Rhea mengulum senyum saat masuk ke dalam gedung departemen kimia. Ia baru kembali dari perpustakaan, berniat untuk meminjam dua buku novel romansa yang akan dijadikan sebagai referensi untuk ceritanya. Seperti biasa, ia menemukan dua kertas kecil di masing-masing halaman awal novel.
Bagaimana dengan rekomendasi novel romansa yang kuberikan tempo hari? Kuharap kau menyukainya.
Pernahkah kau berharap menjadi karakter perempuan dalam novel? Aku bisa mewujudkannya untukmu.
"Dasar rubah licik," gumamnya seorang diri. Kini, tak ada lagi keraguan tentang identitas pengirim pesan, mengingat ia hanya bercerita hendak meminjam dua buku pada satu orang. "Mau seberapa jauh kau membuatku jatuh?"
Rhea tersentak kala berpapasan dengan seorang gadis bertubuh tinggi saat ingin menaiki tangga menuju lantai dua. Keningnya mengernyit menangkap ekspresi jengkel pada rupa si gadis, tapi saat ingin meminta maaf gadis itu lebih dulu mendelik.
"Lain kali hati-hati!" sergah gadis itu tajam.
Ia tidak sempat membalas ketika gadis itu melewatinya dengan langkah menghentak. Rhea bisa menangkap aroma vanila dari helai jelaga panjang saat gadis itu bergegas menuruni tangga. Berusaha mengingat nama dari gadis yang baru saja ia temui, Rhea mendapati dirinya tak bisa mengingat gadis itu sebagai mahasiswi departemen kimia.
"Orang aneh," gerutunya seraya melanjutkan langkah.
Sampai di lantai tiga, Rhea kembali dikejutkan dengan Kathleen dan Ian yang langsung menghampirinya dengan ekspresi panik. Keduanya bahkan belum melepas jas laboratorium dan masih menggenggam pulpen di salah satu tangan.
"Ada kebakaran?" tanya Rhea berusaha mencairkan suasana. "Kenapa kalian panik begitu?"
"Querida, aku bersumpah. Ini berita mencengangkan!" Ian menggenggam lengannya kuat seolah berusaha menguatkan. "Jangan panik, oke? Kau harus tenang. Jangan gegabah."
Kening Rhea berkerut bingung. "Ada apa? Apa yang terjadi? Gen mabuk dan tidak sadarkan diri?"
"Sembarangan!" tegur Kathleen menahan tawa, tapi tak bisa menyembunyikan cemas. "Tapi aku setuju dengan Ian. Setelah mendengar kabar ini, kau harus tetap tenang, oke?"
Rhea menarik napas panjang, mengisyaratkan agar Kathleen dan Ian mengikutinya. "Oke. Kita semua sudah tenang. Jadi, apa salah satu dari kalian akhirnya bisa cerita apa yang sebenarnya terjadi?"
Ian mengembuskan napas berat, bertukar pandang dengan Kathleen. "Sekitar lima belas menit yang lalu ada seorang gadis cantik yang datang lalu mengobrol dengan Lucien. Ia mengaku sebagai ... tunangan Lucien."
"Hah?"
"Aku juga tidak percaya," imbuh Kathleen melipat kedua tangan di depan dada. "Kupikir ia adalah pria baik yang tidak akan mempermainkan wanita. Siapa sangka, kan?"
"Kita memang belum tahu langsung dari Lucien, tapi jika gadis itu berkata bahwa ia adalah tunangan Lucien ... mungkin saja, kan?"
"Oh ayolah." Kathleen menampar lengan Ian. "Lucien adalah pria jenius yang tampan, tidak heran jika ia menjalin hubungan romansa dengan orang lain. Padahal kupikir ia menyukai Rhea."
Rhea tidak bisa mendengar perdebatan Kathleen dan Ian lagi. Kepalanya terlalu penuh untuk merespons. Pertanyaan berseliweran dalam pikiran. Jika ucapan Kathleen dan Ian bisa dipercaya, maka gadis yang beberapa saat lalu berpapasan dengannya adalah tunangan Lucien, kan?
Ia memejamkan mata, berusaha mengingat-ingat apakah Lucien pernah mengindikasikan bahwa ia memiliki kekasih atau tunangan, tapi nihil. Satu-satunya yang terlintas adalah saat Lucien menatapnya dengan bersungguh-sungguh lalu bertanya apakah ia percaya dengan pria itu. Seulas senyum tipis terukir di bibir. Ia masih ingat dengan jawaban yang diucapkan dengan mantap.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Painter and The Butterfly
RomanceRhea Crawford hanya ingin lulus tepat waktu. Ia muak dengan rongrongan sang bibi yang bertanya 'kapan lulus?' dan cacian lain. Namun, atas rekomendasi dari si asisten dosen, Lucien Chen, ia malah terjebak dalam tim paling rumit dengan presentasi kel...
