Money, best friend, car, music, family, special someone.
Buang satuu?
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sekarang mereka bertiga sudah berkumpul di satu meja VIP yang berada di cafe, tadinya Alga juga ingin ikut berkumpul disini, namun sayangnya ia di panggil oleh sang ayah karena ada pekerjaan yang harus di selesaikan di kantor.
Cowok itu memang tidak sepenuhnya berkutat di dunia bisnis kecil seperti kafe yang Bundanya bangun-Alga hanya menjaga Kafe itu agar terus berdiri, sebagai kenangan dari sang Bunda. Sejak beberapa waktu terakhir ini, ia mulai dilibatkan langsung dalam perusahaan keluarga. Perusahaan besar yang sudah berdiri lama itu menjadi tanggung jawab yang perlahan mulai diarahkan kepadanya sebagai penerus.
Suasana di kafe sekarang cukup tegang. Liona, Jeval, dan Zia, mereka saling pandang-menunggu salah satu untuk memulai.
"Sebelumnya Zia minta maaf, maaf karena udah nyusahin kak Jev, nyusahin kak Liona, nyusahin semuanya." Zia menatap keduanya serius.
"Nggak ada yang kamu susahin Zia, ini bukan salah kamu, okay?" Liona menggenggam lengan mungil itu.
"Tetep aja kak, masalah yang terjadi antara kak Jev sama gengnya itu kesalahan Zia"
"Yang lalu udah lalu Zi, sekarang kamu udah disini, bisa ngobrol bareng kamu aja kakak udah seneng" ujar Jeval.
Zia tertunduk, ia terharu, sangat terharu. Setelah apa yang semua orang lewati, ia terharu dengan kebaikan dan ketulusan mereka. Disini, Zia jadi merasa bersalah karena sudah egois.
"Bukan kak Rezvan pelakunya," matanya menatap sang kakak, "bukan dia pelakunya, kak"
Jeval terdiam beberapa detik sebelum menatap Liona yang juga balik menatapnya.
Jeval menggeleng tegas, "gak mungkin, semua bukti mengarah sama Rezvan, lo bohong kan, Zi?"
"Zia gak bohong! Buat apa Zia bohong soal ini?!"
Jeval memejamkan matanya sejenak-berusaha meredam amarah yang berkobar dalam dirinya. "Terus kalo bukan dia siapa hah?!"
Zia terdiam, ia menunduk takut, sungguh ia tak berani mengatakannya. Sejak dulu sampai sekarang, iasih takut untuk mengatakannya.
Melihat Zia yang diam saja membuat amarah Jeval bertambah. "Siapa Zianna?!" Sentaknya.
Tubuh Zia bergetar ketika Jeval membentaknya, tubuhnya 'pun mulai berkeringat dingin.
"Zia, tenang dulu, tarik nafas, lalu buang, lakuin berulang kali" Genggaman Liona di tangan Zia semakin mengencang, berharap dengan cara ini bisa memberinya kekuatan.