47.|| BAD LUCK AGAIN

136 13 3
                                        

So, gimana perasaan kalian setelah Rezvan up??

Terimakasih sebelumnya untuk kalian yg masih menemani Rezvan sampai saat ini🤗 love uuu dari Rezvan, jangan lupa vote‼️💋

Terimakasih sebelumnya untuk kalian yg masih menemani Rezvan sampai saat ini🤗 love uuu dari Rezvan, jangan lupa vote‼️💋

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Always get the bad one"
-Rezvan Fahreza Raveenzy

"Setelah ujian, kamu akan langsung terbang ke london" ujar Rey-sambil fokus pada berkas-berkas di mejanya.

"Setelah ujian? Lalu bagaimana dengan kelulusan?" Rezvan menatap Ayahnya itu.

"Kamu tidak perlu mengikutinya, perusahaan lebih penting," pria paruh baya itu membenarkan letak kacamatanya, "dan pernikahanmu dengan Karin akan berlangsung disana."

Ck. Masalah yang satu itu, sungguh, apa tidak bisa di batalkan? Kenapa Ayahnya itu sangat ingin menjodohkannya?

"Jika aku tidak menikahinya, is your threat still valid?" Suara Rezvan terdengar tenang, namun ada getar tipis yang tak mampu ia sembunyikan.

Sekilas Rey menatap putra sulungnya itu, "of course, itu berlaku sampai kapanpun."

Mendengar itu Rezvan tersenyum miris, tidakkah dirinya berhak untuk mendapatkan kebahagiaan? Kebahagiaan yang sederhana? Dan atas pilihan yang lahir dari hatinya sendiri? Rezvan sudah terlalu sering mengalah, terlalu sering menerima keputusan yang dibuat atas nama keluarga dan kehormatan. Lalu setelah melepas semua ini, dirinya harus menghadapi pernikahan konyol itu?

Tidak. Ia tidak bisa membiarkan dirinya terkurung dalam ikatan yang bahkan sejak awal tidak sempat ada dalam rencananya. Jika ancaman itu berlaku sampai kapan pun, maka ia pun akan mencari celah sampai kapan pun. Mungkin bukan sekarang, mungkin bukan besok. Tapi nanti, ia akan menemukan cara untuk melepaskan diri dari pernikahan sialan itu. Ya, nanti. Semoga saja.

<♡>

Seperti biasa, wardap kini menjadi tempat bolos mereka di pagi hari, sudah lama juga mereka tidak melakukan aksi bolos. Huh, mereka akan merindukan semua ini. Mengingat dalam dua bulan lagi masa kelas dua belas akan berakhir, mereka akan menempuh perjalanan baru di jenjang berikutnya.

Mungkin berkumpul di wardap hari ini akan menjadi hari terakhir bagi Rezvan. Yaa, hari ini ia akan menyerahkan jabatannya sebagai ketua gang-sebuah posisi yang dulu ia rebut dengan penuh ambisi, kini ia lepaskan dengan sepenuh hati, dan dua bulan ke depan, ia akan pergi-meninggalkan mereka semua.

Dan masalah kepergiaannya, Rezvan sudah mempunyai rencana untuk tidak memberitahu siapapun. Kepergiannya biarlah menjadi bisu, biarlah mereka tidak tahu. Baginya, diam adalah cara paling mudah untuk menghindari luka yang lebih dalam.

"Headquarter, malam ini jam sembilan" Rezvan mengambil satu batang rokok dan menyelipkannya di bibir sebelum menyalakannya.

"Jadinya hari ini?" Tanya Arfan.

Rezvan mengangguk sebagai jawaban.

"Bukannya jadwal pergantian jabatan itu minggu depan? Kenapa sekarang?"

"Minggu depan gue banyak kerjaan, mau gak mau hari ini"

Ah kerjaan. Tentu mereka paham soal itu, mengingat jika Rezvan ini adalah satu-satunya pewaris Veenzy Company.

"Kabarin anak-anak yang lain" Rezvan mengepulkan asap rokoknya ke udara.

"Lo udah ada calon untuk ketua barunya, Rez?" Tanya Vano.

"Hmm"

Yudha menaikkan sebelah alisnya, "siapa?"

"Rajen, Rajendra Altair Astara."

Mereka berempat shock mendengarnya, tidak di sangka jika sosok lelaki misterius itu akan menjadi sebuah pilihan.

"Gue gak nyangka lo bakal pilih dia bro, apa yang spesial? He's mostly quiet and hides." Vano menyahut dengan rasa penasarannya.

"Kenapa dia?" Kali ini Althar yang bertanya.

"Gue yakin dia orangnya. He is quiet, but mysterious, he is dangerous."

Ya, itulah yang Rezvan lihat dari seorang Rajendra, lagipula ia tak mungkin memilih orang yang salah. Rajendra Altair Astara, dia berbeda.

<♡>

Malam ini Rezvan menghabiskan waktu di kantor untuk bekerja. Cowok itu duduk di kursi kebesarannya, jari-jarinya bergerak cepat di atas keyboard, meneliti setiap detail dokumen pekerjaannya dengan penuh konsentrasi, seolah satu kesalahan kecil bisa berujung masalah besar.

Sebentar lagi jam sembilan malam, ia harus segera menyelesaikan pekerjaannya sebelum datang ke markas besar untuk melepas jabatannya sebagai ketua. Keputusan itu sudah ia buat sejak lama, meskipun rasanya masih berat untuk benar-benar melepaskan posisi yang selama ini ia pegang.

Oh ya, soal calon ketua yang baru, tidak perlu ada tantangan atau hal semacam itu untuk resmi menjadikannya ketua. Soal kemampuan baku hantam dan segala taktik, seluruh anggota Alvagoz sudah dilatih sebelum masuk ke dalam lingkaran Alvagoz. Jadi tak perlu khawatir, mereka sudah terpercaya sepenuhnya.

Tok Tok Tok

Rezvan menoleh sekilas ke arah pintu, alisnya terangkat sedikit karena gangguan di tengah fokusnya. "Masuk" ujarnya.

Seorang pria berpostur tegap masuk ke dalam ruangan, melangkahkan kakinya dengan sikap hormat lalu berdiri di samping meja Rezvan. "Nona Karin datang untuk menemui anda, tuan muda" ucap orang itu.

Rezvan menghela napas kasar, bahunya sedikit turun. Mau apa perempuan itu malam-malam begini?

"Bilang jika saya sedang sibuk"

"Tapi nona menunggu di depan, tuan. Dia tidak mau pergi sebelum bertemu dengan tuan."

"Ck, suruh dia masuk" ucap Rezvan pada akhirnya. Percuma saja, jika ia membiarkannya, kemungkinan besar perempuan itu akan menggulitinya setelah bekerja.

Pria berumur kisaran tiga puluh tahun itu mengangguk kemudian melangkah pergi keluar, menutup pintu dengan pelan.

Beberapa menit kemudian, pintu kembali terbuka. Kali ini bukan suara langkah biasa yang terdengar, melainkan bunyi ketukan heels yang menggema di lantai ruangan.

Karin duduk di kursi yang tersedia di depan meja Rezvan, menyilangkan kakinya dengan santai. "Kabar baik, sayang" perempuan itu bertopang dagu sambil mentap Rezvan, "bulan depan habis ujian, kita bakal langsung berangkat ke London" ujarnya tersenyum senang.

Rezvan terdiam mendengar perkataan itu, ia sudah tahu tentang keberangkatannya ke London, namun bagian kata 'kita' membuat tak nyaman.

"Kenapa? Kamu gak seneng? Kita berdua bakal menetap disana loh"

Rezvan menatap perempuan itu serius, "lo? Di London?"

"Yes, i will also live there, close to you."

Sial, sekarang nasib buruk apalagi yang harus Rezvan terima?

Oke guyss gimana puas gak?🤭
Tenang, jumat aku up lagiiii.

Kalo cerita ini terbit jangan lupa peluk novelnya yaaa🥰💋💗

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: 3 days ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

REZVAN : Better TogetherTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang