Benar-benar di luar akal sehat, batin Rhea tidak percaya.
Rhea tahu kalau pola tidur Lucien sangatlah berantakan cenderung mengkhawatirkan. Namun, setelah berbagi ruang selama beberapa hari terakhir, ia baru benar-benar menyadari bahwa pola makan sang pria juga sama buruknya. Rhea dibuat jengkel ketika melihat Lucien menyeruput mi instan untuk yang keempat kalinya dalam dua hari terakhir.
Menyandarkan bahu di kusen pintu, ia menatap tajam sang pria yang tengah menikmati makan malamnya. Matanya menyipit kala Lucien mengangkat kepala, baru menyadari keberadaannya di sana.
"Ada apa?" Lucien meletakkan mangkuk stereofoamnya, menepuk-nepuk kursi di samping. "Kau mau juga?"
Kening Rhea berkerut, mengabaikan tawaran sang pria. "Apa kau mengandalkan fotosintesis untuk bertahan hidup?"
Lucien mengangkat alis tanpa suara. "Maksudmu?"
"Kau bekerja tanpa henti dengan efisiensi tinggi, tapi konsumsi energimu rendah. Mesin pun iri denganmu." Rhea menyentakkan dagu ke arah mangkuk mi. "Saat makan, kau malah mengonsumsi makanan yang tidak bernutrisi seperti mi instan. Memang sesulit itu untuk memesan layanan pesan-antar?"
Mata Rhea kian memicing saat perlahan-lahan senyum di bibir Lucien mengembang. Ia tetap bergeming ketika Lucien lagi-lagi menepuk kursi di sampingnya. Mendengus kesal, Rhea memutuskan untuk menurut.
"Mengkhawatirkanku?" tanya Lucien jahil.
Rhea mendecak. "Tentu saja. Memangnya siapa lagi yang akan mengerjakan bagian paling kompleks dari penelitian ini juga presentasi di depan sponsor dan media kalau bukan Senior Lucien yang Jenius? Aku tidak mungkin bisa."
Lucien bergumam pelan. "Sebenarnya kau bisa menggantikanku kalau sesuatu terjadi. Kau terlibat dalam penelitian ini sejak awal. Kau juga membantuku mengolah data-data yang didapatkan. Aku yakin kau bisa menjelaskannya di depan media."
"Jangan terlalu percaya diri." Rhea menyandarkan punggung di kursi, melirik layar komputer Lucien yang menyala dan penuh dengan angka dan grafik. Mungkin data disertasi pria itu. "Aku tidak sehebat itu."
"Sebaliknya. Aku malah berpikir kau sehebat itu." Lucien terkekeh pelan saat Rhea mendelik ke arahnya, mengelus tangannya yang berada di atas meja.
Ia mengamati Lucien yang menyantap sisa mi di mangkuk. Dalam diam menelusuri rupa dan garis wajah sang pria. Kantung mata yang kian menggelap menjadi bukti tak terucap seberapa sedikit istirahat yang didapatkan Lucien untuk menyelesaikan penelitian mereka. Pipi sang pria yang kian tirus lantaran lupa makan—Rhea benar-benar tidak habis pikir bagaimana seseorang yang nyaris tidak pernah berhenti bekerja malah tidak lapar. Siapapun yang melihat kondisi Lucien sekarang pasti setuju dengannya kalau sang pria terlalu memaksakan diri.
"Jangan mengalihkan pembicaraan. Kita sedang membahas kebiasaan makanmu yang tidak sehat, Senior Lucien." Rhea mengetuk ujung jarinya di atas meja, meminta atensi Lucien. "Aku bersungguh-sungguh. Kalau pola makanmu berantakan begini, kau bisa tumbang di waktu yang tidak tepat."
Lucien menyeringai tipis, menyeka bibirnya dengan tisu. Netra senada lavender sang pria berkilat penuh makna. Apa yang sedang dipikirkan sang pria, sejujurnya Rhea tidak mau tahu. Terakhir kali Lucien menatapnya begitu, ia terjebak dalam perjalanan panjang menuju Edinburgh dan terlibat dalam penelitian merepotkan.
"Kalau begitu, kau akan bertanggung jawab untuk menu makanku sampai penelitian ini selesai, bagaimana?" seringai Lucien seraya mencondongkan tubuh. "Seekor Kucing Kecil sangat mengkhawatirkanku sampai mengomel. Aku harus melakukan sesuatu untuk meredakan kecemasannya, kan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
The Painter and The Butterfly
RomanceRhea Crawford hanya ingin lulus tepat waktu. Ia muak dengan rongrongan sang bibi yang bertanya 'kapan lulus?' dan cacian lain. Namun, atas rekomendasi dari si asisten dosen, Lucien Chen, ia malah terjebak dalam tim paling rumit dengan presentasi kel...
