Rhea menyesap jus jeruknya dalam diam, mengamati sekitar dari tempatnya berdiri. Dari balkon, ia bisa melihat jelas kerumunan orang yang berbincang dengan senyum sopan. Alunan musik di aula sekilas teredam oleh bisingnya suara para figur penting dalam dunia akademik bercakap-cakap. Topik pembicaraannya pun terlalu berat untuk dicuri dengar. Regulasi universitas, penelitian dengan terobosan terbaru dan kasus-kasus akademik yang panas saat ini.
Seminar hasil yang diadakan berjalan lancar. Banyak profesor maupun peneliti dari kampus lain kagum dan bertepuk tangan setelah Lucien dan Charles memaparkan hasil penelitian. Pujian dan apresiasi pun dilayangkan. Secercah bangga terbit di benaknya mengetahui bahwa ia turut ambil bagian dalam kesuksesan tim—walau perannya tidak sekrusial Charles maupun Lucien.
Memutar tubuh, Rhea menyandarkan punggung pada pagar balkon. Ia melihat sang senior tampak luwes berada di antara para profesor yang tertarik untuk mendalami topik penelitian mereka, mungkin juga untuk memberi selamat pada Lucien yang akan menjadi kepala laboratorium. Lucien tersenyum sopan, menanggapi pertanyaan yang diajukan dengan tenang dan profesional.
Untuk sesaat ... Rhea merasa ditampar dengan perbedaan mereka.
Bermandikan cahaya lampu aula, Lucien adalah pusat atensi di sana. Dengan sebelah tangan menggenggam gelas tinggi, senyum ramah terpatri juga pembawaannya yang menarik hati, Rhea menyadari bahwa perbedaan mereka bagai langit dan bumi.
Ia meneguk jusnya, menikmati sensasi dingin yang melewati tenggorokan. Matanya bersirobok dengan netra violet dari tepi gelas. Ia menurunkan gelas, mengulas senyum tipis saat ekspresi Lucien melembut. Senyumnya bertahan kala Lucien mengatakan sesuatu pada lawan bicaranya lalu mendekat dengan langkah ringan.
"Kenapa di sini?" tanya Lucien.
"Aku butuh udara segar." Rhea meneguk isi gelasnya lagi. "Baterai sosialku habis terlalu cepat di acara seperti ini."
Lucien mengamatinya dalam diam, lalu menyodorkan gelas dalam genggaman. "Pegang ini untukku."
Kening Rhea mengerut, tapi tetap menerima gelas Lucien. Rasa penasaran mendorongnya untuk menghidu aroma minuman Lucien dan nyaris meringis. "Kau minum alkohol?"
Lucien terkekeh. "Profesor Raymond bersikeras agar kita bersulang, lalu memberikannya padaku."
"Lalu kenapa ia tidak memberikannya padaku?"
"Karena kubilang kalau kau tidak bisa minum alkohol." Lucien melepas jas dan menyampirkannya di bahu Rhea, menyadari angin musim dingin menggigit kulit sang hawa. Ia mengambil kembali gelas dari tangan Rhea, memastikan bahwa ujung jemari membelai pergelangan tangan sang hawa. "Atau kau mau coba minum?"
Rhea menggeleng tersipu, membenahi jaket Lucien yang tersampir di bahu gugup. Ia mengulas senyum terima kasih. "Dari mana kau tahu aku tidak pernah minum alkohol?"
"Analisa sederhana." Lucien melempar seringai tipis. "Kau pernah bilang tidak suka kalau kesadaranmu menumpul. Yang tadi itu pertama kalinya kau mencium alkohol dari jarak dekat, kan? Bukan alkohol dari lab, maksudku. Sisanya hanya tebakanku."
Sebelah alis Rhea terangkat. "Aku tidak mengharapkan hal yang kurang dari pria jenius sepertimu, Senior Lucien."
"Terima kasih atas pujiannya." Lucien menyesap isi gelasnya, mengamati Rhea dari atas sampai bawah dengan senyum penuh arti. "Biar kukatakan kalau kau tampak menawan hari ini, little butterfly."
"Hah?" Rhea terbatuk, menepuk dada pelan. Ia mendelik tajam saat Lucen terkekeh seraya mengusap punggungnya ringan. "Yang barusan itu apa?"
"Bukankah tidak sopan jika tidak membalas pujian?" Lucien tergelak rendah. "Yang tadi itu hanya balasan."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Painter and The Butterfly
RomanceRhea Crawford hanya ingin lulus tepat waktu. Ia muak dengan rongrongan sang bibi yang bertanya 'kapan lulus?' dan cacian lain. Namun, atas rekomendasi dari si asisten dosen, Lucien Chen, ia malah terjebak dalam tim paling rumit dengan presentasi kel...
