33.|| BETWEEN LIONA & JEVAL

1.6K 39 6
                                        

Komen dong, kalian kepengen bisa bahasa apa?

🖤💗

"Gue jadi jahat karena terpaksa" -Jevalo Hardian Pradipta

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Gue jadi jahat karena terpaksa" -Jevalo Hardian Pradipta

"Aku jawab telepon dulu" sahut Liona pada Alga yang duduk di sebelahnya.

Setelah cowok itu menganggukkan kepalanya, barulah Liona bangkit dari duduknya dan menjauh dari meja yang mereka tempati.

Bohong. Liona bukan ingin menjawab telepon, tapi ia ingin meluruskan kebenaran dari apa yang di lihatnya. Gadis itu melangkahkan kakinya ke tempat dimana tadi ia melihat Jeval.

Liona memperhatikan sekitar, ia membulatkan matanya ketika menemukan cowok itu yang tengah naik ke motor yang terparkir tak jauh dari pekarangan pesta.

Melihat Jeval yang sudah bersiap akan melaju pergi, buru-buru Liona masuk ke dalam mobil Alga untuk mengikutinya. Untunglah kunci mobil cowok itu ada pada dirinya.

Soal Liona bisa menyetir? Oh tentu saja, ia sudah diajarkan oleh Alga minggu lalu, lumayan Liona mulai bisa menyetir dengan baik walaupun belum sepenuhnya bisa dijalan-jalan besar.

Motor yang di naiki Jeval telah melaju, kemudian Liona membututinya. Dalam hati ia berdoa agar cowok itu tidak menyadari keberadaan dirinya. Hingga lima belas menit kemudian motor itu berhenti di depan sebuah bangunan besar.

Tunggu! Rumah sakit? Mengapa cowok itu berhenti di rumah sakit....jiwa?

Jeval turun dari motornya, ia masuk ke dalam rumah sakit itu. Liona ikut turun dan berjalan masuk, ia juga sempat bersembunyi saat Jeval menoleh ke belakang, untunglah dirinya tidak ketahuan.

Jeval melangkahkan kakinya melewati beberapa ruangan hingga berhenti di salah satu ruangan.

Ceklek

Cowok itu membuka ruangan itu dan masuk ke dalam, sebelum pintu benar-benar tertutup, Liona menahan pintu itu agar tetap terbuka, yah walaupun hanya sedikit terbuka, yang penting ia bisa mengintip ke dalam.

"Zia" itu suara Jeval yang pertama Liona dengar.

Cowok itu menghampiri seorang gadis yang tengah duduk di kursi roda, ia berjongkok di depannya agar bisa melihat wajahnya. Gadis yang di panggil Zia itu hanya diam, melamun, pandangannya lurus ke depan entah sedang melihat apa.

"Maafin abang Zi, abang belum bisa bales perbuatan orang itu" Jeval menggenggam tangannya.

Cowok itu tersenyum, sungguh ia tak tega melihat adiknya yang sekarang seperti ini. Mana Zia yang dulu? Mana Zia yang selalu ceria? Mana Zia adiknya yang selalu manja dan rewel padanya?

Tangan Jeval yang satunya terkepal kuat mengingat apa penyebab yang membuat adiknya seperti ini. "Abang janji akan bales"

Drrtt Drrtt

Jeval tersentak dan menoleh ke asal suara. "Siapa?!" Teriaknya. Ia melangkah cepat keluar.

Ah sial! Kenapa ponselnya harus berbunyi coba? Liona berlari menjauh dari ruangan itu, ia berlari cepat dan hampir menabrak beberapa orang yang di lewatinya.

"Bangsat!" Umpat Jeval seraya mengejar gadis itu.

Liona berlari sekuat mungkin, mencoba menjauh dari orang yang mengejarnya itu, namun saat ia hendak menyebrang jalan, dari arah kanan terdapat sebuah mobil yang melaju cepat ke arahnya.

Liona mematung, sumpah! mobil itu begitu cepat! "AAAAAAAAA" teriaknya saat dirasa mobil itu sudah semakin dekat.

BRUUKK

"Ssshh"

Gadis itu memejamkan matanya ketika merasakan dirinya melayang dan terjatuh, tapi untungnya bukan tubuhnya yang mendarat di aspal.

"Lo ngikutin gue?!" Tanya Jeval menatap tajam gadis yang berada di atasnya.

Liona membuka matanya sempurna, jadi yang menariknya dan menyelamatkannya adalah Jeval? Shit! Ia buru-buru bangun dari tubuh Jeval, merapikan baju dan rambutnya yang berantakan, nasib apa ini? Haruskah dia berterima kasih atau berlari kabur?

Jeval ikut bangkit, cowok itu menatap tajam Liona. Dengan kasar ia menarik lengan gadis itu dan membawanya ke tempat yang sepi.

"Lo ngapain disini bangsat?! Lo ngikutin gue? Mau cari mati?" Tanyanya beruntun menyudutkan Liona.

Gadis itu berdehem, "gu- gue mau berobat!" Ujarnya berbohong. Dalam hati Liona tertawa, berobat? Berobat apa anjir? Emangnya dia gila apa? Hahahaha.

"Lo pikir gue bodoh? Apa yang udah lo denger hah?!"

"Jev, gue bisa jelasin"

"JELASIN APA? LO MAU KETAWA IYA? LO SENENG LIAT ADIK GUE MENDERITA KAN?" teriak cowok itu, sepertinya ia benar-benar marah.

"JEV DENGER GUE! GUE PAHAM-"

"Bulshit! Lo pasti mau kasih tau cowok-cowok lo itu tentang adik gue kan?! Lo pasti-"

"JEVALO!" Liona mendorong bahu Jeval sedikit kasar. "Gue paham rasanya jadi lo! Gue tau lo gak terima sama apa yang udah terjadi dengan adik lo" Jeval terdiam mendengarnya.

"Gue boleh tau apa yang terjadi? Gue akan bantu adik lo sebisa gue"

Cowok itu tertawa remeh, "gue harus percaya? Apa jaminannya kalo gue harus percaya sama lo?"

"Gue" Liona mengangguk yakin, "gue jaminannya, lo bisa lakuin apapun kalo sampe gue ingkar janji"

Cowok itu termenung memikirkan perkataan gadis di depannya, apa benar dia akan membantunya?

"Ikut gue" Jeval menarik lengan Liona, kali ini pelan tidak kasar seperti sebelumnya. Setelah mempertimbangkannya, cowok itu akhirnya membawanya kembali ke dalam rumah sakit.

Mereka sampai di ruangan dimana terdapat seorang gadis di dalamnya, Jeval sengaja tidak membawa Liona untuk masuk ke dalam, ia tidak mau jika Zia ketakutan karena melihat orang asing, alhasil mereka hanya menatapnya lewat kaca besar yang menjadi pembatas.

"Zianna Pradipta, adik gue satu-satunya yang gue sayang. Awalnya sama sekali gak ada masalah sama hidupnya, dia selalu ceria dan bahagia. Dia baik ke semua orang, dia gak punya musuh, dia sama sekali gak pernah menderita kayak sekarang. Suatu hari semuanya berubah, Zianya gue berubah semenjak kejadian itu" Jeval menoleh ke samping, matanya bertemu dengan iris Liona yang sedang menatapnya.

"Kejadian saat dia di perkosa, dan lo tau Liona? Semua itu gara-gara Rezvan, dia yang perkosa adik gue!"

Tanpa terasa ternyata air mata jatuh dari pelupuk mata Liona, ia benar-benar sedih mendengar cerita dari cowok itu, namun soal Rezvan, ia tidak percaya jika cowok itu yang melakukannya.

"Jev, tapi gue gak yakin kalo Rezvan yang udah-"

"JELAS ITU DIA! LO MAU NUTUPIN FAKTA?"

Liona menggeleng tegas, "bukan gitu, gue yakin dia gak kayak gitu" Liona menghapus air matanya, "kasih gue waktu Jev, gue bakal buktiin kalo dia bukan pelakunya, percaya sama gue. Pegang janji gue, gue bakal bantu lo nemuin pelakunya dan gue bakal bantu kembaliin adik lo yang ceria kayak dulu" ucapnya penuh keyakinan sebelum pergi meninggalkan Jeval, meninggalkan ruangan itu.

Jeval menatap kepergiannya, tatapannya benar-benar sulit untuk di artikan. Pikirannya mencerna setiap perkataan gadis itu.

See uuuu💗🖤

Jangan lupa VOTE‼️

REZVAN : Better TogetherTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang