Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"He's never been this rude"
Liona menenteng paperbag yang berisi buah-buahan yang akan ia berikan pada seseorang. Gadis itu diam-diam datang ke rumah sakit untuk menjenguk Zia, ya, Zianna Pradipta.
Dengan gerakan pelan Liona mendorong knop pintu, kakinya melangkah masuk kedalam dan menaruh paperbag itu di atas nakas meja samping brankar. Ia menghampiri gadis yang sedang duduk di kursi roda.
Seperti biasa, sejak awal Liona melihat gadis itu, tatapannya benar-benar kosong-seperti tidak ada kehidupan di dalamnya.
Gadis yang malang, siapa yang melakukan hal sejahat itu? Tidakkah orang itu berfikir apa dampak yang akan di terima?
Liona berjongkok di hadapan Zia. "Zianna," panggilnya hati-hati.
Selang beberapa menit, tak ada sahutan, Liona menghembuskan napasnya pelan, ia tersenyum pada Zia, mengambil satu tangan gadis itu untuk ia genggam. "Zianna, kenalin, nama kakak Liona." ujarnya sambil menatap wajah pucat itu.
"Zianna itu cantik, baik, pinter, punya kakak yang sayang banget sama Zia," Liona tetap melanjutkan ucapannya walaupun tak mendapat respon. "Zianna tau gak? Kak Jeval suka cerita tentang kamu loh"
"Kata Kak Jeval, Zia itu makannya banyak, kok sekarang makannya gak habis?" Liona melihat meja di samping nakas, terdapat sarapan yang sepertinya belum di sentuh.
"Kak Jeval sayang banget loh sama Zia, dia pengen Zia kayak dulu-"
"Kamu gatau apa-apa! Gausah ikut campur!" sentakan dari Zia membuat Liona bungkam.
Tidak! Liona tidak marah karena disentak seperti itu, justru ia sangat bersyukur karena akhirnya anak itu mau bicara.
Liona tersenyum haru, "kakak emang gatau apa-apa, kakak emang gak bisa rasain jadi kamu, tapi kakak tau kalo kamu itu sayang banget sama kak Jeval. Kamu juga gamau kan liat kak Jeval sedih terus?" Liona mengusap sudut matanya yang berair, "kakak tau seberapa berat beban yang kamu pikul sekarang ini, tapi kakak mohon sama kamu, jangan menyerah ya? Kamu itu berharga Zianna, masih banyak orang yang sayang sama kamu."
Liona berdiri, berniat beranjak dari sana, namun sebelum benar-benar pergi, ia menepuk bahu Zia dengan pelan. "Setidaknya tetap hidup demi orang yang menyayangi kamu" ucapnya, lalu pergi meninggalkan ruangan itu.
Zia menatap sayu punggung Liona yang perlahan menjauh dan tidak terlihat lagi. Tatapannya benar-benar sendu, membuat siapa saja yang melihatnya pasti akan merasa iba.