Tiga musim telah berlalu sejak Rhea menyatakan perasaannya pada Lucien. Tiga musim paling berkesan dalam hidup setelah orang tuanya tiada. Tiga musim yang serupa dengan roller coaster. Tiga musim untuk mengenal Lucien lebih baik. Bahagia dan sedih berbaur menjadi satu.
15 Februari
"Lucien, aku tahu kau yang menyematkan pesan anonim pada novel yang kupinjam dari perpustakaan!" seru Rhea kala menemukan secarik kertas pada novel misteri yang baru-baru ini ia pinjam. "Kenapa kau terus melakukannya?"
Lucien melongok dari arah dapur, mengulas senyum tipis yang tampak teduh. "Sesederhana karena aku suka senyum saat kau membacanya."
Rhea terkesiap, meletakkan novel di atas meja ruang tengah. "Jadi benar, kau yang selama ini mengirim pesan anonim! Kenapa melakukan itu? Saat pertama kali melihat pesanmu, kupikir aku punya penguntit mengerikan."
Pria berhelai jelaga itu tergelak rendah, mengangkat sebelah lengannya untuk menyambut pelukan kendur sang hawa. "Awalnya hanya itu melihat reaksimu, tapi setelah mencuri dengar dari Stuart kalau kau diam-diam menyukainya, kuputuskan untuk terus menyelipkan catatan kecil."
Ia membenamkan wajah di kaus kebesaran sang pria, menghidu aroma menenangkan yang bercampur dengan cokelat hangat. "Bagaimana kau bisa tahu buku apa yang akan kupinjam?"
"Observasi sederhana, Little Butterfly." Lucien menyurukkan hidung pada puncak kepala sang gadis. "Itu dan sering kali kau membeberkan novel yang membuatmu tertarik."
Rhea mendengus kecil, menerima secangkir besar cokelat hangat tanpa banyak protes. Diam-diam menunggu komentar apa lagi yang akan Lucien berikan setelah ia menyelesaikan novel misteri di awal minggu.
***
8 Maret
"Lucien," panggil Rhea seraya menyandarkan bahu pada kusen pintu ruang kerja sang pria. "Kau tahu sekarang jam berapa?"
Kekasihnya melirik jam digital di tepi meja, bersebelahan dengan terarium pemberiannya tahun lalu. "Hampir jam tiga?"
"Jam tiga pagi, kalau boleh kutambahkan," sergahnya setengah mengantuk. Suasana hatinya memburuk saat ia tidak menemukan Lucien di manapun setelah pria itu berjanji tidak akan melanjutkan pekerjaan di akhir pekan. "Mulai berbohong padaku, hm?"
"Aku tidak berbohong padamu." Lucien beranjak, melangkah lebar mendekati gadisnya. Senyum tipis terkulum saat Rhea menepis ringan tangannya saat ia hendak merangkul, tahu bahwa gestur itu hadir karena kekesalan semu. "Aku hanya mengecek surel untuk memastikan laboratorium di Cina tidak ada kendala."
Rhea mendecak jengkel. "Di tengah malam? Surel macam apa yang datang di tengah malam, Profesor Lucien?"
"Seseorang terlalu mengantuk sampai tidak menyadari adanya perbedaan waktu." Lucien menjawil puncak hidung gadisnya, membawa Rhea ke dalam pelukan. "Di Cina sudah siang, Little Butterfly."
Keningnya berkerut dalam, mencoba memikirkan perbedaan jam antara Inggris dan Cina. Dengusan pelan melesak kala mengingat Cina 8 jam lebih awal dari tempat mereka sekarang. Merutuki kebodohannya, Rhea menyandarkan kening pada bahu Lucien sebagai permintaan maaf tak terucap.
"Kembali tidur, hm?" bisik Lucien. Jemarinya tersisip di antara helaian jelaga sang hawa, memijat pelan belakang kepala Rhea.
"Tidak bisa tanpamu," gumam Rhea serak.
"Manjanya ...."
***
29 Mei
"Bisakah kau berhenti melakukannya!" Suara Rhea meninggi, mengejutkan Lucien yang berniat untuk meraih buku jurnalnya. "Aku tahu kalau kau jenius dan semacamnya, tapi urusi masalahmu sendiri, Lucien. Aku tidak perlu bantuanmu!"
KAMU SEDANG MEMBACA
The Painter and The Butterfly
RomanceRhea Crawford hanya ingin lulus tepat waktu. Ia muak dengan rongrongan sang bibi yang bertanya 'kapan lulus?' dan cacian lain. Namun, atas rekomendasi dari si asisten dosen, Lucien Chen, ia malah terjebak dalam tim paling rumit dengan presentasi kel...
