Keesokan paginya Jimmy pagi pagi sudah kembali ke ruang rawat inap Sea untuk mengecek pasiennya itu.
Neo yang menjaga Sea masih terlelap dengan kepalanya masih berada di tepi ranjang Sea dengan posisi terduduk sembari menggenggam tangan Sea.
Mungkin pemuda itu sedikit takut ia akan terlambat menyadari kondisi sang kakak seperti sebelumnya, sehingga kini berakhir dengan posisi demikian.
Jimmy mengulas senyumnya sejenak ketika mendapati sepasang kakak beradik tersebut yang menurut nya terasa hangat.
Ia jadi memikirkan kedua adiknya!
Baru saja Jimmy hendak kembali melangkah kan kaki nya kembali mendekat ke arah Sea tanpa berniat membangunkan keduanya. Sea lebih dahulu mengerjapkan kedua maniknya.
"Morning dokter Jim," sapa Sea sembari memberi senyuman manis nya.
Seakan terhipnotis Jimmy justru terlihat membeku di posisinya.
Ia gugup mendengar sapaan dari Sea tersebut. Entahlah ia merasa ada yang aneh dalam dirinya.
Desir hatinya tampak bergejolak.
"Morning Sea," balas Jimmy pada akhirnya berusaha menetralkan detak jantungnya yang sejujurnya tak mengikuti keinginan nya.
Lagi dan lagi Sea tersenyum mendengar suara Jimmy yang jujur saja bagi Sea menyejukkan. Bolehkah ia mengatakan bahwa keberadaan Jimmy di dekatnya membuatnya merasa jauh lebih baik?
"Kau ingin memeriksa ku?" tanya Sea pada akhirnya ketika melihat Jimmy dengan seksama yang menggunakan pakaian lengkap dokter nya disertai tablet yang Sea tahu bahwa itu data pasien yang Jimmy tangani.
"Bingo," lirih Jimmy tak mengelak. Lagi pula memang itu tujuan dirinya kesana.
Ia ingin memastikan bahwa Sea yang semalam membuat kepanikan kini telah membaik.
"Apa kau merasa sakit kepala atau mungkin terasa letih?"
Sejenak Sea tampak berfikir keras, tetapi tak lama ia menggelengkan kepala nya. Ia tak merasakan hal yang di katakan oleh Jimmy tersebut.
Tangan Jimmy tentu saja lihai dalam membuat diagnosa atau pun analisis dari kondisi pasien yang tengah ia visit tersebut.
"Ah, bisakah aku keluar dari rumah sakit ini? Aku sudah bosan berada disini. Lagi pula aku tidak sakit parah bukan?"
Jimmy memberikan senyuman nya dan mengatakan pada Sea bahwa ia akan mengecek hasil nya lebih lanjut.
"Kurasa nanti kau dapat ke ruangan ku seperti sebelumnya setelah makan siang jam 2."
Tanpa banyak berfikir Sea segera menganggukan kepala nya. Ia merasa bahwa Jimmy adalah dokter yang dapat di andalkan, untuk itu ia dengan patuh menyetujui perkataan pemuda di hadapannya.
Seulas senyum Jimmy berikan pada Sea. Entahlah seperti nya reaksi tubuh Jimmy juga sedikit menjadi anomali jika sudah bertemu dengan pasien barunya itu.
Tak lama setelah nya Jimmy kembali meminta izin keluar dari ruang VIP tersebut, yang di balas dengan anggukan oleh Sea.
Di saat Jimmy keluar dari ruang inap nya itu kini maniknya beralih pada sang adik yang masih setia menempatkan kepala nya di tepi ranjang Sea.
Perlahan Sea mengusap rambut Neo lembut.
"Kau terlihat lelah. Seharusnya kau tak perlu menjaga ku disini," ujar Sea pelan merasa tak enak pada Neo.
Jujur saja ia tak suka atau membenci setiap kerap kali ia merepotkan keluarganya, terlebih saat ia sakit seperti sekarang ini.
Di usap nya pelan pipi Neo berusaha menatap sang adik dengan maniknya yang jernih.
KAMU SEDANG MEMBACA
Chance [END]
FanfictionBerawal dari kehidupan seorang pemuda yang terasa monokrom-tak berwarna sedikit pun, di dukung dengan lingkungan yang membentuk pribadi nya menjadi disiplin, kaku dan acuh. Tak menyangka akan mendapatkan sebuah kesempatan untuk membalas 'hutang bud...
![Chance [END]](https://img.wattpad.com/cover/361860985-64-k829318.jpg)