Lucien telah menduga bahwa ia akan disambut dengan kursi kosong setelah sidangnya berakhir. Ia sudah memperkirakan Artemis akan memanfaatkan kesempatan ini untuk memperingatkan Rhea. Namun, ada bagian dirinya yang mencelos kala tak menemukan Rhea di laboratorium atau di kelas keesokan harinya.
Mengenal tabiat sang Dewi Pemburu, Lucien tidak heran jika apapun yang dikatakan Artemis mengguncang Rhea hingga tak sudi menampakkan diri di hadapannya. Cukup menusuk hingga gadis itu tidak membalas pesannya selama tiga hari belakangan. Kalau dugaannya benar, maka Artemis akan mengungkit latar belakangnya juga kematian Stefan Crawford.
Setidaknya taktik Artemis jauh lebih efisien, pikir Lucien mengulum seringai masam.
Ia melempar pandangan ke luar jendela. Sudut hatinya yang telah lama tak tersentuh cahaya, kini mendambakan presensi seseorang. Kehadiran yang selalu dekat dengannya beberapa bulan belakangan. Keberadaan yang mendadak lenyap di laboratorium, tempat biasa mereka menghabiskan waktu bersama.
Mata Lucien menajam saat menangkap sosok yang familiar berjalan menuju gedung departemen. Sosok yang mengabaikannya beberapa hari belakangan. Namun, bukan itu yang menjadi fokusnya. Melainkan adanya sosok pria yang menyejajarkan langkah di samping sang hawa.
"Jadi pria itu Adrian, hm?" gumamnya seorang diri.
Ia mengawasi keduanya bagai predator yang mengincar mangsa. Pria itu—yang ia terka adalah Adrian—tengah membicarakan sesuatu yang kelihatannya penting, sementara Rhea menganggukkan kepala seraya menyimak. Ketika keduanya sampai di depan tangga, mereka berdiri berhadapan.
Lucien tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, tapi ia bisa membaca gerak bibir Adrian. "Tanyakan langsung padanya, oke? Gadis nomor satuku bukanlah pengecut."
Gadis nomor satu? Mereka sedekat itu, hm?
Rhea mengatakan sesuatu sambil mengangguk kecil, lalu menyambut pelukan hangat Adrian. Mereka berpisah setelah Adrian membisikkan sesuatu. Gadis itu termangu sekitar tiga menit, menunggu Adrian menghilang dari balik rumah hijau sebelum melangkah masuk ke dalam gedung departemen.
Interaksi mereka terbilang singkat, tapi meninggalkan kesan ... menjengkelkan pada Lucien. Konyol. Ia tidak mengerti mengapa napasnya berat atau sensasi serupa terbakar yang menyebar dalam dada.
"Lucien?" Ia menoleh dari balik bahu saat suara yang familiar menyapa dari muka pintu. "Apa yang kau lakukan di sana?"
"Memperhatikanmu dan Adrian. Kalian sangat dekat, ternyata." Lucien memasukkan kedua tangan ke dalam saku jas laboratorium, mengulas seringai mencemooh tanpa bisa ditahan.
Rhea menyipitkan mata. "Bukankah aku sudah pernah bilang kalau kami adalah teman sejak kecil?"
Lucien berdehem pelan, tidak membalas. Matanya masih lekat memandangi Rhea ketika gadis itu menaruh tas di meja kerjanya. Menelisik garis wajah sang hawa dari samping, ada sepercik cemas yang timbul kala kantong mata Rhea menghitam.
Rhea masih enggan bicara, tapi ia tahu ada ratusan pertanyaan yang menumpuk dalam pikiran sang gadis berhelai jelaga. Mata seiras tembaga Rhea tampak berkaca-kaca. Perasaan bersalah menggenggam batinnya yang selama ini tersembunyi di balik topeng keji. Namun, Lucien tahu pertemuan Artemis dan Rhea tidak terelakkan.
"Tanya saja." Lucien menyeret kursi yang paling dekat dengan Rhea, menunggu gadis itu membuka suara. "Apapun yang ingin kau tahu, aku akan menjawabnya. Semuanya."
Rhea menoleh perlahan, menatap matanya bergantian. "Kau janji akan jujur padaku?"
Ia mengangkat bahu, mengulum senyum. "Apa aku pernah berbohong padamu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
The Painter and The Butterfly
RomanceRhea Crawford hanya ingin lulus tepat waktu. Ia muak dengan rongrongan sang bibi yang bertanya 'kapan lulus?' dan cacian lain. Namun, atas rekomendasi dari si asisten dosen, Lucien Chen, ia malah terjebak dalam tim paling rumit dengan presentasi kel...
