"Sudah berapa kali kubilang kalau itu bukan kencan!" sergah Rhea seraya meletakkan baki berisi segelas susu cokelat, kopi dan teh di atas meja belajar. "Dan apa yang membuatmu berpikir aku berkencan dengannya?"
Genevieve mengangkat bahu. "Entahlah, bukan aku yang tiba-tiba diajak pergi berduaan dengan seorang pria di akhir pekan. Apalagi kalau bukan kencan?"
Rhea mendengus, menyerahkan gelas teh pada Genevieve dan kopi pada Kathleen. "Sudah kubilang, aku berutang padanya karena telah membantu menyusun proposalku dan aku membayarnya dengan menemani Lucien bertemu dengan staf dari taman botani."
Genevieve mengangkat sebelah alis, melirik Kathleen yang dengan tenang menyesap kopi. "Perasaanku saja atau temanmu ini sedang menampik kenyataan?"
"Bukan hal baru," sahut Kathleen menyembunyikan senyum di tepi gelas. "Lagipula, bukan hal aneh kalau Rhea ternyata menyukai Lucien. Maksudku, Lucien memenuhi kriterianya."
"Kau melupakan satu hal." Rhea mengacungkan jari telunjuk, mencegah Kathleen mengeluarkan omong kosong lainnya. "Aku tidak menyukai Lucien dan Lucien bukan karakter pria dalam novel."
Genevieve mengibaskan tangan. "Teruslah mengelak. Kita sama-sama tahu kalau kalian memang dekat."
Rhea mengembuskan napas panjang. "Aku tidak dekat dengan Lucien, Gen."
"Kau tahu, semakin kau mengelak, semakin Gen akan memojokkanmu, kan?" ujar Kathleen menengahi.
Rhea tidak membalas, memilih untuk menyesap cokelat panasnya sebagai usaha menyembunyikan jengkel. Ia mulai menyesal mengizinkan Genevieve menginap di asrama—gadis berambut cokelat itu baru saja selesai dengan klub teaternya dan terlalu malas untuk pulang—juga membiarkan Kathleen mengungsi ke kamarnya selagi kamar gadis itu diserang oleh laba-laba—Kathleen telah memastikan membuka jendela kamarnya lebar-lebar.
"Jadi, apa yang terjadi sepanjang hari Minggu kemarin?" tanya Kathleen seraya menaruh gelas kopinya di pangkuan. "Kau kembali cukup larut."
Rhea mendesah panjang. Untuk ketiga kalinya ia menceritakan kembali apa saja yang terjadi di hari Minggu. "Kami datang pagi-pagi sekali agar kantor taman tidak ramai, lalu berkeliling nyaris ke seluruh taman. Kami makan siang sambil mengobrol tentang penelitian. Lalu mencari suvenir."
"Itu saja?" telisik Genevieve mencondongkan tubuh penuh minat meski telah mendengarnya dua kali.
"Iya. Hanya itu." Rhea melipat kedua kakinya, duduk di atas ranjang dan berhadapan dengan Genevieve. "Aku tidak tahu cerita macam apa yang ingin kau dengar, tapi kutegaskan sekali lagi. Kami pergi ke sana hanya sebagai asisten dosen dengan mahasiswanya."
Genevieve beradu pandang dengan Kathleen yang berekspresi netra. "Ia menyangkal lagi, bukan?"
Kathleen mengangkat bahu. "Mungkin saja ia tidak mengenal bagaimana perasaan menyukai seseorang?"
"Omong kosong," desis Genevieve. "Ia jelas menyukai karakter-karakter novelnya. Bagaimana bisa tidak menyadari perasaan suka pada Lucien?"
"Mungkin tidak pernah merasakannya langsung pada manusia?"
"Kemungkinan besar begitu."
"Aku masih di sini!" Rhea menggerakkan tangannya frustrasi, kesal menjadi topik pembicaraan saat ia bisa mendengar mereka berdua. "Dan ya, aku tahu bagaimana rasanya menyukai seseorang. Dan tidak, aku benar-benar tidak merasakan apapun pada Lucien. Sekarang, bisakah kita ganti topik? Aku muak menjadi pusat pembicaraan selama satu jam terakhir."
Genevieve memandangnya selama beberapa saat, lalu mengangguk. "Baiklah, apa yang kau dapatkan saat berkunjung ke taman botani? Selain menghabiskan waktu bersama Lucien, tentunya."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Painter and The Butterfly
RomanceRhea Crawford hanya ingin lulus tepat waktu. Ia muak dengan rongrongan sang bibi yang bertanya 'kapan lulus?' dan cacian lain. Namun, atas rekomendasi dari si asisten dosen, Lucien Chen, ia malah terjebak dalam tim paling rumit dengan presentasi kel...
