Terimakasih sebelumnya untuk kalian yg masih menemani Rezvan sampai saat ini🤗 love uuu dari Rezvan, jangan lupa vote‼️💋
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Always get the bad one"
"Setelah ujian, kamu akan langsung terbang ke london" ujar Rey-sambil fokus pada berkas-berkas di mejanya.
"Setelah ujian? Lalu bagaimana dengan kelulusan?" Rezvan menatap Ayahnya itu.
"Kamu tidak perlu mengikutinya, perusahaan lebih penting," pria paruh baya itu membenarkan letak kacamatanya, "dan pernikahanmu dengan Karin akan berlangsung disana."
Ck. Masalah yang satu itu, sungguh, apa tidak bisa di batalkan? Kenapa Ayahnya itu sangat ingin menjodohkannya?
"Jika aku tidak menikahinya, is your threat still valid?" Suara Rezvan terdengar tenang, namun ada getar tipis yang tak mampu ia sembunyikan.
Sekilas Rey menatap putra sulungnya itu, "of course, itu berlaku sampai kapanpun."
Mendengar itu Rezvan tersenyum miris, tidakkah dirinya berhak untuk mendapatkan kebahagiaan? Kebahagiaan yang sederhana? Dan atas pilihan yang lahir dari hatinya sendiri? Rezvan sudah terlalu sering mengalah, terlalu sering menerima keputusan yang dibuat atas nama keluarga dan kehormatan. Lalu setelah melepas semua ini, dirinya harus menghadapi pernikahan konyol itu?
Tidak. Ia tidak bisa membiarkan dirinya terkurung dalam ikatan yang bahkan sejak awal tidak sempat ada dalam rencananya. Jika ancaman itu berlaku sampai kapan pun, maka ia pun akan mencari celah sampai kapan pun. Mungkin bukan sekarang, mungkin bukan besok. Tapi nanti, ia akan menemukan cara untuk melepaskan diri dari pernikahan sialan itu. Ya, nanti. Semoga saja.
<♡>
Seperti biasa, wardap kini menjadi tempat bolos mereka di pagi hari, sudah lama juga mereka tidak melakukan aksi bolos. Huh, mereka akan merindukan semua ini. Mengingat dalam dua bulan lagi masa kelas dua belas akan berakhir, mereka akan menempuh perjalanan baru di jenjang berikutnya.
Mungkin berkumpul di wardap hari ini akan menjadi hari terakhir bagi Rezvan. Yaa, hari ini ia akan menyerahkan jabatannya sebagai ketua gang-sebuah posisi yang dulu ia rebut dengan penuh ambisi, kini ia lepaskan dengan sepenuh hati, dan dua bulan ke depan, ia akan pergi-meninggalkan mereka semua.
Dan masalah kepergiaannya, Rezvan sudah mempunyai rencana untuk tidak memberitahu siapapun. Kepergiannya biarlah menjadi bisu, biarlah mereka tidak tahu. Baginya, diam adalah cara paling mudah untuk menghindari luka yang lebih dalam.
"Headquarter, malam ini jam sembilan" Rezvan mengambil satu batang rokok dan menyelipkannya di bibir sebelum menyalakannya.