Twenty Four

54 13 15
                                        

Rhea tidak percaya hari ini akan datang sangat cepat. Terlalu cepat.

Saat Lucien memberitahu kalau pria itu akan mengadakan ujian akhir untuk gelar doktoralnya seusai tahun baru berlalu, bayangan tidak mengenakkan muncul tanpa bisa ditahan.

Apa yang akan terjadi setelah masa studi Lucien berakhir? Bagaimana dengan penelitian mereka? Bagaimana dengan posisi pria itu sebagai asisten dosen Profesor Raymond? Dan ... apakah ia masih bisa bertemu dengan Lucien setelah pria itu merampungkan studi?

Bicara pada kedua temannya adalah sia-sia karena Rhea tahu baik Genevieve maupun Kathleen akan bersikeras untuk mengungkapkan rasa. Langkah yang tidak pernah bisa Rhea bayangkan sebelumnya. Seberapa keras ia mencoba menjelaskan pada kedua sahabatnya, Rhea tahu mereka takkan benar-benar memahaminya.

Belum lagi dengan kehadiran 'tunangan' Lucien, batinnya getir tersenyum muram.

"Hei." Rhea menoleh cepat saat suara rendah yang teduh menyapanya. "Kenapa ekspresimu tegang begitu? Bukan kau yang akan masuk ke ruang sidang."

Rhea mendengus kecil, mengamati Lucien yang menghampirinya dengan langkah mantap. Mengenakan pakaian yang jauh lebih formal dari biasanya, hanya kata 'tampan' dan 'memesona' untuk menggambarkan sosok Lucien hari ini. Aura percaya diri sangat melekat pada imej Lucien.

"Kau ... akan ke mana setelah lulus, Senior Lucien?" Rhea bertanya, mengabaikan pertanyaan Lucien maupun sirat bingung yang terpancar di rupa sang pria. "Hanya penasaran."

"Aku bahkan belum masuk ke ruang sidang," kekeh Lucien. "Kenapa buru-buru begitu?"

Rhea mengangkat bahu, enggan mengutarakan alasan sebenarnya. "Aku ingin tahu kapan aku bisa terbebas darimu."

Lucien memicingkan mata jenaka. "Senang mengetahui akan ada yang merindukanku."

"Siapa pula yang akan merindukanmu?" Rhea mendesah kasar, melirik ruang sidang. Kursi yang tersedia perlahan penuh oleh dosen penguji dan komite. "Kau sudah ditunggu."

"Baiklah." Meski bibirnya setuju, Lucien masih belum beranjak dari posisinya berdiri. Tatapan sang pria melekat pada Rhea, seolah tengah menyingkap isi pikirannya. Sejurus kemudian, Lucien mengusak puncak kepalanya lembut, mengulas senyum tipis yang tak kalah teduh dari suaranya. "Aku masih akan di sini sampai kau dan anggota tim yang lain lulus. Jadi, jangan murung begitu, oke?"

Rhea nyaris membelalak mendengar penjelasan Lucien. Hendak bertanya bagaimana pria itu bisa membaca isi pikirannya, tapi telah terbiasa dengan Lucien yang mampu membacanya semudah buku yang terbuka. Lantas, Rhea hanya tertawa kecil dan menggenggam tangan Lucien yang berada di kepalanya.

"Aku tidak murung, Lucien," tuturnya jujur. "Sana. Profesor Raymond sudah memberi isyarat agar kau segera masuk."

Lucien berdehem pelan, tampak tak rela menarik tangan dari kepalan tangan Rhea. Netra keunguan sang pria tidak berpaling, tak goyah meski mereka tengah diburu waktu. Dalam hati Rhea bertanya-tanya bagaimana orang yang akan menempuh salah satu momok paling mengerikan dalam hidup bisa bersikap sangat santai.

"Kau tahu kenapa aku memintamu hadir?" Rhea menggeleng pelan. Napasnya tercekat saat ibu jari Lucien menyapu bibir bawahnya lembut. "Aku butuh suntikan semangat sebelum sidang."

Rhea memiringkan kepala. "Maksudmu?"

Alih-alih merespons, Lucien menarik sudut bibir Rhea. "Tersenyum."

Bagai menerima perintah, sudut bibirnya tertarik lebih dalam lalu tertawa tanpa bisa ditahan. Dari balik bulu mata, Rhea bisa melihat Lucien yang turut mengulas senyum seakan tawanya menularkan kebahagiaan pada sang pria.

The Painter and The ButterflyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang