Setelah di periksakan di IGD oleh dokter disana yang masih merupakan kolega Jimmy, dan tentu saja tak lepas dari pantauan Jimmy, kini Sea kembali masuk ke ruang perawatan.
Bukan tanpa alasan berakhir demikian, tak lain karena status Sea yang masih dalam kondisi tak stabil.
Terpukul?
Tentu saja pemuda manis itu terpukul, karena sebagian memori nya yang sebelumnya alam bawah sadarnya menghapusnya dalam ingatan kini justru satu persatu terbuka dengan sendiri nya tanpa dapat ia atur.
Dengan setia Jimmy berada di samping Sea, bahkan bukan sebagai status dokter nya yang bekerja disana.
Orang tua Sea juga sudah di hubungi oleh Jimmy dan dengan tenang Jimmy menjelaskan bagaimana kondisi Sea terbaru, serta tak lupa mengatakan pada kedua orang tua Sea untuk tak terlalu mengkhawatirkan putra sulungnya tersebut, karena semuanya masih bisa di tangani oleh nya.
"Bagaimana perasaan mu? Apakah masih merasa buruk?"
Sea terdiam, sembari menatap ke arah Jimmy.
"Cukup buruk," ujar Sea sembari menggigiti bibirnya.
Refleks Jimmy mengusap bibir Sea agar pemuda manis itu tak lain menyakiti dirinya sendiri.
"Hei, tak apa. Aku disini, kau dapat mengatakan apapun padaku. Lagi pula aku sudah mengatakan pada mu bahwa kau tak usah menganggap ku sebagai dokter mu bukan?"
Sea menganggukan kepala nya dengan manik yang berkaca kaca. Rasa takut yang masih berkemelut di hatinya tak dapat ia tutupi lagi. Lebih baik ia terbuka pada Jimmy bukan?
Hal itu yang kini terbesit di kepala Sea dengan segala keraguannya.
"Ah, sepertinya aku keluar sebentar membeli makanan. Dokter Jim, apakah ada request sesuatu yang ingin sekalian aku belikan?" Lirih Neo yang menyadari mungkin sang kakak sedikit enggan mengatakan hal yang tengah ia rasakan jika ada dirinya disana.
Neo sadar Sea mulai merasa 'nyaman' dengan keberadaan Jimmy sendiri. Buktinya saja sang kakak dapat jauh lebih tenang ketika mendengar suara Jimmy.
Gelengan kepala pelan serta senyuman tipis Jimmy berikan pada Neo.
Mau tak mau setelah nya Neo keluar dari ruang rawat inap Sea sebagaimana ia katakan sebelumnya.
Tepat Neo menutup pintu nya, tangis Sea pecah dengan rancauan pelan.
"A...-aku takut," ujar Sea.
Jimmy spontan mengusap pipi Sea menghapus jejak air mata yang akhirnya turun dari kedua maniknya.
"Aku tahu. Kau tenang saja semuanya akan baik baik saja. Kau harus ingat bahwa kau tak salah apapun, dan sebaiknya kau hanya mengingat kenangan manis yang terjadi di antara kalian."
"Bolehkah kau temani aku mengunjungi pemakaman kedua sahabat ku yang tak selamat pada kecelakaan itu?" tanya Sea yang memang ia sebelumnya telah di jelaskan bagaimana keadaan setelah kecelakaan itu, serta informasi mengenai bahwa hanya Sea dan juga Mark yang selamat atas kecelakaan naas itu.
"Tentu saja, aku akan menemani besok, jika keadaan mu sudah stabil besok."
Sea tersenyum mendengar jawaban Jimmy yang sesuai harapannya.
"Bolehkah aku memanggil mu Hia di bandingkan aku memanggil sebutan formal sebagai dokter?"
Jimmy terkekeh pelan sembari mengusak rambut Sea. Sungguh ia merasa gemas dengan pertanyaan Sea tersebut. Ia tak menyangka bahwa Sea sempat memikirkan hal semacam itu di tengah kekalutan kecil yang memengaruhi setiap pemikirannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Chance [END]
Fiksi PenggemarBerawal dari kehidupan seorang pemuda yang terasa monokrom-tak berwarna sedikit pun, di dukung dengan lingkungan yang membentuk pribadi nya menjadi disiplin, kaku dan acuh. Tak menyangka akan mendapatkan sebuah kesempatan untuk membalas 'hutang bud...
![Chance [END]](https://img.wattpad.com/cover/361860985-64-k829318.jpg)