Author POV
Heza terbangun di tengah malam, kepalanya masih terasa pusing tapi matanya malah terbangun di jam 2 pagi. Sialan.
Heza tahu kalau dia sakit bukan hanya karena memang jatahnya sakit, tapi beberapa hari ini insomnianya semakin memburuk, dia tak bisa tidur dengan baik, bahkan sekalipun dia memejamkan matanya dan memaksakan untuk tidur tetap saja dia tidak bisa terlelap.
Heza tak mengerti kenapa akhir-akhir ini hidupnya terasa tidak sesuai arah, dia tidak tahu kenapa akhir-akhir ini dia jadi kebingungan sendiri, kenapa dia malah merasa insecure tentang masa depannya, ini sama sekali tak pernah terjadi. Heza selalu yakin dengan apa yang ada di depannya dan selalu melangkah dengan pasti ke tempat itu, tapi kali ini dia malah tanpa sadar selalu menanyakan dirinya 'apa dia yakin dengan apa yang di depannya?'.
Apa ini karena rencananya berantakan? atau dia hanya baru menyadari kalau tak semua hal bisa berjalan sempurna seperti keinginannya?
Heza memandang langit-langit kamarnya, otaknya terasa penuh tapi dia tidak tahu apa yang dia fikirkan, dia merasa takut tapi tak tau apa yang dia takutkan. Perasaannya tidak tenang, tapi Heza tidak tau apa sebabnya. Sebelumnya dia tak pernah merasa seperti ini, padahal sebelumnya jadwal kegiatannya gila-gilaan sampai beberapa kali kelelahan, tapi dia tidak merasakan perasaan ini.
Apa ini terjadi karena dia tiba-tiba punya sedikit waktu luang? hingga ada terlalu banyak celah untuk memikirkan hal-hal lain? atau memang ini baru terjadi karena dia sudah mulai harus menentukan jalan lagi?
Heza mengusap wajahnya gusar lalu bangun dan pergi ke dapur untuk membuat teh yang diberikan oleh Bundanya, katanya bisa membantu agar rileks dan bisa tidur lebih cepat. Walaupun tubuhnya masih lemas tapi diam berbaring dan overthinking tak akan lebih baik.
Heza membawa tehnya ke sofa lalu duduk disana dan menyalakan TV tapi hanya menyalakan sedikit lampu agar tidak begitu terang. Menonton TV di jam 2 pagi di ruang tamu terdengar gila, tapi Heza harap itu bisa mengalihkan fikirannya sebentar.
"Bang"
Heza hampir saja menjatuhkan gelas di tangannya saat mendengar suara seorang memanggilnya, saking terkejutnya sampai tangannya terkena sedikit teh panas yang dipegangnya.
"Ahh panas." kata Heza refleks lalu menaruh tehnya di atas meja.
"Maaf bang, bunda ngagetin abang ya?"
"Aku nggak expect ada orang lain disini selain aku bun, makanya aku kaget."
"Maaf ya."
"Nggak papa bun."
"Ngapain jam segini di nonton TV disini bang?" tanya Gita lalu duduk bersama Heza disana.
"Aku kebangun, trus nggak bisa tidur. Jadi aku bikin teh yang bunda kasi waktu itu. Trus pengen aja disini" sahut Heza. Tapi Gita tahu kalau itu bukan hanya sekedar 'pengen aja'.
"Bunda kenapa ada di sini juga?" tanya Heza.
"Bunda denger ada suara TV, jadi bunda keluar buat liat." sahut Gita.
"Maaf ya bun, aku bikin bunda bangun."
"Nggak, emang bunda tidurnya was-was karena takutnya kalian butuh bantuan bunda."
Heza mengangguk lalu melanjutkan untuk minum teh sambil menonton TV di depannya, menyenderkan kepalanya di sofa.
"Ada masalah ya bang?" tanya Gita pada Heza.
"Hmm? nggak."
"Tapi kelihatan kayak ada yang kamu fikirin." kata Gita. Sangat sulit membuat Heza bercerita, tak seperti Justin yang akan langsung datang padanya jika ada masalah.
KAMU SEDANG MEMBACA
18 | Haruto Jeongwoo (Sequel Derana)
Fiksi Remaja'18' is where it ends and where it begins again... ⚠️ Brothership ⚠️ 'Friendly' harsh word ⚠️ Bxg ⚠️ Fiksi
