Rhea mengerjap saat sayup-sayup nyanyian Rapunzel menyapa indra pendengaran. Dalam hati ia mengumpat pada seseorang yang meninggalkan tirai dalam keadaan terbuka, membuat cahaya matahari yang memancar ganas jatuh tepat di mata.
Ia melempar pandangan ke sekeliling. Ruangan yang didominasi dengan warna putih itu tampak cerah. Meja yang ada di sisi berlawanan dengan jendela penuh dengan kertas, alat tulis dan laptop yang sedang dalam mode tidur—hanya dugaan karena layarnya hitam. Keningnya mengernyit bingung kala mendapati suara pancuran menggema samar.
Aku bukan di kamarku di Edinburgh.
Rhea terkesiap, melonjak bangun dari posisi berbaringnya. Sontak langsung melihat pakaiannya di balik selimut. Masih lengkap.
Masih dengan keadaan bingung, ia berusaha mengingat kejadian semalam. Bukankah seharusnya ia sudah berada di Leicester? Kamar asramanya yang nyaman. Lalu mengapa ia berada di tempat ini?
"Tenangkan dirimu, Rhea. Gunakan sisi logismu!" Ia menarik napas panjang, memejamkan mata untuk merunutkan kejadian sejak kemarin.
Ia ingat menghadiri konferensi hari kedua yang ditujukan untuk diskusi terbuka para akademisi yang hadir di seminar sebelumnya. Ia ingat bersungut pada Lucien yang tidak memberitahunya tentang konferensi ilmiah. Ia juga ingat kereta transit mereka dari Sheffield menuju Leicester terpaksa ditunda karena ada perbaikan rel yang memakan waktu kurang lebih delapan jam—mereka menaiki kereta sore dan sampai di Sheffield nyaris tengah malam. Benar juga. Mereka tidak punya pilihan lain selain mencari penginapan di sekitar stasiun.
Ponsel yang berdering nyaring lagi-lagi mengejutkan Rhea. Meraih ponsel yang ia letakkan di meja nakas saat mengisi daya, desahan napas kasar lolos kala mengintip identitas penelepon dari layar.
"Ya, Bibi Lav?" ringis Rhea saat suaranya serak.
"Kau baru bangun?" tuding bibi Lav tajam. "Anak gadis macam apa yang baru bangun jam segini, hah?"
"Aku ada konferensi sampai malam di Edinburgh, Bi." Ia tahu alasan apapun takkan bisa menggoyahkan bibi Lav jika wanita berkepala empat itu sudah membulatkan tekad untuk menceramahinya.
"Konferensi apa yang sampai malam, hm?" suara nyaring bibi Lav memaksa Rhea untuk menjauhkan ponsel selama beberapa saat. "Lalu siapa yang membiayai perjalananmu ke Edinburgh? Aku tidak akan memberi uang lebih padamu, Rhea. Kau harus bijak dalam menggunakan uangmu."
Bagaimana mau diatur dengan bijak kalau semua uangku kau yang pegang? Gerutunya dalam hati. "Semuanya dibiayai oleh pihak departemen karena yang kuhadiri adalah agenda dosenku, Bi."
Betapa ia berharap menolak usul bibi Lav saat wanita itu bersikeras untuk meneleponnya tiga hari sekali untuk menanyakan kabar. Kini, hidupnya bagai dikejar oleh mimpi buruk. Tidak hanya pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya terpojok, tapi juga ocehan yang tidak ada habisnya mengenai berbagai hal. Kuliah, uang, pekerjaan dan beban yang harus bibi Lav tanggung karena mengurusnya.
Sejujurnya ia sudah muak.
"Kau pergi ke Edinburgh dengan siapa?" tanya Bibi Lav dengan aksen tenggaranya yang kental. "Aku tahu dosenmu takkan melepasmu seorang diri. Kau tidak sekompeten itu."
Rhea tertohok. Dadanya terasa sesak dengan komentar sang bibi. "Memang tidak. Ia mengutusku dan asisten dosennya."
"Jangan bilang laki-laki?"
Rhea menggumam setuju, bersiap untuk omelan dan cibiran pedas.
"Kau hanya pergi berdua dengan laki-laki? Bahkan sampai menginap? Astaga, Rhea apakah kakakku membesarkan seorang gadis murahan?" tanya bibinya bertubi-tubi. "Konferensimu itu hanya bohongan, kan? Kau pergi sejauh itu hanya untuk berkencan dengan kekasihmu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
The Painter and The Butterfly
RomantikRhea Crawford hanya ingin lulus tepat waktu. Ia muak dengan rongrongan sang bibi yang bertanya 'kapan lulus?' dan cacian lain. Namun, atas rekomendasi dari si asisten dosen, Lucien Chen, ia malah terjebak dalam tim paling rumit dengan presentasi kel...
