Twenty Eight

62 15 22
                                        

"Jadi?"

Tatapannya melekat penuh tuntut pada Lucien yang meletakkan secangkir teh di atas meja. Segera setelah serangkaian acara seminar selesai, ia tidak menghabiskan waktu untuk memburu sosok Lucien yang berada di tengah-tengah pembicaraan tentang Alzheimer dan menagih jawaban. Ia bahkan tak sempat untuk tersipu saat Lucien mengusulkan agar pembicaraan mereka dilanjutkan di kamar hotel sang pria.

"Tidak lelah?" tanya Lucien basa-basi. Pria itu telah menanggalkan jas luaran dan menggulung lengan kemeja. "Kau bicara dengan banyak orang hari ini."

"Jangan mengalihkan pembicaraan," sergah Rhea. "Mulai menjelaskan."

Lucien mengulas senyum pasrah seraya menggelengkan kepala. Pria itu mengempaskan tubuh di sofa yang berseberangan dengannya, membuat mereka dengan leluasa beradu tatap. "Kalau begitu aku harus mulai dari mana?"

"Bagaimana dengan Ares? Siapa Ares?"

"Masih ingat dengan cerita tentang organisasi yang menaungiku tempo hari?" Rhea mengangguk singkat. "Organisasi itu bernama White Crow. Sebagian besar yang dilakukan White Crow adalah mengadopsi anak dengan kecerdasan di atas rata-rata untuk mengabdi pada organisasi nantinya. Semacam balas budi. Di White Crow, biasanya kami diberi nama sandi atau nama samaran. Ares adalah namaku di sana."

Bibir Rhea mengerucut. "Kalau begitu, Athena dan Apollo juga bagian dari nama sandi?"

Lucien mengangguk. "Benar sekali."

"Apa kalian selalu menggunakan Dewa-Dewi Yunani sebagai sandi? Sangat tidak orisinil," komentar Rhea setengah mencibir.

Lucien tergelak rendah. "Tidak semua. Hanya dua belas dengan posisi tertinggilah yang berhak mendapatkan gelar Dewa-Dewi Olympus."

"Jadi, kau adalah salah satu dari dua belas orang yang paling berpengaruh di White Crow? Hebat sekali." Matanya menyipit saat Lucien menyembunyikan senyumnya di balik cangkir teh. "Lalu, kenapa Freya berkata kalau semuanya sudah selesai? Apa yang selesai?"

Lucien menyesap tehnya tenang, tidak kehilangan kendali meski Rhea memperlakukannya bagai kriminal yang tertangkap basah. "Penelitian gabungan kita. Sebagai bentuk balas budiku pada White Crow, mereka ingin agar aku mendapatkan paten untuk deteksi homosistein yang kita kerjakan beberapa bulan belakangan."

"Kenapa mereka ingin paten deteksi homosistein?" Rhea merenung sejenak, tenggelam dalam netra violet Lucien yang berbinar jernih. "Tunggu. Maksudmu White Crow ingin mengambil alih kerja kerasmu? Menguasai paten itu untuk kepentingan mereka?"

Lucien menyeringai tipis, mengangguk. "Gadis pintar."

"Kenapa kau biarkan? Bukankah itu kerja kerasmu?" sungut Rhea tak terima. Gagasan bahwa ada orang lain yang merampas hasil kerja Lucien dan menikmatinya untuk kepentingan pribadi nyaris membuat darah Rhea mendidih.

"Sudah kubilang, pekerjaanku sebagai peneliti adalah bentuk balas budi yang bisa kulakukan untuk membayar 'kebaikan' mereka."

"Kebaikan apanya! Daripada kebaikan, bukankah yang mereka lakukan adalah pemerasan?" Rhea melipat kedua tangan di depan dada, memberengut jengkel. "Sebenarnya apa tujuan White Crow? Mengapa ambisius sekali merekrut anak-anak jenius sepertimu?"

Lucien termenung sesaat, menimbang apakah ia harus berkata jujur atau menyembunyikan sedikit kenyataan demi menjaga Rhea. "Tidak banyak orang yang tahu tentang White Crow. Beberapa yang tahu menganggap mereka adalah organisasi amal dengan tujuan mulia."

"Penjelasanmu menyiratkan kalau bukan itu tujuan asli mereka."

"Memang tidak," kekeh Lucien. "Yang benar-benar terlibat tahu kalau tujuan White Crow adalah mendominasi kemajuan beberapa bidang. Salah satunya sains."

The Painter and The ButterflyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang