Twenty One

65 13 23
                                        

Suara goresan pulpen di atas kertas menyatu dengan deru cerobong asam dan embusan angin yang membawa aroma khas musim dingin dan kekayuan dari pohon yang telah meranggas. Di antara alat-alat kaca dan meja yang berserakan, Rhea hanya seorang diri di laboratorium. Kathleen dan Ian harus menemui profesor Raymond untuk melaporkan perkembangan persiapan mereka untuk konferensi ilmiah, sedangkan Lucien berkunjung ke gedung psikologi.

Sibuk menulis cerita yang tengah ia garap sembari menunggu reaksinya berjalan, tangan Rhea tiba-tiba berhenti saat menyadari bahwa ia baru saja menulis adegan si teman masa kecil yang datang untuk menyuruh pemeran pria menjauhi pemeran wanita. Merutuk perubahan alur yang tiba-tiba, Rhea tahu pikirannya telah dipengaruhi oleh kejadian kemarin.

"Siapa orang itu?" gumamnya seorang diri, mengetukkan ujung pulpen pada buku jurnal. "Dan apa hubungan Lucien dengan David Moss?"

"Bicara seorang diri, little butterfly?"

Rhea berjengit saat suara rendah menyapa indra pendengaran. Merengut saat Lucien terkekeh saat memasuki laboratorium kimia organik, mulai terbiasa dengan kebiasaan sang pria yang gemar mengejutkannya.

"Ada sesuatu yang kupikirkan," balas Rhea tanpa mengalihkan pandangan dari sosok Lucien.

Lucien termenung, mengangkat sebelah alis seraya menaruh map tebalnya di meja paling depan. "Sesuatu yang berkaitan dengan penelitian atau petualanganmu kemarin?"

"Petualanganku kemarin." Rhea memutar kursi, berhadapan dengan Lucien yang menunggunya dengan sabar. "Kau keberatan kalau aku menanyakan sesuatu yang ... sangat personal?"

Lucien menggerakkan tangan seolah mempersilakan Rhea untuk bertanya.

"Selain hubungan kerja sama di masa lalu, apa hubunganmu dengan David Moss terbilang dekat?" tanya Rhea penuh pertimbangan. "Maksudku apakah kalian teman lama atau sering minum teh bersama kalau senggang?"

Ekspresi Rhea berubah masam saat Lucien menipiskan bibir seakan menahan diri untuk tidak tertawa. Ia melipat kedua tangan di depan dada, memberi isyarat bahwa ia serius dengan pertanyaannya. Matanya memicing saat Lucien menggeleng pasrah seraya mengulum kekeh.

"Tidak. Selain berada dalam kelompok penelitian yang sama, aku tidak ada hubungan apapun dengan David Moss." Lucien beranjak dari kursi, melangkah mendekati Rhea yang termangu. "Mengapa Kucing Kecil ini mengajukan pertanyaan itu, hm?"

Rhea menggigit bibir, bertanya-tanya dalam hati apakah ia harus jujur mengenai kejadian kemarin atau tidak. Terlalu sibuk dengan pikiran membuat Rhea gagal menyadari sosok Lucien yang sudah berdiri di hadapannya dengan tangan terjulur.

"Kalau ...." Rhea membasahi bibir gugup. "Secara hipotesis, kalau seseorang memintaku untuk menjauh darimu dan David Moss, kira-kira apa alasannya?"

Napas Rhea tercekat saat punggung jemari Lucien membayangi wajahnya, tetapi Lucien segera menarik kembali tangannya mendengar pertanyaannya seolah takut menyentuh. Mengangkat kepala untuk beradu tatap dengan netra keunguan sang pria, ia menemukan sirat tajam yang tidak asing. Selayaknya predator yang hendak menerkam mangsa, seperti itulah binar di mata Lucien saat ini.

"Kenapa masalah selalu menghampirimu, little butterfly?" Lucien menghela napas pelan. Sudut bibirnya tertarik lebih dalam. "Dan siapa yang memintamu menjauh dariku, hm?"

Rhea mengangkat bahu. "Orang itu memakai masker dan mengenakan tudung. Aku tidak bisa melihat dengan jelas."

Lucien berlutut di hadapannya, meraih helaian jelaga yang terlepas dari ikatan lalu mengecup lamat rambutnya. Tidak bisa. Jantungnya berdebar terlalu keras hingga ia yakin Lucien mampu mendengarnya dari jarak sedekat ini. Jarak ini ... terlalu intim!

The Painter and The ButterflyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang