Sixteen

64 18 24
                                        


Rhea yakin bahwa pertemuan keduanya dengan David akan sepahit pertemuan pertama. Terlebih saat berpisah jalan di Edinburgh tempo hari, pria itu menunjukkan ketidaksukaannya dengan gamblang. Namun, Rhea tidak menyangka David Moss akan sebegini menyebalkan dan tidak profesional.

Tidak sekali-dua kali David Moss sengaja memojokkannya, mengaitkan posisi sebagai calon sarjana dengan ketidakmampuan untuk menangani berbagai alat canggih yang akan mereka gunakan dalam penelitian. Seolah belum puas, hasutan David berhasil memengaruhi lima anggota lain. Entah sebagus apa performa David atau sepopuler apa pria berambut hitam itu, tapi opininya sangat berdampak pada anggota tim.

"Tidak bermaksud meremehkanmu, Crawford." Netra senada asap David menghunjamnya dari layar. Meskipun sang pria tidak berniat meremehkan, tapi senyum yang terpatri di bibir berkata sebaliknya. "Namun, kita harus realistis. Rasanya berat membebankan tanggung jawab besar padamu. Sungguh. Kami ingin percaya kalau kau mampu, tapi ... pengalaman apa yang kau punya?"

Rhea mengembuskan napas panjang, berusaha menjaga agar air muka tidak berubah. Ada nama baik kampus dan Profesor Raymond yang akan ia pertaruhkan jika meledak sekarang. "Tentu saja. Aku mengerti kekhawatiranmu, tapi kupikir tujuan utama aku diikutsertakan oleh Profesor Raymond adalah menambah pengalaman. Apakah Senior Moss terlalu sibuk sampai kesulitan memanduku selama penelitian?"

Secercah kepuasan terbit dalam benak saat David tertegun diiringi dengan anggota lain yang berdesis 'ohh' dan mengangguk setuju. Bulan akan berhenti berotasi sebelum ia mengalah pada pria yang gemar mencerca orang lain seperti David.

"Tentu saja aku sibuk," dengus David mencoba kembali menarik atensi. "Tujuan utama dari penelitian ini adalah menemukan cara untuk mendeteksi homosistein. Akan ada banyak nyawa yang bisa ditolong jika penelitian kita berhasil. Pikirmu aku punya waktu untuk menuntun seorang amatir sepertimu?"

Rhea terkesiap dengan gaya berlebihan. "Astaga, Senior Moss. Apa yang harus kukatakan pada Profesor Raymond nanti?"

Kening David berkerut samar. "Maksudmu?"

"Bagaimana aku harus mengatakan pada Profesor Raymond bahwa mahasiswa sahabatnya dengan mudah mengecilkan kinerja seseorang tanpa melihat bukti dulu." Rhea menggeleng kecil, memasang rupa kecewa. "Kupikir semua seniorku adalah sosok yang hebat karena memahami bahwa kemampuan seseorang tidak diukur dari posisi mereka sekarang. Kau berhasil membuktikan bahwa aku salah, Senior Moss."

Perasaan serupa memenangkan pertarungan di medan perang membuncah dan menyebar ke sekujur tubuh. Sudut bibirnya tertarik puas. Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada melihat orang semacam David kehabisan kata-kata.

Seharusnya kau tidak meremehkanku, David Moss, Rhea menyeringai dalam hati. Kau bukan bibiku.

Dari tepi layar laptop yang terangkat, ia bisa menangkap seringai sirat geli sekaligus bangga yang terukir di bibir Lucien. Pria yang sejak tadi berusaha menenangkannya, kini turut mengangkat pandangan. Cahaya dari lampu ruang kerja juga laptop yang jatuh menyinari rupa Lucien seolah mempertegas garis wajah sang pria. Selama beberapa detik, mata mereka saling mengunci.

Hanya butuh satu senyuman tulus untuk tahu kalau Lucien setuju dengan apa yang ia lakukan pada David Moss.

"Sudahlah, Moss." Seseorang yang Lucien panggil Charles mulai angkat bicara. Pria pascasarjana yang tampaknya telah melewati kepala tiga itu menyandarkan punggung pada kursi. "Komentarmu terlalu bias. Apa kau sudah pernah bertemu dengan Crawford sebelumnya?"

Sebelum David menjawab, Rhea lebih dulu menyela. "Sayang sekali, aku tidak pernah bertemu dengannya. Aku yakin pasti ingat jika pernah bertemu atau sekadar melihat sosok senior sehebat Senior Moss."

The Painter and The ButterflyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang