⚠️𝙳𝚊𝚛𝚔 𝚁𝚘𝚖𝚊𝚗𝚌𝚎⚠️
𝑾𝒊𝒕𝒉 𝒐𝒓 𝒘𝒊𝒕𝒉𝒐𝒖𝒕 𝒚𝒐𝒖, 𝒕𝒉𝒊𝒔 𝒊𝒔 𝒐𝒖𝒓 𝒃𝒂𝒅 𝒇𝒂𝒕𝒆.
Rezvan Fahreza Raveenzy harus mengkhianati Liona Gisella karena sebuah alasan. Ia mengorbankan perasaannya agar gadis itu tetap hidup dalam cahaya...
Tekan bintang di pojok kiri bawah sebelum baca! Jangan lupa tinggalkan jejak disini dengan komeennn sebanyak-banyaknyaaaaa💗💗💗
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Gue pengen selalu ada di dekat lo, Liona." -Rezvan Fahreza Raveenzy
Dua minggu telah berlalu sejak kejadian itu-kejadian yang menjadi garis akhir bagi hubungan Rezvan dan Liona. Sebuah akhir yang pahit, meninggalkan luka yang tak sempat sembuh, sekaligus awal dari kabar yang mengguncang seluruh SMA Highstar; tentang pertunangan Rezvan dan Karin. Kabar itu menyebar cepat, menjadi topik hangat yang banyak di bicarakan.
Sebagian siswa menjadikan Karin sebagai sasaran. Mereka menyebut gadis itu pelakor, hama yang datang tanpa permisi dan merusak hubungan yang telah lama terjalin. Namun, ada pula yang justru menyalahkan Liona. Menurut mereka, Liona terlalu kekanak-kanakan, terlalu bergantung, terlalu dimanjakan oleh Rezvan hingga lupa caranya mandiri. Seolah-olah retaknya hubungan itu adalah kesalahan yang pantas ia tanggung seorang diri.
Di tengah hiruk-pikuk penilaian orang lain, waktu tetap berjalan. Dua minggu telah berlalu, berlalu tanpa kehadiran Liona dalam hidup Rezvan. Empat belas hari yang terasa jauh lebih panjang dari hitungan kalender. Selama itu pula Rezvan memaksa dirinya menjaga jarak, menahan langkah agar tak lagi mendekati gadis yang dulu menjadi pusat dunianya.
Liona benar-benar mengabaikannya sejak saat itu, setiap kali mereka berpapasan, gadis itu selalu memalingkan wajah, menurunkan pandangan, seolah Rezvan hanyalah angin lalu. Tak ada sapaan, tak ada lagi senyum manis Liona, hanya penghindaran yang dingin-dan ntah mengapa, itu adalah hal yang paling menyakitkan.
Rezvan mulai bertanya pada dirinya sendiri. Apa ini karma? Hukuman yang datang atas keputusan yang ia buat? Atas hati yang tak ia jaga dengan baik? Mungkin sudah saatnya Rezvan melepaskan Liona, membiarkan gadis itu pergi sejauh mungkin dari hidupnya. Bukankah memang harusnya begitu? Agar Liona terhindar dari bahaya yang Ayahnya lakukan?
Namun setiap kali ia mencoba, hatinya menolak. Pikirannya selalu kembali pada Liona. Tawanya, caranya merengek manja, matanya yang ikut senyum ketika gadis itu tersenyum, dan bagaimana dirinya nyaman berada di dekat Liona. Rezvan menyukai semua itu, ia merindukannya.
Rezvan menyadari satu hal yang paling menyiksa, melepaskan bukanlah perkara kemauannya, melainkan sebuah paksaan.
"Rez"
Rezvan tersadar dari lamunannya, ia menatap orang yang memanggilnya barusan. Sebelah alisnya terangkat seolah mengatakan 'apa'
"Lo jadi tunangan?" Tanya Arfan hati-hati. Sedangkan ketiga inti Alvagoz lainnya hanya diam menyimak, menunggu jawaban dari sang ketua.