu lo gak akan dalam bahaya. Lanjutnya dalam hati, sebelum pergi meninggalkan Liona yang menatap kepergiannya dengan sendu.
Apa yang cowok itu pikirkan? Semudah itukah baginya melupakan? Walaupun itu hanya permainan baginya, tapi apakah ada sedikit saja rasa cinta? Ketulusan? Atau bahkan rasa kasihan? Rezvan seperti benar-benar tak peduli padanya, menganggap seolah-olah jika semua yang telah mereka lalui bersama hanya sekedar angin lalu.