"Aku bersumpah Patricia Wells adalah perempuan paling menyebalkan yang pernah kutemui!" Genevieve menaruh nampan dengan kasar di atas meja, mengejutkan Rhea yang asyik dengan buku jurnal dan Kathleen dengan ponselnya. "Gadis itu berlagak selayaknya Ratu Kampus saat ia mendapatkan posisi pemeran wanita utama!"
Rhea mengulum kekeh, sudah terbiasa dengan ledakan amarah Genevieve jika berurusan dengan Patricia. "Apa lagi yang ia lakukan padamu, Gen?"
"Jangan gunakan nada sok bijak itu padaku, Rhea." Genevieve melirik Rhea kesal. "Setelah ditunjuk menjadi pemeran utama untuk festival seni, ia berpikir bahwa dunia telah berada dalam genggaman. Bagaimana bisa gadis itu berpikir setelah keberuntungan kecil, ia bisa memerintah seenaknya di laboratorium?"
Kathleen mengangkat kepala, menaruh ponselnya di atas meja kafetaria. "Ia mendapatkan peran utama bukan karena keberuntungan, Gen."
Genevieve mendelik tajam. "Kau ini temanku atau si Ratu Kampus itu, hah?"
Kathleen mengangkat kedua tangan pertanda menyerah, sementara Rhea tertawa pelan. Bukan pemandangan yang aneh ketika emosi Genevieve meledak-ledak dan Kathleen meresponsnya dengan fakta selayaknya menyiram bensin pada api.
Rhea tertawa pelan mengamati interaksi kedua temannya. Genevieve yang terlampau ekspresif sekilas memang tidak cocok dengan Kathleen yang pasifis. Namun, setelah mengenal keduanya, Rhea memahami sisi pemalu Genevieve yang sesekali muncul dan geramnya Kathleen setelah sumbu sabarnya telah terbakar habis. Singkatnya, mereka berdua saling melengkapi.
"Memangnya Profesor Anderson tidak mengomentari sikapnya yang semena-mena?" tanya Rhea tanpa melihat Genevieve, terlalu sibuk dengan ide yang berseliweran dalam kepala untuk segera diabadikan dalam bentuk tulisan. "Dan teman timmu yang lain? Mereka tidak keberatan dengan sikap Patricia?"
Genevieve mendecih. "Profesor Anderson terlalu sibuk dengan projek di luar kampus sampai menelantarkan kami, tahu. Dan Matthew terlalu asyik mencium kaki Patricia untuk peduli. Aku bersumpah Matthew akan membayar berapapun agar Patricia bersikap semena-mena padanya."
"Ew." Kening Kathleen berkerut jijik. "Aku tidak perlu tahu informasi yang itu."
"Bayangkan kalau kau jadi aku!" Genevieve menggerakkan tangannya frustrasi seraya mengunyah roti lapis yang terlalu banyak mayonais. "Betapa aku berharap bisa ikut kalian untuk bergabung dalam tim Profesor Raymond. Setidaknya beliau tidak akan menelantarkan mahasiswanya."
Rhea tergelak rendah. "Memang, tapi kau diwajibkan untuk ikut serta dalam konferensi ilmiah maupun penelitian gabungan sebagai perwakilannya. Sanggup?"
Genevieve menghela napas berat. "Kalau bisa bersama kalian, aku tidak keberatan. Otak kalian jauh lebih cerdas, jadi kalian bisa membantuku."
"Maksudmu, kau tidak keberatan kalau bersama Ian?" tanya Kathleen mengerling jahil. "Kau pergi minum dengannya lagi beberapa hari lalu, kan?"
"Karena hanya Ian yang bisa menemaniku." Genevieve meremas kertas bekas roti lapisnya. "Kau sedang menginap bersama adikmu dan Rhea selalu menolak kalau kuajak minum. Siapa lagi yang bisa menemaniku?"
Rhea mengulas senyum penuh minta maaf. Terlepas dari ketidaksukaannya pada alkohol, ia juga tak bisa berada di tempat yang terlalu banyak orang. Terlebih jika sebagian besar gerombolan itu kehilangan akal sehat karena pengaruh alkohol. Setelah apa yang terjadi pada ayahnya, Rhea bersumpah tidak akan menyentuh atau berada dekat cairan memabukkan itu.
"Kau bisa bertanya padaku jika ada yang tidak kau mengerti." Rhea mengusap lengan Genevieve menenangkan. "Aku tidak buruk dalam Kimia Hijau."
"Tentu saja aku akan bertanya padamu," cibir Genevieve. "Sahabat di saat susah maupun senang, ingat?"
KAMU SEDANG MEMBACA
The Painter and The Butterfly
RomanceRhea Crawford hanya ingin lulus tepat waktu. Ia muak dengan rongrongan sang bibi yang bertanya 'kapan lulus?' dan cacian lain. Namun, atas rekomendasi dari si asisten dosen, Lucien Chen, ia malah terjebak dalam tim paling rumit dengan presentasi kel...
