Rhea berniat untuk memulai pekerjaannya bersama Lucien selepas kelas siang berakhir. Namun, niat itu terpaksa diurungkan kala Kathleen menelepon, memberitahu Genevieve hangover sembari meracau kalau ia telah menghancurkan segalanya. Mengirim pesan pada Lucien kalau ia tidak bisa hadir pada persiapan pertama, Rhea bergegas menuju kediaman Genevieve.
"Sial, kenapa mulutku tidak bisa dikontrol saat mabuk sih!" Rhea beradu pandang dengan Kathleen di tepi ranjang kala Genevieve yang tenggelam dalam balutan selimut tebal itu kembali memukul bantal. "Lihat apa yang terjadi sekarang!"
Sudah seperti ini sejak ia tiba. Kathleen menyambutnya dengan ekspresi pasrah yang simpatik seraya menepuk-nepuk punggung Genevieve yang bergelung di balik selimut. Saat Rhea bertanya 'apa yang terjadi' tanpa suara, Kathleen hanya mengangkat bahu.
"Gen, ada apa?" Rhea membujuk dengan nada lembut, turut mengusap kepala Genevieve. "Kami tidak mengerti kalau kau tidak menjelaskan."
Isakan pelan menjawab pertanyaannya, membuat Rhea kembali bersitatap dengan Kathleen yang menggeleng putus asa.
"Gen ... ayolah. Bicara pada kami." Dengan perlahan, Rhea mencoba menyibak selimut yang menjadi bentuk pertahanan Genevieve dari realitas. "Ada apa, hm?"
Berantakan. Itulah kata yang paling tepat menggambarkan keadaan Genevieve sekarang. Rambutnya kusut dan blus hitam yang dikenakan tampak lusuh. Riasan yang belum dibersihkan dari petualangan semalam luntur, meninggalkan jejak hitam di pipi sang gadis. Mata Genevieve sembap dan hidungnya memerah. Mengingat bagaimana sifat Genevieve, Rhea tidak heran jika gadis itu sudah menangis semenjak fajar.
"Siapa yang menyakitimu, Gen?" Kathleen bertanya seraya merapikan helaian cokelat Genevieve yang bergelombang, menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. "Siapa yang harus Rhea ajak bicara?"
Rhea mendesis. "Kenapa aku?"
"Karena kau yang paling mengintimidasi di antara kita bertiga," sahut Kathleen ringan. "Itu dan kau meninggalkan impresi menakutkan pada teman-teman kencan Gen di masa lalu."
Protes yang telah berada di ujung lidah terpaksa ditelan kembali setelah menyadari bahwa Kathleen benar. Selama ini, ialah yang berperan sebagai sosok sahabat yang mengerikan saat berhadapan dengan teman kencan mereka berdua—mengingat bagaimana Gen yang gemar berganti teman kencan dan Kathleen yang memiliki pengalaman pahit dengan mantan kekasihnya di masa lalu, Rhea merasa perlu menjadi seseorang yang menegur keduanya.
"Baiklah, baiklah." Rhea menghela napas panjang, menerima kekalahannya. "Jadi, siapa yang harus kuajak bicara kali ini, Gen?"
Genevieve tertawa kecil di sela isakannya. "Bukan siapapun. Karena yang satu ini murni kesalahan bodohku."
"Kau melakukan banyak kesalahan bodoh, Sayangku, tapi kali ini apa?" Kathleen bergurau seraya menyeka jejak air mata Genevieve di pipi, mengabaikan tatapan tajam yang menghunjam ke arahnya.
Genevieve mencebik, merenung sejenak. "Kalian tidak akan menghakimiku kalau aku mengaku?"
Rhea mendesah kasar, berpura-pura kesal. "Oh, ayolah, Gen. Kami sudah menyaksikan bagaimana kau saat menonton film horor, juga saat kau mabuk dan bersikeras kalau kau adalah bintang dunia lalu bernyanyi sekeras mungkin di tengah jalan. Apa kesalahanmu kali ini lebih memalukan daripada itu?"
"Aku bersumpah gendang telingaku tidak akan pernah pulih setelah kejadian itu," timpal Kathleen jenaka.
Genevieve memukul selimut kesal. "Kalian berdua ini temanku atau bukan? Kenapa malah bersikap seperti musuh dalam selimut?"
"Mengamati bagaimana selimutmu penuh dengan air mata dan lendir, aku tidak ingin bersembunyi dalam selimutmu."
"Rhea Crawford, aku bersumpah!"
KAMU SEDANG MEMBACA
The Painter and The Butterfly
RomansaRhea Crawford hanya ingin lulus tepat waktu. Ia muak dengan rongrongan sang bibi yang bertanya 'kapan lulus?' dan cacian lain. Namun, atas rekomendasi dari si asisten dosen, Lucien Chen, ia malah terjebak dalam tim paling rumit dengan presentasi kel...
