Chapter 18

1.7K 103 0
                                        

"Mark!!" Pekik Sea yang langsung berhambur mendekat ke arah Mark yang tengah duduk di ranjang rumah sakit, dengan Neo duduk dibangku yang dekat ranjang Mark berada.

Mark memperlihatkan senyumannya pada Sea yang kini menghampirinya.

"Bagaimana kondisimu? Apakah kau baik baik saja?" tanya Sea dengan raut wajah penuh kekhawatiran.

Lagi dan lagi Mark hanya tersenyum, dan tak lama Mark mengatakan bahwa ia baik baik saja, lagi pula kekasih nya yang tak lain adalah adik dari Sea telah menjaga nya dengan baik. 

Mendengar ucapan Mark, spontan Sea menyilangkan kedua tangannya di dada nya sembari menatap Neo seakan ia tengah mengintimidasi nya dengan sebuah tatapan yang cukup tajam ia tujukkan pada sang adik. 

Neo meneguk saliva nya kasar. Ia menyadari bahwa kini situasi nya tengah tak mendukungnya. Berbagai alasan sepertinya tak akan memuaskan seorang Sea bukan? 

Belum lagi ia dapat melihat sang dokter yang dengan tenang berada tak jauh dari posisi kakaknya seperti seorang pelindung untuk kakak nya seakan akan juga turut mendukung perilaku Sea saat ini. 

"Phi, tatapan mu menyeramkan," ujar Neo dengan gaya nya seperti biasanya. 

Mark terkekeh pelan dan tak lama ia menepuk bahu kekasih nya itu. 

"Calm down Sea, jangan menatap nya seperti itu. Aku yang memintanya untuk tak mengatakan padamu secara terburu buru akan keadaan ku, aku tak ingin kau mengkhawatirkan ku, lagi pula aku baik baik saja Sea." 

Mark buru buru menutupi kegugupan Neo yang sesungguh nya Neo sendiri bingung harus mengatakan kalimat apa yang pas ia katakan pada kakak nya itu. 

"Mengapa kau senang sekali membela adikku sih? Aku tahu pasti bukan kau yang meminta nya bukan?" lirih Sea mencoba menjebak Mark atas pertanyaan nya itu. 

Mark terkekeh mendengar nya, da tak lama ia mengatakan pada Sea bahwa kali ini ia mengatakan yang sesungguh nya. 

"Ah, ngomong ngomong siapa yang berada di belakang mu? Mengapa ia seperti bodyguard mu saja?" 

"Huss, jangan asal bicara kau pada dokter ku," ujar Sea buru buru, sembari sesekali ia menatap ke arah Jimmy yang ia sadari masih berada di belakangnya. 

"Maaf," cicit Sea pada Jimmy yang di balas anggukan kepala dan senyuman tulus nya pada pemuda manis yang jika boleh ia jujur ia telah jatuh hati pada pemuda manis itu. 

Mark hanya sibuk mengangguk anggukan kepala nya, tetapi sorot manik nya telah jelas mencoba menggoda sahabat nya itu. "Benar hanya doktermu?" 

"Yak!" pekik Sea tiba tiba yang terdengar salah tingkah. 

Oh ayolah Mark mengapa ia senang sekali menggoda nya? Tak tahukah Mark bahwa jantungnya tiba tiba saja berdetak cepat, dengan wajah nya yang dapat ia rasakan perlahan mulai memanas? 

Rasanya Sea ingin mengumpat Mark saat ini juga, jika saja tak ingat bahwa Jimmy masih setia berada disana. 

"Dokter Jim, apakah saat kau menangani kakakku ia sangat sulit di atur?" tanya Neo yang entah keberanian dari mana tiba tiba saja bertanya pada Jimmy seperti itu. 

Jimmy terlihat tenang sembari menggelengkan kepala nya. "Kakak mu sangat mudah di atur, lagi pula Sea orang yang baik dan memiliki pengertian yang tinggi sejauh aku mengenalnya," ujar Jimmy. 

Neo sedikit mengerling pada Jimmy dan dengan santai ia mengatakan bahwa Sea cocok dengan Jimmy. "Tak bisakah kau menjadi pasangan kakak ku saja?" tanya Neo yang blak - blakan. 

Jimmy mengusap tengkuk nya yang tak gatal. 

"Sudah jangan dengarkan ucapan adikku yang dapat mengusikmu," lirih Sea cepat merasa tak enak hati dengan Jimmy. Ia takut Jimmy nantinya akan bersikap tak profesional atau mungkin canggung pada nya, walaupun jujur saja Sea senang dengan godaan yang di katakan oleh Neo.

Di luar dugaan Sea, Jimmy justru menggelengkan kepala nya dan mencondongkan kepala nya dekat dengan telinga Sea dan membisikkan sesuatu yang membuat Sea merasa dunia nya telah berhenti sepersekian detik tak menyangka atas perkataan Jimmy yang berbisik di telinganya itu. 

"Aku menyukai perkataan Neo." 

Wajah Sea semakin merona di buat nya, belum lagi dengan detak jantung Sea yang sedari tadi tak dapat berdetak normal seperti biasanya. 

'Apa aku tak salah mendengarnya? Dia tak sedang bercanda bukan?' 

"Kau baik baik saja Sea? Mengapa wajah mu memerah?" 

Layaknya sebuah gong besar yang tiba tiba saja berbunyi keras di kepala nya menyadarkan dirinya yang secara tak sadar hanya bergeming di tempatnya dengan pikirannya yang melayang jauh kesana kemari. 

Hanya anggukan Sea berikan pada Jimmy sembari memegangi kedua pipinya yang terasa memanas. "I'm okay dok." 

"Ugh formal sekali P'Sea," ujar Neo yang tak ada habis habis nya menggoda Sea-kakaknya itu. 

Di saat Neo hendak menggoda kembali kakak nya, manik Jimmy kini sudah beralih menatap Neo, dan juga Mark. Spontan Mark menepuk lengan Neo pelan memberikan kode pada pria nya untuk menghentikan gurauan yang sedari tadi di tujukkan pada Sea. 

'Woah Dokter Jim bisa terlihat menyeramkan juga rupanya.' 


***


"Dokter Mix, bagaimana keadaan putramu? Apakah sudah membaik," ujar salah satu sahabat nya yang memiliki profesi yang sama dengannya. 

Seulas senyum Mix berikan pada sahabat nya itu. Ia mengatakan bahwa ia bersyukur bahwa putranya kini jauh lebih baik setelah mendapat perawatan salah satu dokter yang cukup ia kenal di rumah sakit yang merawat Sea pertama kali. 

"Syukurlah, aku senang mendengarnya. Aku tak dapat membayangkan saat pertama kali kau memberitahu padaku bahwa putramu mengalami kecelakaan waktu itu." 

Helaan nafas terdengar cukup keras di telinga sang sahabat. 

"Ah, kudengar suami mu akan bekerja sama dengan perusahaan teman sekolah kita dulu?" 

Mix mengerutkan keningnya. Jujur saja ia tak mengetahui hal hal semacam itu, lebih tepatnya ia tak tahu detail mengenai pekerjaan suaminya. Lagi pula ia malas sekali mengusik atau memata matai pekerjaan suaminya yang sibuk membangun perusahaan nya itu. 

"Kau tahu dari mana?" 

"Tentu saja dari suami ku, yang juga merupakan kakak iparmu," ujar sang sahabat yang sebenarnya telah menjadi keluarga untuknya karena sang kakak ipar menikahi sahabat nya itu. 

Mix hanya sibuk menganggukan kepala nya menanggapi perkataan dari sang sahabat nya itu. 

"Setahuku ... dia yang hampir mengejarmu saat sekolah dulu," ujar sang sahabat.

Mix mengerutkan keningnya berusaha mengingat ingat siapa yang di maksud dari Gun sang sahabat yang kini berada di sampingnya. 

"Seperti nya memoriku terbatas," kekeh Mix ringan. Sungguh ia lupa!

Gun memutarkan manik nya malas, dan dengan santainya ia mengatakan pada Mix bahwa pria yang ia maksudkan adalah pria yang sempat membuat kehebohan satu sekolah nya dulu. 

Masih sama Mix hanya mengerutkan keningnya seakan ia benar benar melupakan masa masa sekolah nya, yang dimana seharusnya ia dapat mengingat nya bukan? 

'Mungkinkah dia?' 

"Hah~~ Kau memang pelupa yang handal," keluh Gun menatap adik ipar nya itu. 


——•••——

TBC

Jangan lupa tinggalkan jejak yaa 🥰

See you next chapter

Leave a comment and vote

.

.

CA



Chance [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang