Lucien tidak bercanda saat berkata bahwa koleksi bukunya yang luar biasa itu akan menarik atensi Rhea. Gugup yang membelenggu batin selama dua setengah jam perjalanan langsung menguap kala netranya menangkap lima rak buku besar yang berjejer di ruang tengah selayaknya trofi yang dibanggakan oleh sang pria.
Rak yang paling ujung berisi buku-buku non-fiksi. Mulai dari buku bertema psikologi sampai ensiklopedia biologi serta astronomi. Bergeser sedikit, pria itu menyimpan banyak kumpulan puisi maupun prosa dari penulis-penulis ternama. Bahkan ada penyair dari zaman renaisans yang terkenal dengan syair romansanya. Rhea berdecak kagum saat mengenali beberapa karya klasik yang terpajang.
Seolah masih belum mengejutkan, Rhea terhenyak saat mengetahui rumah Lucien memiliki halaman belakang yang luas dengan kebun bunga yang masih bermekaran alih-alih apartemen yang minimalis dan mewah. Rhea bersumpah, indra penciumannya dimanjakan oleh wangi manis dan segar saat angin malam berembus kencang.
Samar-samar, Rhea menangkap suara sendok yang berdenting disusul dengan suara sendal rumah bergesekan dengan lantai kayu. Saat aroma cokelat panas dan Earl Grey terasa di udara, bahunya melesak tanpa bisa ditahan.
"Katakan padaku, apa kau sudah pernah membaca semuanya?" pertanyaan itu lolos dari bibir Rhea dengan sedikit lantang, tidak memalingkan muka dari rak buku ketiga yang tengah diamati.
"Tentu saja. Aku terbiasa membaca di waktu senggang. Selain yang ada di sini, aku juga menyimpan buku yang lain di ruang kerja." Terdengar suara piring cangkir yang ditaruh di atas meja kayu di ruang tengah. "Kau mau teh atau cokelat panas?"
"Cokelat panas, kalau boleh." Mata Rhea memindai keseluruhan rak, kali ini terfokus pada satu baris rak yang memamerkan buku-buku dengan bahasa asing. Keningnya berkerut samar kala menangkap beberapa buku yang ditulis dengan huruf mandarin. "Kau bisa bahasa Mandarin?"
"Apakah kita sedang bermain '20 pertanyaan'?" Lucien terkekeh pelan, geli dengan mereka yang berulang kali bertukar pertanyaan. "Bukankah kau telah menelusuri latar belakangku? Aku berdarah campuran Cina, little butterfly."
"Bisakah kau berhenti memanggilku begitu?" decak Rhea tanpa benar-benar merasa kesal. Keningnya mengernyit kala mendapati buku dengan judul familiar Pride and Prejudice karya Jane Austen dan buku-buku yang ditulis oleh Nora Roberts.
"Sekarang giliranku," sahut Lucien mengabaikan pertanyaan Rhea. "Di antara semua putri Disney, siapa yang paling kau sukai?"
Rhea terkesiap, memutar kepala cepat ke arah Lucien. Ia hendak bertanya bagaimana pria itu tahu bahwa ia suka menonton Disney. Namun, kata-kata yang berada di ujung lidah terpaksa ditelan kembali saat melihat sosok Lucien yang berbanding terbalik dengan imej yang ia tunjukkan di area kampus.
Sang asisten dosen yang biasanya tampak apik dan formal di berbagai kesempatan, kali ini tampak nyaman dengan sweater krem kebesaran dan celana panjang bahan senada. Rambutnya yang setengah kering masih meneteskan air yang jatuh ke leher lalu bergulir ke tulang selangka sebelum menghilang di balik sweater. Dan yang membuat napasnya tercekat adalah bagaimana kacamata berbingkai hitam itu tampak sempurna di rupa Lucien.
"Little butterfly?" suara rendah Lucien menariknya paksa dari lamunan. "Putri Disney mana yang paling kau sukai?"
"Belle." Rhea berdehem kecil. Ia mendekat ke arah sofa, berusaha sebisa mungkin untuk menjaga air muka tetap datar. "Bagaimana kau tahu aku suka putri Disney?"
"Observasi sederhana." Lucien mengerling jahil ke arah Rhea, menekan tombol remote televisi untuk mencari film kesukaan sang hawa. "Saat menginap di Sheffield, kau sempat mengigau tentang orang tuamu dan seseorang bernama Adrian. Hanya setelah Tangled terputar di televisi, barulah kau tertidur pulas."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Painter and The Butterfly
RomanceRhea Crawford hanya ingin lulus tepat waktu. Ia muak dengan rongrongan sang bibi yang bertanya 'kapan lulus?' dan cacian lain. Namun, atas rekomendasi dari si asisten dosen, Lucien Chen, ia malah terjebak dalam tim paling rumit dengan presentasi kel...
