Mobil Somi dan Wendy berhenti di tempat yang di janjikan. Tidak berapa lama Somi dan wendy langsung menghampiri Jennie bersama bersama dengan Hanks yang bersembunyi.
Sepuluh menit yang lalu Jennie mengabari Somi meminta tolong untuk menjemputnya. Dan disinilah mereka mendapati Jennie dalam keadaan yang bisa di bilang mengerikan.
"Yaa.. Jennie kau tidak apa apa?! Kau tidak rerluka?!" Somi dan Wendy memeriksa tubuh Jennie. Ia terkejut melihat luka yang ada beberapa bagian tubuh dan mukanya.
Jennie menangis begitu melihat Wendy dan Somi menemukannya. Ia menangis seperti bayi. Wendy menenangkannya sembari membawanya masuk kedalam mobil mereka.
"Gwenchana gwenchana kami ada disini ayo masuk dalam mobil" Wendy membantunya masuk kedalam mobil, tidak lupa hank yang berada dalam pet carrier.
Sesampainya di kediaman Wendy dan Somi Jennie di berikan baju ganti dan selimut untuk menghangatkan tubuhnya. Mereka juga menawarkan coklat hangat.
Somi terheran heran melihat keadaan Jennie yang sedemikian rupa berantakan. Ia mengambil kotak P3K untuk merawat luka yang masih terbuka.
"Tahan sebentar Jen ini pasti agak sakit" ujar Wendy mengoleskan obat di luka sayatan di lengannya.
Jennie merintih kesakitan ketika obat itu mengenai kulitnya.
"Bicara pada ku apa yang terjadi padamu jen? Mengapa kau sampai seperti ini" Somi terheran heran sekaligus kesal dengan apa yang di lihatnya. Wanita blonde satu ini memang seperti nya memiliki tempramen yang tidak bisa di kontrol.
melihat Wendy dan Somi bergantian, dengan ragu Jennie menceritakan apa yang terjadi pada mereka apa yang ia alami.
Ekspresi pertama yang mereka tunjukkan hanyalah tatapan shock lalu bersimpati. Tidak menyangka ada seorang pria berstatus suami memperlakukan seperti itu pada istrinya.
"Apa apaan pria itu memangnya dia siapa? Aku tidak takut jika berhadapan dengan pria itu" Somi mengepal ngepalkan tangannya marah.
"Somi, kau tidak melihatnya sendiri kan jadi jangan sok tahu" tukas Wendy.
"Jennie kau sungguh tidak apa apa? Apa perlu kami membawamu ke kantor polisi atau rumah sakit" Wendy penuh khawatir namun Jennie menolaknya.
"Tidak usah.. tapi.. jika aku boleh meminta tolong bisakah kalian membantuku kembali kekorea?" Wajahnya terlihat takut hanya dengan membayangkan apa yang akan terjadi jika ia tetap disini.
"Korea?" Wendy tidak percaya.
"Kau ingin kembali kekorea? Dengan keadaan seperti ini?" Somi menimpali.
"Setelah aku ada disana aku baru bisa menuntutnya karena pengadilan disini tidak bisa mengabulkan pernikahan yang dilaksanakan diluar pemerintahan karena tidak adanya bukti maupun saksi yang bisa membuktikan ini"
"Kau ingin menuntutnya ke pengadilan?"
"Tidak hanya itu Aku ingin menceraikannya" ucap Jennie. Wendy dan Somi terdiam.
"Baiklah kami akan mencari cara untuk membantumu kembali ke korea"
Setelah pembicaraan itu Jennie di perbolehkan menginap disana beberapa hari sampai dengan kesehatannya pulih.
Jennie menempati kamar Wendy yang bersebelahan dengan Somi di apartemen mereka. Ketika Ia berada di dalam kamarnya ia tidak sengaja mendengar percakapan Wendy dan Somi.
Somi menahan lengan Wendy yang hendak keluar dengan wajah sedikit kesal. "Sebentar ikut kau ikut aku dulu"
Wendy menarik Somi menjauh dari pintu."kau sudah memikirkannya matang-matang?"
"Kau tahu hukum di korea dan Jerman berbda kalau dia benar benar melakukan kejahatan kita juga akan terkena dampaknya" ucap Somi menatap khawatir kekasihnya.
"untuk itu aku sudah memikirkan caranya. Itu tidak masalah aku mengurusnya nanti. Kau tahu aku ini pengacara yang handal?
"Wendy kau... kau tidak ingat status kita bagaimna" Somi menjerit mendengar penjelasan Wendy
"kecilkan suaramu. Kau membuatnya malu, lagian apa kau tidak kasian dengannya?" Wendy membekap mulut Somi sembari melihat kepintu sekilas.
"Kau pikir pemerintah akan membiarkannya begitu saja?!" Tidak terima Somi masih saja mengoceh
"Kita bisa memikirnya itu belakangan. Lagipula kita bisa mengerjakannya lagi nanti" Ucap Wendy yang seorang yang bekerja di bidang kriminal dan laws.
Namun tiba tiba pintu itu terbuka. Terlihat Jennie yang sudah mengganti baju memperlihatkan wajahnya. "Aku akan menggantinya" ucap Jennie. "Aku punya sedikit simpanan di korea. Setelah aku memenuhi persyaratan pengadilan perceraiannya dan mendapatkan kembali milikku aku akan mengganti uang kalian"
Wendy melirik Somi dengan tajam "sudah ku bilang sebaiknya kau diam saja"
"Maaf jen kau harus mendengarnya, masalah menggantinya bisa nanti saja. Aku akan coba mencari penerbangan terdekat beberapa hari ini" ucap wendy mendekati Jennie membawanya kembali keruang tengah.
"Terimakasih atas bantuan kalian" ucap Jennie tulus.
_
Jaehyun terbangun terkena sinar matahari yang menyeruak dari jendela kamarnya. Kepalanya terasa pening akibat luka juga sisa wiski semalam. Ia melihat ruangan kamar itu porak poranda seperti sehabis terjadi penjarahan, padahal karena ulahnya sendiri.
"Jennie..?" Ia memegangi kepalanya bersimbah darah menanggil Jennie.
"Babe? Where are you?"
Ia bangkit keluar dari kamar mencari gadis itu di seluruh sisi rumah namun tidak terlihat jejaknya sama sekali. Ia tidak melihat Jennie ada disana.
Ruang tempat dimana Hanks biasa bersantai pun kosong. Hanya terdapat sisa makanan yang masih ada di dalam mangkuk nya.
Setelah itu ia baru sadar pintu rumah dan pagarnya terbuka.
"Shibal!" Jaehyun mengumpat lalu menelepon seseorang dengan ponselnya.
"aku tidak mau tau cari dia sampai dapat!!"
_
tbc
Next, Minggu berikutnya he..
KAMU SEDANG MEMBACA
SECOND CHANCE : Love will [✓]
FanfictionFinish : May 31, 2024 Discription : Tiga tahun masa pernikahan Jennie dan Jaehyun ternyata tidak berjalan lancar. Jaehyun sama sekali belum pernah menyentuh Jennie dan 'mengurungnya didalam rumah mewahnya tanpa di beri nafkah yang layak seakan ingi...
![SECOND CHANCE : Love will [✓]](https://img.wattpad.com/cover/166402897-64-k832664.jpg)