⚠️𝙳𝚊𝚛𝚔 𝚁𝚘𝚖𝚊𝚗𝚌𝚎⚠️
𝑾𝒊𝒕𝒉 𝒐𝒓 𝒘𝒊𝒕𝒉𝒐𝒖𝒕 𝒚𝒐𝒖, 𝒕𝒉𝒊𝒔 𝒊𝒔 𝒐𝒖𝒓 𝒃𝒂𝒅 𝒇𝒂𝒕𝒆.
Rezvan Fahreza Raveenzy harus mengkhianati Liona Gisella karena sebuah alasan. Ia mengorbankan perasaannya agar gadis itu tetap hidup dalam cahaya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
JIka ada kata diatas kata menyesal, itulah kondisi Rezvan sekarang. -REZVAN Better Together
"BODOH LO REZ, BODOH!"
"GUE UDAH BILANG JANGAN SAKITI DIA, TAPI KENAPA MALAH LO LAKUIN?!"
Althar mencengkram kuat jaket yang di kenakan Rezvan, "lo gatau gimana keadaannya waktu gue samperin dia ke gudang, lo gatau seberaba sakitnya gue waktu liat dia sedih!" Cowok itu menyentak Rezvan hingga sang empu tersungkur ke belakang.
"Liona sayang sama lo, dan lo dengan berani-beraninya lukai dia" Althar menggelengkan kepalanya, masih tidak percaya dengan apa yang sudah Rezvan perbuat. "Gue ngejaga dia baik-baik Rez. Gue tau keputusan lo gak pernah gegabah, tapi cara lo ini yang salah. Gue percaya sama lo tapi gak gini caranya, dengan lo yang kayak gini ngebuktiin kalo gue ngerasa bersalah karena udah bantuin lo!"
Rezvan menunduk lemah, sungguh ia benar-benar tak habis fikir, otaknya sudah hilang kendali dan tubuhnya tak bisa di ajak berkompromi. Apa sebutan yang pantas untuk dirinya? Brengsek? Ia rasa sebutan itu masih jauh untuk menggambarkan dirinya. Ia telah melukai gadisnya, lalu apa hukuman yang pantas untuknya?
Bayangan kejadian ketika di gudang terus menghantui pikirannya, mata gadis itu yang indah menatapnya dengan sorot kecewa, wajah cantiknya yang sedih seolah memohon agar tak melakukan hal seperti itu, dan bayangan dirinya yang begitu kasar pada Liona, semua itu membuat Rezvan merasa bersalah, sangat bersalah.
Sekarang apa yang harus ia lakukan? Meminta maaf? Maaf saja sepertinya tidak akan cukup, gadis itu sudah kecewa padanya. Cowok macam apa dirinya ini? Melukai orang yang dicintai?
"Wajar kalo lo cemburu, tapi gue gak terima liat dia di gituin." Althar mengusap wajahnya gusar. "Sampe kapan lo mau kayak gini, Rez?"
Rezvan menatap sepenuhnya pada Althar, ia menggeleng pelan, "gue gatau, gue gak yakin kalo semua bakal baik-baik aja" jawabnya.
"Kalo gitu gak ada cara lain," Althar membalas tatapannya. "Lo harus tinggalin dia, lupain dia, pergi jauh dari hidupnya dan jangan pernah ganggu dia lagi"
Rezvan mengepalkan tangan mendengar itu, "lo gila hah?! Apa yang buat lo berfikir kalo gue harus jauhin dia?!"
"Lo yang gila Rez! Lo gak mikirin gimana perasaan Liona? Dia udah kecewa sama lo! Lo mau buat anak orang menderita?"
"Gue gak bisa, gue sayang sama dia."
"Justru itu, kalo lo sayang sama dia, lo gak akan nyakitin dia. Pikir itu baik-baik." Althar menepuk pundak Rezvan beberapa kali sebelum pergi meninggalkannya.
Sedangkan Rezvan mematung. ARRGGHHH!!
BUGH BUGH BUGH BUGH!
"FUCK! BRENGSEK LO REZ, BRENGSEK!" umpatnya pada diri sendiri seraya terus meninju dinding beberapa kali, sampai tidak peduli dengan jari-jarinya yang sudah terluka.