Wajah Sea semakin memucat dan nafasnya mulai terdengar tersengal di pendengaran Neo yang masih duduk di bangku pengemudi.
"Phi, P'Sea," panik Neo yang melihat Sea beberapa kali mulai memukuli dadanya sendiri, dan menjambak rambut nya kasar.
Tanpa aba aba, Neo mencoba menghubungi Jimmy dengan speaker handphone dalam kondisi aktif, sembari dirinya kembali menginjak pedal gas menuju ke arah rumah sakit.
Tak butuh waktu lama Neo dapat mendengar suara Jimmy.
"Ada yang—"
Belum sempat Jimmy menanyakan lebih jelas pada Neo akan tujuannya menelfon dirinya, suara teriakan pelan dan nafas tersengal kesakitan terdengar jelas di seberang telefon.
"Tolong aku dok, Phi ... Phi tak mendengarku, dia terlihat sesak nafas," ujar Neo mencoba menahan isakannya dengan sesekali menatap Sea.
"Kalian dimana? Bawa Sea ke rumah sakit sekarang," ujar Jimmy tegas tanpa ada berbasa basi.
"A..-aku sedang menyetir ke rumah sakit."
"Tolong dekatkan handphonemu pada Sea."
Neo tentu saja mendengar instruksi dari Jimmy dengan baik, untuk itu handphone miliknya yang semula ia geletakan begitu saja di dashboard kini ia taruh di pangkuan Sea.
"Sea, bisa kau dengarkan suaraku?"
Hening tak ada sambutan jawaban dari seorang Sea pada Jimmy.
"Sea, ini aku ... pejamkan matamu, dan coba kau berkonsentrasi dengarkan suara ku. Aku yakin Sea yang pintar pasti bisa melakukannya."
Hanya suara lembut dan penuh perhatian yang dapat di dengar dari Jimmy yang masih mencoba berkomunikasi dengan Sea.
Semula Sea masih berkelut dengan bayangan bayangan buruk dan juga nafas memburu yang terasa menyesakkan untuknya, hingga Sea mulai mendengar samar samar suara Jimmy yang terdengar menyejukkan di telinganya.
"Sea."
Sekali lagi Jimmy memanggil pemuda manis itu.
Dengungan pelan pada akhirnya dapat Jimmy dengar sebagai jawaban dari Sea.
"Kau ikutin instruksi ku, jika kau tak dapat melakukannya kau dapat berteriak agar aku tahu keadaanmu."
Lagi lagi hanya dengungan pelan yang di berikan oleh Sea.
"Tarik nafas mu dalam dalam, dan kau hembuskan secara perlahan. Semuanya baik baik saja Sea."
Secara tak sadar Sea mencoba melakukan hal yang di katakan oleh Jimmy.
Sekilas Neo melirik ke arah Sea. Ada perasaan tenang ketika melihat reaksi Sea yang jauh lebih baik di bandingkan sebelumnya yang terdengar histeris nan menyakitkan, walaupun konsentrasinya tetap fokus pada jalanan menuju rumah sakit. Bagaimanapun ia harus tetap sampai di rumah sakit secara cepat.
Ia tak tahu bagaimana kondisi Sea sebenarnya!
Layaknya seperti anak penurut, kini Sea tekah mencoba mengikuti perkataan Jimmy yang berada di seberang di telefon.
"Sea, apakah kau menyayangi sahabat sahabat mu?"
Lagi lagi hanya sebuah dengungan yang di berikan oleh Sea.
"Apa yang kau paling sukai dari sahabat sahabat mu?"
"Kehangatan, aku suka semua yang di lakukan sahabat ku."
Kali ini Sea menjawab pertanyaan dari Jimmy tak lagi hanya berdengung. Rasa rileks kini mulai pemuda manis itu rasakan. Tak ada rasa tegang dan panik yang sebelum nya ia rasakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Chance [END]
FanfictionBerawal dari kehidupan seorang pemuda yang terasa monokrom-tak berwarna sedikit pun, di dukung dengan lingkungan yang membentuk pribadi nya menjadi disiplin, kaku dan acuh. Tak menyangka akan mendapatkan sebuah kesempatan untuk membalas 'hutang bud...
![Chance [END]](https://img.wattpad.com/cover/361860985-64-k829318.jpg)