Lucien mengulum senyum kala merasakan sepasang mata seiras tembaga melekat padanya semenjak mereka menaiki kereta dari Sheffield menuju Edinburgh. Novel yang berada di pangkuan Rhea terabaikan begitu saja lantaran si pemilik lebih asyik mengaguminya dalam diam, bahkan pemandangan indah di luar jendela pun tak lagi menarik.
Panggil ia percaya diri, tapi Lucien yakin Rhea telah menghabiskan setidaknya beberapa menit terakhir untuk menelusuri rupanya.
"Ya, little butterfly?" Lucien mengangkat kepala, menyeringai. "Ada yang yang bisa kubantu."
"Aku tidak berkata apapun." Kening Rhea mengerut. "Dan bisakah kau berhenti memanggilku begitu?"
"Oh?" Lucien menutup map yang berisi data untuk seminar besok. "Lalu aku harus memanggilmu bagaimana?"
Mata Rhea memicing kesal. "Lupakanlah."
Lucien terkekeh pelan, mengamati gadis di hadapannya yang berpura-pura sibuk dengan novel dalam genggaman. "Jadi, ada yang mengganggumu?"
Tanpa menoleh Rhea menyahut, "Tidak ada. Aku bahkan tidak mengatakan apa-apa."
"Pandanganmu berkata sebaliknya." Lucien menjalin jemarinya di atas paha, mencondongkan tubuh. Seluruh perhatiannya kini diberikan pada sang hawa. "Kau mengabaikan novelmu selama ... dua belas menit terakhir."
Rhea berdehem pelan, usaha untuk menutupi gugup. Gadis itu mengerucutkan bibir lalu menutup novel dengan kasar lalu menggulirkan pandangan hingga mereka bersitatap sejenak.
"Jadi, apa yang membuatmu terdistraksi, hm?" seringai jahil tersungging di bibir Lucien, menikmati perubahan ekspresi Rhea yang perlahan-lahan tersipu dan merona.
Gadis di hadapannya berdehem pelan, memasukkan kembali novel ke dalam tas jinjing lalu menatapnya dengan penuh telisik. "Matamu berwarna ungu."
Lucien mengangguk. "Aku menyadarinya."
"Kau juga berhasil menyelesaikan sekolah menengah atas dalam satu tahun. Berhasil meraih gelar sarjana dua tahun setelahnya dan sekarang sedang menyelesaikan studi doktoral," lanjut Rhea. Ada sirat kesungguhan di netra tembaga sang hawa yang memancing rasa ingin tahunya. "Kau cerdas, ralat, kau sangat jenius. Dan kau bukan orang eropa."
Lucien terkekeh geli. "Apa kau sedang melakukan pengecekan latar belakang?"
"Bukannya aku mengecilkan kampusku." Rhea mengabaikan pertanyaan Lucien, menyandarkan punggung pada kursi kereta, berusaha untuk menyamankan diri. "Tapi kenapa kampus ini? Kau bisa masuk ke kampus manapun yang kau suka. Harvard. Cambridge. Oxford. Yang manapun. Lantas, mengapa memilih tempat ini?"
Lagi-lagi Lucien dibuat kagum dengan buah pemikiran Rhea. Gadis yang tak ragu untuk menunjukkan amarah kala mereka berbincang untuk pertama kali itu masih belum berhenti membuatnya terpana.
"Kau tidak perlu menjawab kalau alasannya memang sangat personal." Rhea buru-buru mengibaskan tangan, baru menyadari seberapa lancang pertanyaannya. "Aku hanya penasaran saja."
"Aku mengejar profesor Raymond." Lucien meringis kecil. Ia tak bisa mengatakan yang sejujurnya pada Rhea, tidak ingin gadis itu terlibat lebih dalam dengannya. "Seperti yang kau ketahui, profesor Raymond terkenal dengan penelitiannya yang mutakhir. Aku mengincar itu dan relasinya."
Mata Rhea menyipit, seolah tak percaya dengan apa yang ia katakan. Gadis itu terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang. "Aku tidak yakin itu satu-satunya alasan, tapi tidak akan kubahas lebih dalam."
Lucien tersenyum berterima kasih. "Jadi, kenapa tiba-tiba penasaran denganku?"
"Tidak ada alasan yang khusus." Rhea melempar pandangan ke luar jendela, menunjukkan ketertarikan pada hamparan perairan dengan permukaan yang berkilau oleh pantulan cahaya matahari. "Aku selalu merasa ada yang aneh padamu."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Painter and The Butterfly
RomansaRhea Crawford hanya ingin lulus tepat waktu. Ia muak dengan rongrongan sang bibi yang bertanya 'kapan lulus?' dan cacian lain. Namun, atas rekomendasi dari si asisten dosen, Lucien Chen, ia malah terjebak dalam tim paling rumit dengan presentasi kel...
