Chapter 2

3.4K 180 0
                                        

Jimmy kini telah berada di ruang kerja nya sibuk memastikan data pasien atas nama Sea yang sebelumnya sempat ia periksa.

Jujur saja ia sedikit terganggu dengan kondisi pasien ketika Sea ter-trigger mendengar nama Mark.

Siapa sebenarnya Mark? Dan hal apa yang sebenarnya terjadi disini?

Sebenarnya ia bisa saja menanyakan lebih jauh pada pihak keluarga, hanya saja saat ini tak memungkinkan.

Sang kepala keluarga yang tak lain Earth terlihat sibuk dengan keluarga kecil nya itu, yang tak lain ia harus memastikan kondisi istrinya yang pingsan, belum lagi dengan kedua anak nya.

Kedua anaknya?

Ya, Jimmy telah menyadari bahwa Earth memiliki dua anak yang tak lain adalah Sea-pasien yang sedang ia tangani, dan putra keduanya yang bernama Neo.

Suara ketukan pintu tiba tiba saja terdengar cukup keras mengganggu konsentrasi nya.

"Masuk."

Kata singkat yang di berikan oleh Jimmy sebelum pada akhirnya manik nya jatuh pada sosok yang baru saja masuk.

"Ah, ada yang bisa saya bantu Tuan—" tanya Jimmy sedikit menggantungkan kalimat nya.

"Earth, nama saya Earth suami dari dokter Mix."

"Ah, iya Tuan Earth, ada yang bisa saya bantu?" tanya Jimmy kembali pada Earth tak menyangka bahwa pria paruh baya itu akan menemuinya.

Bukankah Earth sebelumnya terlihat sibuk menemani keluarganya?

Wajah Earth tampak pucat dan jangan lupakan jejak bulir keringat yang masih tercetak jelas pada wajah nya.

Earth menganggukan kepala nya menuju bangku yang ada di hadapan Jimmy.

"Aku tahu kau pasti membutuhkan penjelasan informasi yang belum kau dapatkan mengenai putraku, sekaligus aku pun ingin bertanya lebih jauh mengenai kondisi putra sulungku."

Tarikan garis senyum Jimmy dan juga anggukan kepala ia berikan pada Earth.

Ia tak menyangka bahwa di tengah ke hectic-kannya dalam mengurusi keluarganya ia menyempatkan dirinya untuk mencari tahu lebih jauh kondisi putranya itu.

"Apakah saya boleh tau kecelakaan seperti apa yang menimpa pasien, sekaligus pria bernama Mark yang di maksud oleh pasien sebelumnya?"

Earth memejamkan maniknya sejenak sembari mengambil nafasnya dalam guna untuk menetralkan degup jantung nya yang sedari tadi seakan tak mau bekerja sama dengannya.

"Seharusnya putra ku pulang dengan aman malam itu bersama ketiga temannya yang baru saja pergi berlibur, tetapi naas mereka mengalami kecelakaan beruntun. Beruntung putraku selamat karena sahabat nya, yang tak lain kekasih putraku yang lain, lantaran memelukinya dengan kuat, sedangkan kekasih putraku yang lain—Mark, mengalami koma."

Jimmy yang mendengar penjelasan itu kini mulai dapat menyimpulkan deretan benang yang sebelumnya terputus tak ia ketahui.

Anggukan kepala pelan Jimmy berikan pada Earth.

"Saya akan membantu putramu sebisa mungkin Tuan Earth. Ah, apakah istri anda baik baik saja di tinggal oleh anda?"

Dengungan pelan Earth berikan pada Jimmy, tak lupa ia juga mengatakan pada Jimmy bahwa istrinya telah bersama dengan saudaranya, dan karena alasan itu pula lah ia dapat berkonsultasi dengan nya.

"Ah, apakah saya dapat bertemu dengan putra anda yang lain?" tanya Jimmy pada Earth.

Earth tampak sedikit ragu, tetapi tak lama Earth mengatakan bahwa sang anak tak beranjak dari depan ICU semenjak Mark di katakan tengah mengalami masa kritis nya.

"Baik, lalu apakah semenjak Sea sadar adiknya sudah pernah bertemu dengan Sea?"

Gelengan kepala dengan helaan nafas kasar justru terdengar cukup keras kali ini di telinga Jimmy.

"Saya tak yakin jika Neo akan menemui Sea di situasi ini."

Jimmy menegerutkan keningnya, dan tak lama berusaha menilai dari segi sudut pandang Neo sendiri ataupun Sea-pasiennya.

Di saat Earth hendak berkonsultasi dengan Jimmy lebih jauh, sebuah pesan singkat masuk ke dalam ponsel nya.

Mau tak mau Earth mengecek nya sejenak, dan tak berselang lama Earth segera berpamitan dengan Jimmy.

'Kurasa Neo seharusnya dapat membantunya.'

***

Mata sembab dengan tatapan menatap lurus ke arah pemuda yang di lengkapi dengan berbagai alat yang menempel di tubuhnya, kini terlihat semakin rapuh dan seakan tak memiliki tujuan hidup.

Bukankah kekasih nya telah berjanji pada nya untuk selalu membalas panggilannya atau pun pesannya?

Mengapa kini sang kekasih seakan ingkar padanya?

"Sayang, bercanda mu tak lucu jika seperti ini. Bukankah sudah kuberi waktu dua hari padamu aku tak akan mempermasalahkan mu tak membalas panggilan ku? Tetapi mengapa kau masih diam? Mengapa kau seakan tak mendengarku sayang?" lirih Neo.

Sang pengawal yang senantiasa selalu berada di samping nya tampak tak tega dengan tuan nya itu.

Pasalnya selama ini ia tak pernah sedikit pun Neo seperti sekarang ini.

Hanya wajah ceria dan gembira, bahkan cenderung usil yang selalu di perlihatkan oleh pemuda itu.

Lalu mengapa ia kini melihat titik terendah dari seorang Neo?

"Sayang ... hiks, kembali padaku."

Runtuh sudah pertahanan Neo yang semula sebisa mungkin tetap berusaha tegar.

Sang pengawal segera merangkul tuan nya itu, berusaha menopang tuan mudanya agar tak benar benar jatuh.

"Astaga Neo," ujar Earth yang berlari mendekati putra bungsu nya itu.

Earth segera memeluki putra bungsunya itu.

"Dad, dad ... Mark tak akan meninggalkan ku kan? Dia hanya tidur lebih lama dari biasanya kan Dad?" tanya Neo yang kini berada di dalam pelukan sang ayah.

Sang ayah hanya dapat mengiyakan semua perkataan putra nya itu. Sebagai kepala keluarga tentu saja ia harus dapat menjadi sosok pelindung sekaligus sumber kekuatan untuk keluarganya.

"Semua akan baik baik saja. Kau harus percaya bahwa Mark adalah orang yang kuat."

Neo tak berkata apa apa, melainkan hanya semakin mengeratkan pelukannya pada sang ayah. Berharap apa yang di katakan sang ayah adalah doa tersendiri untuknya.

'Mark ... aku menunggu mu di samping mu hingga kau bangun dan menatap ku kembali.'

——•••——

TBC

See you next chapter

Leave a comment and vote

.

.

CA

Chance [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang