Eighteen

76 18 31
                                        

"Kutebak masalahnya berakhir dengan baik?" Lucien menyenggol bahu Rhea dengan bahunya, melirik sang gadis yang tengah mencatat takaran bahan yang akan mereka gunakan. "Kau tampak lebih sumringah hari ini."

Rhea melirik Lucien dengan sebelah alis terangkat. "Dan bagaimana kau tahu masalahku?"

"Kemarin Juarez bercerita," ujar Lucien setengah terkekeh dengan tatapan curiga yang terpancar di netra jelaga sang hawa. "Tidak butuh seseorang yang jenius untuk mengambil kesimpulan sederhana, little butterfly."

Mata Rhea memicing. "Ian cerita apa saja padamu?"

Lucien tergelak rendah, menuang cairan ke dalam labu alas bulat. "Maaf, tapi itu rahasia antar lelaki."

Rhea mendengus geli, mulai terbiasa dengan Lucien dan kebiasaan jahilnya. "Apapun yang kau katakan pada Ian, aku berterima kasih. Setidaknya karena itu ia punya keberanian untuk memberikan jawaban."

"Aku tidak melakukan apapun." Lucien menyangkal dengan senyum tipis. "Keberanian itu sudah ada dalam dirinya. Ia hanya butuh sedikit ... dorongan."

Rhea mengulum senyum tanpa merespons, memilih sibuk dengan neraca analitik sambil mencatat berapa banyak produk yang ia hasilkan dari percobaan pertama kemarin.

Selain dirinya dan Rhea, gedung departemen kimia nyaris tidak berpenghuni mengingat hari ini adalah akhir pekan. Hanya orang yang gila kerja atau ada urusan mendesak-lah yang tetap mendekam di laboratorium saat kebanyakan orang memilih bersantai atau berjalan-jalan.

Menepati janjinya kemarin, Rhea sudah sibuk dengan alat-alat kaca sejak pagi. Meja gadis itu penuh dengan botol gelap berisi cairan yang mereka perlukan juga kertas yang berserakan saat ia datang. Menilai dari berapa banyak botol vial yang berjejer di tengah meja, Lucien tahu Rhea telah mencoba, setidaknya, tiga kali eksperimen untuk mensintesis senyawa mereka.

"Apakah ada alasan mengapa Senior Lucien bersikeras menemaniku di lab hari ini?" Pertanyaan Rhea mengudara saat gadis itu tengah memasukkan bubuk berwarna putih kekuningan ke dalam botol vial yang diberi label '4'. "Kupikir seseorang sepertimu akan sibuk bersantai minum teh di rumah atau berkencan?"

Lucien mengulum senyum geli. "Sekarang, aku sedang melakukannya."

Rhea menoleh cepat, memiringkan kepala dengan sirat tanda tanya. "Melakukan apa?"

"Berkencan," sahutnya ringan. Ada setitik kepuasan yang menyebar dalam dada saat gadis itu terkesiap keras dengan ekspresi syok, lalu perlahan berubah memerah dan memalingkan muka. "Dengan penelitian, maksudku, little butterfly."

"Kau—"

"Mungkin kau berpikir yang kumaksud adalah kencan denganmu?" Lucien memajukan wajah, menyeringai tipis saat Rhea bergeming dengan mata membelalak. "Tenang saja, aku siap kapanpun kau siap. Jadwalku akan selalu kosong jika kau yang meminta."

"Lucien!"

"Ya, little butterfly?" Seringainya melebar tanpa ditahan, terhibur dengan perubahan raut wajah sang hawa yang merona lalu jengkel dan kembali tersipu. "Aku bersungguh-sungguh. Kapanpun kau siap."

Rhea merengut sebal, menunjuk rangkaian refluks di hadapannya. "Lebih baik selesaikan dulu bagianmu sebelum berkhayal. Kita tidak punya banyak waktu sampai presentasi hasil, kan?"

"Dan kau bertanya apakah aku masih punya waktu untuk membaca buku di rumah atau berkencan," pungkas Lucien geli. "Bagaimana denganmu sendiri? Tidak ada janji di akhir pekan seperti kebanyakan mahasiswi?"

"Hidupku hanya seputar perpustakaan, penelitian dan rumah, Lucien," dengus Rhea. "Lagipula aku harus membuktikan kemampuanku. Jangan sampai nama baikmu ikut rusak karena aku, bukan begitu?"

The Painter and The ButterflyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang