Jika sebelumnya Sea masih tak sadar kan diri pengaruh obat penenang yang di berikan oleh Jimmy, maka tidak dengan kali ini.
Pemuda itu kini telah di bawa oleh salah satu perawat yang berjaga membawa Sea menuju ruangan kerja Jimmy berada.
"Hallo Sea, kita bertemu lagi," sapa ramah Jimmy pada Sea yang sedari tadi kembali seperti sebelumnya dengan tatapan kosong mengarah ke depan.
Jimmy yang memulai tugas nya tentu saja tak lepas mencatat respon respon yang di berikan oleh Sea padanya.
Sejenak Jimmy memberiakan kode pada sang perawat untuk meninggalkan keduanya.
Sang perawat yang memahami kode dari Jimmy segera mengiyakan dan keluar dari ruang tindakan yang Jimmy tempati.
Seulas senyum Jimmy berikan pada Sea, sebelum pemuda itu membantu Sea untuk duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut.
Sebagai seorang yang profesional di bidang nya, maka kini Jimmy mulai masuk dalam situasi dimana ia harus mendapatkan informasi sebanyak banyak nya dari seorang Sea yang notabene secara psikologis tidak stabil.
"Sea, apa kau pernah mendengar mengenai aku melalui Ibumu?"
Butuh beberapa menit bagi Sea untuk mencerna pertanyaan dari Jimmy.
Tunggu...
Bukankah pertanyaan nya tak sesuai dengan yang seharusnya ia gali?
Benar, hanya saja untuk saat ini Jimmy tak ingin langsung masuk ke inti hal yang mungkin menjadi stimulus atau pencetus atas trauma yang pemuda itu alami.
Manik Sea yang sebelum nya tampak kosong tak menatap nya, tiba tiba saja mulai merespon dan menatap ke arah Jimmy.
'Bingo!' pekik Jimmy dalam benak.
Entahlah mengapa ia merasa senang sekali mendapatkan respon positif dari seorang Sea.
"Apakah aku mengenalmu?" tanya Sea tanpa di duga oleh Jimmy.
Lagi lagi seulas senyum Jimmy berikan, sebelum ia benar benar menjawab pertanyaan dari Sea tersebut.
"Mungkin, hanya saja kita tak sempat benar benar bertemu, aku hanya pernah mendengar bahwa dokter Mix memiliki putra yang cerdas, dan selalu di banggakan oleh nya yang kala itu masih berada di sekolah dasar."
Sea tampak berfikir keras berusaha mengingat sebuah hal yang mungkin ia lewati.
"Kau ... pemuda itu? Kau yang hampir di kenalkan oleh Mommy sebagai kakak ku?" tanya Sea tiba-tiba.
Kali ini justru Jimmy yang di buat kaget oleh respon Sea. Benarkah Mix mengatakan demikian pada Sea kala itu? Apakah dia benar benar mengecewakan Mix yang tiba tiba saja menghilang?
Jimmy menegukkan salivanya kasar sembari menatap ke arah Sea.
Tak lama mau tak mau Jimmy menganggukan kepala nya, ketika melihat Sea yang seakan menunggu akan jawabannya itu.
"Woah, sempit sekali. Salam kenal aku Sea," ujar Sea yang tiba tiba mengulurkan tangannya pada Jimmy.
Mau tak mau Jimmy membalas uluran tangannya pada Sea, dan mengenal kan dirinya sebagai Jimmy.
"Ah ..."
Manik Sea tampak menatap Jimmy dari atas hingga bawah.
"Ada apa? Mengapa menatap ku demikian? Rileks saja anggap saja aku sebagai kakak atau orang dekatmu barangkali?"
Sejenak Sea tampak serius mempertimbangkan kalimat dari Jimmy tersebut. Jujur saja saat Sea menyadari bahwa pemuda di hadapannya tak lain adalah dokter yang seingatnya sebelumnya ada di kamar rawat inap nya membuat keraguan dalam dirinya.
Apakah orang yang ada di hadapannya dapat ia percaya?
Gelengan tanpa suara tiba tiba saja menjadi respon dari seorang Sea.
Jimmy mengerutkan keningnya, dan menyadari arah pandang Sea yang tak lepas dari jaket putih yang ia kenakan itu.
"Jika kau terganggu dengan jas ku, maka aku akan membuka nya untukmu," ujar Jimmy yang entah mengapa kali ini ia jauh lebih santai pada pasiennya.
Anggukan kepala pelan yang Sea berikan pada Jimmy.
'Aneh, mengapa ia seperti tak menyukai dokter? Apakah aku melakukan kesalahan atau mengganggu pemikiran alam bawah sadarnya?'
Setelah Jimmy melepas jas dokter nya Sea terlihat lebih santai kembali.
"Mengapa kau pergi waktu itu? Aku sempat sekilas mendengar bahwa Mommy terkadang membicarakan mengenai dirimu pada Daddy."
"Begitukah?"
Anggukan kepala lagi lagi Sea berikan pada Jimmy disertai senyuman tipis nya.
'Lucu.'
'What the hell!! Apa - apaan ini? Mengapa aku-' Batin Jimmy dalam hati tak menyelesaikan kalimat nya.
Rasanya ia ingin merutuki dirinya sendiri lantaran merasa ada yang aneh dalam dirinya.
"Ah, aku merasa tak enak dengan dr. Mix jadinya. Waktu itu aku di minta Daddy ku untuk membuat dua pilihan, dan aku memilih melanjutkan pendidikan ku di luar dari negara ini dengan pilihan jurusan kedokteran, karena jujur saja aku terinspirasi dari Ibu mu. Jika saja dulu aku tak bertemu dengan Ibu mu, aku tak yakin akan menjadi seperti sekarang."
Sea yang mendengar perkataan Jimmy yang terselip kalimat penyesalan karena tak sempat mengabari sang Ibu menjadi berempati pada pemuda di hadapannya itu.
"Jika saja dulu kau tak pergi dengan cepat mungkin kita sudah berteman sejak dulu," ujar Sea tiba tiba.
Jimmy tersenyum dan mengiyakannya. Lagi pula hal itu paling memungkinkan dan masuk akal.
"So, bisa jelaskan pada ku mengenai dirimu?"
"Untuk? Ah ... karena kau dokterku?"
Gelengan kepala cepat Jimmy berikan pada Sea sembari menaruh tablet yang sedari tadi ia pegang. Ia sadar bahwa Sea tak akan terbuka padanya jika dirinya sebagai posisi dokter dan pasien.
"Sebagai seorang teman," ujar Jimmy menekankan kalimatnya pada Sea.
Ada sedikit rasa lega yang tak beralasan Sea rasakan dalam dirinya.
"Aku anak sulung dari kedua orang tuaku yang sangat penyayang, mereka selalu menjadi orang tua yang open minded dan memahami anak anak nya. Aku memiliki seorang adik yang jauh lebih aktif dan jahil dariku, tetapi aku sangat menyayangi nya, karena bagaimana pun juga kami terbiasa bersama serta saling melindungi satu sama lain. Aku tak terlalu memiliki banyak teman seperti adikku, hanya saja aku memiliki tiga saha—"
Manik Sea tiba tiba saja berair dengan tangan terkepal dan dada nya mulai terasa sesak dengan nafas yang mulai terasa tak beraturan.
'Shit!'
"Sea dengarkan aku, tatap aku, dan atur nafas mu mengikuti perintahku," ujar Jimmy yang segera mengambil tindakan pada Sea.
Dengan susah payah Sea mencoba mempercayai Jimmy dan mengikuti instruksi yang baru saja di beritahu oleh pemuda itu.
'Mark, Khao, First.' Monolog Sea dalam benak berusaha menghapus bayangan bayangan menyedihkan yang kembali terbayang oleh nya.
"Se..- Selamatkan te..-teman temanku," ujar Sea berusaha berbicara ditengah dirinya mengatur nafasnya mengikuti gerakan dari Jimmy.
Hanya sebuah anggukan kepala dengan tangan Jimmy yang entah dari kapan telah menggenggam tangan Sea erat.
'Aku akan mengusahakan yang terbaik untuk mu Sea. Aku berhutang banyak pada Ibumu dulu.'
——•••——
TBC
See you next chapter
Leave a comment and vote
.
.
CA
KAMU SEDANG MEMBACA
Chance [END]
FanficBerawal dari kehidupan seorang pemuda yang terasa monokrom-tak berwarna sedikit pun, di dukung dengan lingkungan yang membentuk pribadi nya menjadi disiplin, kaku dan acuh. Tak menyangka akan mendapatkan sebuah kesempatan untuk membalas 'hutang bud...
![Chance [END]](https://img.wattpad.com/cover/361860985-64-k829318.jpg)